Alpen Steel | Renewable Energy

~ Penyuling Akar Wangi Dari Desa Hegarmanah, Kecamatan Bayongbong, Garut

Menggagas Energi Alternatif bagi Penyulingan Akar Wangi

 

Kenaikan harga minyak tanah pada 2005 sangat memukul pelaku usaha penyulingan akar wangi di Kabupaten Garut. Mereka harus merogoh saku lebih dalam untuk membeli minyak tanah sebagai bahan bakar utama penyulingan.

Tidak hanya itu, pembatasan pembelian minyak tanah pun sempat berdampak buruk bagi penyuling. Tidak sedikit penyuling yang ditangkap polisi karena membeli minyak tanah dalam jumlah besar. Padahal, untuk sekali menyuling, mereka membutuhkan 250-270 liter minyak tanah.

Situasi saat itu semakin mencekik leher penyuling karena di saat harga BBM naik, harga jual minyak akar wangi justru terjun bebas hingga tidak sampai Rp 500.000 per kilogram.

"Waktu itu saya kewalahan mencari minyak tanah karena harus berebut dengan masyarakat. Akhirnya, saya berhenti sementara sekitar dua bulan," tutur Aben, penyuling akar wangi dari Desa Hegarmanah, Kecamatan Bayongbong, Garut, Kamis (26/5).

Kondisi yang tidak bergairah itu pun pada akhirnya memicu alih fungsi lahan akar wangi menjadi kebun-kebun sayuran. Petani tidak mau lagi menanam akar wangi jika harganya Rp 300 per kg dari sebelumnya Rp 1.000 per kg.

Menurut Ketua Koperasi Akar Wangi Usar Kabupaten Garut Ede Kadarusman, separuh lebih penyuling di Garut berhenti beroperasi akibat tingginya biaya produksi. "Akibat naiknya harga minyak tanah, dari 30 penyuling di Garut, yang masih aktif hanya 10 orang. Kebanyakan berhenti sementara 1-2 bulan," ujarnya. Para penyuling terus mencari cara bagaimana mendapatkan bahan bakar yang murah.

Panas bumi

Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM Tjutju Ruhiat menyampaikan, sesungguhnya pemerintah pusat telah menganggarkan pengadaan dua mesin penyulingan berbahan bakar batu bara senilai Rp 1 miliar yang bisa digunakan untuk 10 ketel penyulingan.

Pemerintah provinsi juga sudah siap menyediakan bangunan pabrik. "Hanya saja, bantuan ini belum bisa terealisasi akibat Pemkab Garut tidak memiliki anggaran untuk menyediakan lahan untuk pabrik," kata Tjutju.

Menurut Ketua Asgar Muda Goris Mustaqim, sebenarnya energi panas bumi yang lebih murah dan banyak terdapat di Garut bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar pabrik penyulingan minyak akar wangi. Mesin penyulingan berbahan bakar panas bumi pun sudah ada.

Goris mengatakan, banyak sumur panas bumi yang menganggur dan bisa dimanfaatkan pelaku usaha kecil menengah. "Kalaupun sumur panas bumi lebih dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik, mengapa di Garut saja masih ada desa yang belum teraliri listrik. Justru akan lebih baik bila panas bumi dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat," tuturnya. (Adhitya Ramadhan)

 

Sumber : Kompas

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook