Alpen Steel | Renewable Energy

~ Peluru Logam Dilontarkan Medan Elektromagnetik

Teknologi Pengganti Mesiu
Prinsip Kerjanya Hampir Mirip dengan Rel dan Kereta Listrik

 

Surabaya, Kompas - Mahasiswa Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Teknik Komputer, Riza Rahadian Saputra, mengembangkan teknologi coilgun untuk persenjataan militer. Teknologi itu menjadi alternatif pengganti bubuk mesiu untuk senjata api.

Riza menjelaskan, teknologi coilgun memanfaatkan medan elektromagnetik sebagai pelontar. Peluru logam akan dilontarkan medan elektromagnetik. Medan itu dihasilkan kumparan tembaga yang dialiri listrik. "Saya melengkapinya dengan pengendali jarak jauh. Jarak lemparan bisa disesuaikan lewat pengaturan listrik yang dialirkan ke kumparan," ucap Riza, Selasa (16/2) di Surabaya.

Prinsip kerjanya hampir mirip dengan rel dan kereta listrik. Medan elektromagnetik meminimalkan gesekan sehingga kereta bisa dipacu sangat cepat. Sebagian besar kereta cepat seperti Maglev di Eropa atau Shinkansen di Jepang menggunakan prinsip teknologi itu pada rel.

Dalam uji coba, purwarupa senjata buatannya mampu melontarkan peluru dengan kecepatan 12,655 meter per detik dengan daya dorong 0,5 joule. Ia menggunakan peluru dengan berat 9,72 gram, panjang 3,5 sentimeter, dan diameter 0,7 milimeter. "Ukuran peluru dan daya lontar bisa disesuaikan," katanya.

Kemampuan sensor

Menurut dosen pembimbing Riza, Ihyaudin, kemampuan memodifikasi kecepatan lontaran merupakan salah satu keunggulan teknologi itu. Alat buatan Riza juga bisa menentukan koordinat sasaran dengan sensor kemiringan. "Dengan pengendalian secara manual atau otomatis, alat ini aman bagi pengguna," ujarnya.

Meski demikian, senjata purwarupa itu masih punya beberapa kelemahan. Pertama, selang waktu pelontaran setiap peluru butuh 1 menit. Hal itu disebabkan proses pengisian ulang energi alat tidak bisa cepat.

Di samping itu, kemampuan sensor juga masih lemah. Maka, sudut elevasi ke arah sasaran masih salah hingga 0,3 derajat. Hal itu berpengaruh pada tingkat ketepatan peluru. "Namun, ini masih bisa diperbaiki menggunakan sensor yang bagus, seperti akselerator atau compass sensor. Pasokan energi juga bisa didongkrak menggunakan inverter yang bagus," tuturnya.

Kelemahan lain, alat itu masih terlalu besar untuk dijadikan senjata ringan dan mudah dibawa. Dibutuhkan teknologi lanjut untuk membuat komponen lebih kecil tetapi berdaya lebih besar ketimbang komponen pada purwarupa.

Senjata purwarupa yang dijadikan tugas akhir Riza itu dikerjakan selama enam bulan dengan biaya Rp 2 juta. Pengembangan lebih lanjut memungkinkan alat itu dijadikan sebagai pelontar roket atau pesawat. (RAZ)

 

Sumber : Kompas


Baca Juga:
Artikel sebelumnya:

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook