Alpen Steel | Renewable Energy

~ Mengapa listrik?

KOMPAS/IWAN SETIAWAN
Pemanasan global bukan lagi sekadar ancaman, tetapi tanpa terasa perubahan iklim itu sudah berlangsung. Penyelamatan Bumi harus dilakukan sekarang juga (atas). Earth Hour 2009 di Jakarta (bawah).
 
Satu Jam Saja!

 

Bumi sedang sekarat. Suhu udara semakin panas, cuaca dan iklim enggak menentu. Ini adalah sebagian kecil dari akibat yang ditimbulkan pemanasan global (global warming), proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi.

Parahnya lagi MuDAers, sebagaimana ditegaskan para ilmuwan dunia, pemanasan global yang berdampak pada perubahan iklim tersebut akibat aktivitas manusia.

Abad ini, peningkatan suhu global naik menjadi 1,4-5,8 derajat celsius. Sejumlah hal yang diperkirakan akan melanda Indonesia antara lain kenaikan permukaan air laut yang akan menggenangi daratan sejauh 50 meter dari garis pantai kepulauan Indonesia, di sepanjang 81.000 kilometer.

Selain itu, lebih dari 405.000 hektar daratan Indonesia diperkirakan akan tenggelam. Artinya, ribuan pulau kecil terancam terhapus dari peta Indonesia.

Berawal dari kondisi itu dan Bumi tempat kita tinggal ini harus segera diselamatkan, muncullah ide EARTH HOUR. Ini adalah salah satu kampanye WWF (World Wildlife Fund), berupa inisiatif global yang mengajak individu, praktisi bisnis, pemerintah, dan sektor publik lainnya di seluruh dunia untuk ikut serta mematikan lampu selama satu jam. Tujuannya, menghemat konsumsi listrik.

Mengapa listrik? Karena ketergantungan manusia pada listrik telah mengakibatkan kenaikan temperatur rata-rata Bumi dengan drastis. Inilah yang menyebabkan naiknya air permukaan laut, musim kemarau panjang, badai, dan perubahan besar terhadap lingkungan hidup di Bumi.

Sebagai gambaran, konsumsi energi listrik di Indonesia terfokus di Jawa-Bali atau sebesar 78 persen dari total konsumsi listrik nasional. Bagian Indonesia yang lain mendapat porsi lebih kecil. Berdasarkan data konsumsi listrik tahun 2008, total 29.605 GWH atau 23 persen konsumsi listrik Indonesia terfokus di DKI Jakarta dan Tangerang.

Nah, apabila 10 persen (saja) penduduk Jakarta berpartisipasi dalam EARTH HOUR, Jakarta dapat menghemat konsumsi listrik 300 MWh. Tuh… luar biasa kan. Padahal, caranya sederhana, hanya mematikan lampu selama satu jam saja!

”Earth Hour”

Tahun lalu, EARTH HOUR masih difokuskan di Jakarta. Tahun ini, kesadaran masyarakat tampaknya makin luas. Ini menunjukkan partisipasi masyarakat makin tinggi. Terbukti, sejumlah kota, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, dan Bali, menyatakan partisipasinya dalam EARTH HOUR tahun ini.

Sebagaimana yang diungkapkan Direktur Program Iklim dan Energi WWF Indonesia Fitrian Adriansyah, tahun ini enggak hanya partisipasi dari instansi pemerintah dan swasta yang meningkat, sejumlah kampus, sekolah, dan komunitas pun ambil bagian dalam kampanye ini. Banyak lho MuDAers dari sekolah di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) yang ikutan.

Hanya bermodal semangat membuat Bumi menjadi lebih baik, mereka mengajak orang-orang di sekitarnya berpartisipasi dalam EARTH HOUR 2010.

Biar Bumi kita enggak makin sakit, sekarang saatnya membuktikan kepedulian kamu. Matikan listrik selama satu jam pada Sabtu (27/3) pukul 20.30-21.30. Kamu semua pasti bisa! (DOE)

Ina Prameswari, siswi kelas X SMA Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK) 1 Jakarta, salah satu relawan EARTH HOUR yang MuDA temui, Rabu (23/3) di Jakarta, sadar betul, suhu udara yang makin lama dirasakannya makin panas adalah akibat pemanasan global. Ina tak tahu harus berbuat apa sampai suatu ketika, gurunya, Pak Soedarno, mengajaknya ke acara WWF Indonesia.

Di sini Ina mendapat informasi tentang pemanasan global dan berbagai upaya mengatasinya. Salah satunya dengan EARTH HOUR.

”Tahun lalu aku udah dengar tentang EARTH HOUR. Sempat cari informasinya, tapi abis itu ya udah,” ungkap Ina.

Irena Monica, siswi kelas XI SMA YMIK 2, malah baru tahu tentang EARTH HOUR gara-gara diajak Pak Darno ke acara WWF itu. ”Sebelumnya aku sama sekali enggak tahu kalau ada EARTH HOUR.”

Tergerak ingin membuat perbaikan bagi kondisi Bumi, Ina dan Irena bergabung bersama WWF dalam kampanye EARTH HOUR 2010.

”Aku merasa sudah saatnya ikut bertindak untuk Bumi,” ujar Irena.

Bersama teman-temannya dari YMIK, Ina dan Irena menggelar kampanye di Kota Tua, Jakarta.

”Enggak ada modal. Kita cuma joget-joget mengikuti lagu yang dimainkan pengamen di Kota Tua sambil nyebarin info tentang EARTH HOUR,” kata Ina yang awalnya sempat bingung menentukan bentuk kampanye dan lokasinya. ”Target kami, aksi matikan lampu selama satu jam bisa tersebar ke mana-mana.”

  Ina dan Irena enggak puas sampai di sini. Keduanya rela mengganti foto profil mereka di Facebook (FB) dengan angka 60, yang artinya 60 menit alias satu jam, demi menarik perhatian para penggiat FB.

”Eh beneran, banyak yang nanya-nanya apa itu artinya. Setelah tahu, banyak yang pengin partisipasi hari Sabtu nanti,” kata Ina yang juga berkampanye di sekolah.

”Pokoknya aku pengin Bumi jadi lebih baik. Caranya gampang dan murah, hanya dengan mematikan lampu satu jam saja. Siapa pun pasti bisa,” tambah Ina.

Ina dan Irena sudah memastikan lampu rumah mereka, Sabtu nanti pukul 20.30-21.30. Pada saat bersamaan, Ina dan Irena akan bergabung dengan MuDAers dari sekolah lain di Bundaran HI, Jakarta.

Kalau kamu peduli Bumi, jangan mau kalah dengan Ina dan Irena. Ikuti jejak mereka! (DOE)

EARTH HOUR berawal dari kampanye kolaborasi antara WWF-Australia, Fairfax Media, dan Leo Burnett untuk kota Sydney, Australia. Ketika itu, tahun 2007, tujuannya mengurangi gas rumah kaca di kota tersebut sebanyak 5 persen.

Tahun 2008: 50 juta orang di 35 negara telah mematikan lampunya dalam aksi mereka mendukung EARTH HOUR.

Tanggal 28 Maret 2009: ratusan juta orang di lebih dari 4.000 kota besar dan kecil, di 88 negara seluruh dunia, mematikan lampunya mendukung EARTH HOUR 2009, termasuk Jakarta (Indonesia).

Tahun 2010: diperkirakan 92 negara di dunia akan terlibat dalam EARTH HOUR. 

 

Sumber : Kompas

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook