Alpen Steel | Renewable Energy

~ 1,5 Juta Penduduk Jalur Gaza Kini Hidup Tanpa Penerangan Listrik

Jalur Gaza Gelap Gulita
Demo Mendukung Pembebasan Gilad Shalit Selama 12 Hari

 

Kairo, Kompas - Sepertiga dari sekitar 1,5 juta penduduk Jalur Gaza kini hidup tanpa penerangan listrik, menyusul tidak beroperasinya pembangkit listrik di Gaza sejak Jumat (25/6) malam akibat kehabisan bahan bakar.

Israel selama ini memenuhi 70 persen kebutuhan listrik Jalur Gaza, Mesir memenuhi 5 persen, dan 25 persen sisanya dipenuhi oleh pembangkit listrik yang ada di Jalur Gaza.

Di Jalur Gaza terdapat 17 aliran kabel listrik, yakni 10 aliran kabel disambung dari Israel, 2 kabel dari Mesir, dan 5 sambungan kabel dari pembangkit listrik yang ada di Gaza sendiri.

Sejak Israel memberlakukan blokade total atas Jalur Gaza mulai Juni 2007, menyusul Hamas mengambil alih kekuasaan secara penuh, penerangan listrik di Jalur Gaza tidak pernah normal. Israel dengan berbagai kedok mengurangi atau bahkan kadang memutus aliran listrik ke Gaza.

Pemasokan solar ke Jalur Gaza terakhir ini menurun tajam setelah Uni Eropa yang bertanggung jawab melakukan pembelian solar untuk pembangkit listrik di Jalur Gaza mengalihkan tanggung jawab pembayaran itu kepada otoritas Palestina pimpinan Presiden Mahmoud Abbas sejak bulan November 2009.

Otoritas Palestina dan Hamas, Sabtu (26/6), saling melempar tanggung jawab atas padamnya sepertiga aliran listrik di Jalur Gaza.

Wakil kepala urusan energi di pemerintahan Hamas, Kan’an Obeid, menuduh otoritas Palestina di Ramallah mengurangi kadar solar yang dipasok ke Gaza dalam upaya melestarikan blokade.

Menurut Obeid, pemerintah di Jalur Gaza telah mentransfer dua juta dollar AS dua pekan lalu ke rekening otoritas Palestina di bank Arab untuk pembayaran bahan bakar listrik yang dipasok otoritas Palestina.

Obeid menambahkan, uang pembayaran listrik di Jalur Gaza yang telah ditransfer ke rekening otoritas Palestina di Ramallah sudah mencapai 15,300 juta dollar AS sejak awal tahun 2010.

Namun, Direktur Penerangan Otoritas Palestina Ghassan Khatib membantah keras tuduhan Hamas itu. Ia mengungkapkan, otoritas Palestina telah membayar 97 persen biaya operasi pembangkit listrik di Jalur Gaza.

Bahkan, Khatib menuduh Hamas membesar-besaran isu krisis listrik di Jalur Gaza untuk mencari simpati dari rakyat guna memojokkan otoritas Palestina di Ramallah.

Bebaskan Shalit

Dalam perkembangan terpisah, ribuan simpatisan serdadu Israel Gilad Shalit yang disekap Hamas di Jalur Gaza sejak bulan Juni 2006 mulai hari Minggu kemarin menggelar unjuk rasa yang akan berlangsung selama 12 hari. Unjuk rasa itu memperingati empat tahun penahanan Shalit. Mereka menuntut PM Israel Benjamin Netanyahu membebaskan tahanan Palestina sebagai imbalan bagi pembebasan Shalit seperti yang dituntut Hamas.

Sejumlah mantan jenderal Israel juga meminta Netanyahu menyetujui transaksi tukar-menukar tahanan dengan Hamas sebagai harga pembebasan Shalit.

Mantan Direktur Mossad (dinas intelijen luar negeri Israel) Danny Yatom mengatakan, Netanyahu sebaiknya membuka perundingan sekarang dengan Hamas, sebab jika menunda terus, harga pembebasan Shalit akan lebih mahal.

Mantan Kepala Staf AB Israel Shaul Mofaz juga menuduh pemerintah Netanyahu gagal membebaskan Shalit. Mofaz meminta Netanyahu membuka perundingan dengan Hamas dan membayar harga bagi pembebasan Shalit itu. (mth)

 

Sumber : Kompas


Baca Juga:
Artikel sebelumnya:

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook