Alpen Steel | Renewable Energy

~ Puluhan Ribu Rumah Sederhana Sehat (RSH) Di Jawa Barat, Belum Tersambung Dengan Jaringan Listrik

10.000 RSH Belum Dialiri Listrik
Masalah Terjadi karena Keterbatasan Trafo

 

Bandung, Kompas - Sekitar 10.000 rumah sederhana sehat (RSH) di Jawa Barat belum tersambung dengan jaringan listrik. Problem yang bersumber dari sulitnya memperoleh sambungan listrik dari PLN itu terjadi merata di seluruh kabupaten/kota di Jabar.

Menurut Ketua Dewan Pimpinan Daerah Real Estat Indonesia (REI) Jabar Hari Raharta di Bandung, Selasa (16/3), jumlah RSH yang belum tersambung listrik di Jabar merupakan yang terbesar di antara provinsi-provinsi lain. Jumlah total RSH di Jabar saat ini sekitar 1,6 juta unit.

Sulitnya mendapatkan jaringan listrik merugikan pengembang, perbankan, hingga konsumen mengingat sebagian RSH menjadi tidak laku. "Banyak yang belum diserahterimakan. Sebagian RSH tidak dihuni. Kalau laku pun, penghuni tidak merasa nyaman," ujarnya.

Dampaknya, tidak sedikit pembeli RSH tidak mau membayar angsuran karena enggan menempati rumah tersebut. Keadaan itu menyebabkan perbankan tidak bisa menyalurkan uang kepada pengembang. Pihak PLN pun rugi karena tidak bisa menjual listrik.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat REI Teguh Satria mengatakan, pihaknya sudah bertemu dengan Direktur Utama PLN Dahlan Iskan, 24 Januari. Dalam pertemuan itu, pihak PLN berjanji melengkapi semua RSH dengan listrik.

"Namun, batas waktu hingga semua RSH tersambung dengan jaringan listrik tak disebutkan. Kami berharap, rencana itu bisa direalisasikan tahun ini," katanya.

Deputi Manajer Komunikasi PLN Distribusi Jabar-Banten Adang Djarkasih mengatakan, kemungkinan sambungan listrik sulit didapatkan karena daya trafo di daerah itu tidak mencukupi. Jika daya trafo yang digunakan sudah lebih dari 80 persen, tenaganya harus ditambah.

Konsumsi tak berkurang

Sementara itu, pemotongan skema tarif insentif bagi pelanggan rumah tangga kaya dan bisnis di atas 6.600 VA belum signifikan menekan konsumsi energi. Sebaliknya, pemakaian listrik sebagian besar pelanggan yang masuk kategori tersebut justru melebihi batas hemat yang ditentukan.

Eliza (43), pemilik usaha pencucian baju kiloan Ismail Wijaya Loundry di Sadang Serang, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, mengatakan, sejak pemberlakuan skema insentif baru pada Januari, tagihan listrik justru meningkat dari Rp 1,23 juta pada Januari menjadi Rp 1,33 juta pada Februari.

Yusak Kristanto (54), pengelola rumah kos Wisma Ayah-Bunda di Jalan Tubagus Ismail, menuturkan, tagihan listrik untuk pemakaian bulan Februari melonjak hingga Rp 1,6 juta. Padahal, biasanya maksimal hanya Rp 1,3 juta.

Akhir Januari, PLN mengubah skema tarif bagi pelanggan dengan pemakaian daya di atas 6.600 VA. Sebelumnya, batas hemat untuk pelanggan dikenai 80 persen dari rata-rata konsumsi nasional, tetapi kini dikurangi menjadi hanya 50 persen.

Pemakaian listrik antara nol hingga batas hemat (50 persen rata-rata konsumsi nasional) dikenai tarif subsidi Rp 650 per kWh. Namun, jika pemakaian listrik melebihi batas hemat, dikenai asas keekonomian, yakni Rp 1.380 per kWh.

Adang mengakui, dari total 50.007 pelanggan yang terkena skema baru ini, 30.125 pelanggan atau 60 persen di antaranya masih boros. "Pemakaian melampauai batas hemat terbanyak dari kalangan rumah tangga," ujarnya. (bay/gre)

 

Sumber : Kompas


Baca Juga:
Artikel sebelumnya:

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook