Alpen Steel | Renewable Energy

~ Sumber-Sumber Energi Semakin Hari Kian Langka Dan Menjadi Barang Mahal

Energi untuk Kemakmuran

Sumber-sumber energi semakin hari kian langka dan menjadi barang mahal. Kita memiliki sumber energi terlengkap, tetapi masih menghadapi persoalan.

Minyak bumi, gas bumi, panas bumi, batu bara adalah sumber-sumber energi yang terkandung dalam perut bumi nusantara. Karena itu, kita mendorong pemerintah sebagai representasi negara lebih kuat dan bertenaga dalam pengelolaan sumber-sumber energi nasional. Peraturan-peraturan pengelolaannya harus terutama berpihak secara kuat bagi kepentingan nasional, kemakmuran rakyat.

Bukankah kompetensi dan kapasitas nasional semakin meningkat sehingga sudah saatnya kita melakukan kalkulasi ulang agar kebijakan energi nasional lebih berpihak dan bermanfaat lebih besar bagi bangsa sendiri?

Keinginan itu masuk akal. Sebagaimana kritikan sering dilontarkan banyak pihak, sampai saat ini semua kekayaan itu masih salah urus. Akibatnya, tak jarang industri domestik menghadapi persoalan di bidang energi. Perusahaan Listrik Negara (PLN), misalnya, masih juga bermasalah dalam hal pasokan bahan bakar untuk pembangkitan.

Seperti ungkapan sinis seorang pengusaha di Makassar beberapa hari lalu, bahwa untuk apa kita berseminar tentang pembangunan kawasan timur Indonesia kalau listrik mati-hidup, tak pernah mencukupi kebutuhan. Industri yang ada saja terpaksa menahan produksinya.

Industri pupuk, industri keramik, dan industri karet yang memerlukan gas juga acap kali terbirit-birit kesulitan pasokan. Pekan lalu, keluhan itu masih terdengar di kalangan industri di Sumatera. Padahal, industri keramik dan karet bisa diunggulkan berdaya saing tinggi dalam era perdagangan bebas.

Begitu juga sektor pertanian, mesti diperkuat sebab sektor ini seharusnya menjadi kekuatan ekonomi nasional, karena Indonesia sebagai negara agraris. Apalagi, mayoritas rakyat Indonesia menggantungkan hidupnya di sektor pertanian. Penyediaan pupuk secara tepat volume dan tepat waktu membutuhkan komitmen penuh pemerintah sebagai bentuk pembelaan negara terhadap petani.

Pekan lalu terbetik kabar bahwa mulai tahun 2011 sejumlah pabrik pupuk utama di Indonesia menghadapi ketidakpastian pasokan gas karena kontrak dengan produsen (umumnya usaha asing) gas habis. Padahal, sekitar 90 persen bahan baku pupuk adalah gas. Persoalan gas makin serius karena kebutuhan gas dalam negeri terus meningkat. Apalagi, pemerintah mendorong penggunaan gas untuk pembangkit listrik agar lebih efisien.

”Kami menegaskan, untuk pasokan gas, national first (kebutuhan nasional harus dipenuhi lebih dulu baru ekspor),” kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa.

Sayangnya, serangkaian aturan yang dikeluarkan pemerintah beberapa hari lalu untuk memayungi pernyataan Menko itu dinilai pengamat berpasal karet (kondisional) sehingga tetap ada celah bagi produsen gas untuk tidak menaati kewajiban pemenuhan kebutuhan domestik.

***

 Operasi Moshtarak Bisa Sia-sia

Digelarnya Operasi Moshtarak atau Operasi Bersama, pasukan NATO dan Afganistan, menandai konflik Afganistan mencapai titik kritis.

Operasi Moshtarak merupakan operasi militer terbesar di Afganistan sejak tahun 2001. Lewat operasi militer yang diberi nama Operation Enduring Freedom, pasukan koalisi—Amerika Serikat dan Inggris—mulai 7 Oktober 2001 menggempur pasukan Taliban setelah serangan 11 September 2001, serangan terhadap menara kembar di AS.

Serangan itu dilancarkan dengan dalih kelompok Taliban melindungi kelompok Al Qaida sebagai pihak yang dituding bertanggung jawab atas tragedi 11 September. AS dan Inggris ingin membersihkan Afganistan yang menjadi tempat berlindung kelompok Al Qaeda.

Operasi militer ini—dengan dukungan pasukan oposisi Afganistan, Aliansi Utara—berhasil menumbangkan rezim Taliban. Setelah Taliban jatuh, muncul pemerintahan baru di Afganistan dengan Hamid Karzai sebagai pemimpinnya. Namun, itu tidak berarti bahwa perlawanan Taliban yang dituding sebagai pihak yang melindungi Al Qaeda berhenti. Perlawanan militer mereka terus berlangsung dan bahkan cenderung meningkat serta semakin luas.

Hal itu mendorong dilaksanakannya operasi militer babak kedua yang mendapat restu dari Dewan Keamanan PBB. Dewan Keamanan PBB membentuk Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) untuk mengamankan Kabul dan sekitarnya. Lahirnya ISAF tahun 2001 ini telah menarik NATO untuk bergabung (2003). Tahun 2009, ISAF diperkuat oleh sekitar 64.500 tentara (42 negara) dan pasukan NATO sebagai kekuatan intinya.

Sejauh ini, usaha untuk meredam Taliban dan Al Qaeda dan menciptakan perdamaian di Afganistan dapat dikatakan belum sepenuhnya berhasil. Yang pasti, ribuan penduduk sipil dan ratusan tentara asing tewas dalam perang itu. Sementara itu, Taliban justru mampu membangun kekuatan kembali dan tumbuh menjadi pasukan gerilya yang hidup di tengah masyarakat. Sepak terjang mereka merepotkan baik pasukan NATO dan negara-negara lainnya maupun Pemerintah Afganistan.

Kini, Operasi Moshtarak—gabungan tentara AS, Inggris, dan pasukan Afganistan yang didukung Denmark dan Estonia—diharapkan mampu menghancurkan markas Taliban di Marjah yang diyakini sebagai pusat pembuatan bom yang digunakan Taliban. Marjah juga menjadi pusat pemasok opium, sumber keuangan Taliban.

Akan tetapi, akankah Operasi Moshtarak menjadi pemukul terakhir Taliban di Marjah? Ini pun masih tanda tanya besar. Sebab, selama ini Taliban terbukti mampu menjadi kelompok gerilyawan yang andal dan membaur dengan masyarakat. Inilah yang mungkin akan membuat operasi militer harus dilakukan berulang-ulang. Dan, sekali lagi, rakyat sipillah yang akan menjadi korbannya.

 

Sumber : Kompas

 


  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook