Alpen Steel | Renewable Energy

~ Kode Voucher Listrik Prabayar

KOMPAS/LASTI KURNIA
Pelanggan memasukkan kode voucher listrik prabayar di meteran listrik rumahnya di kawasan Cipete, Jakarta. Listrik prabayar sebagai alternatif kendali konsumen terhadap pemakaian listrik.
 
SOLUSI
Listrik "Mirip" Seluler

 

Sekarang ini istilah ”mirip-mirip” sudah semakin populer. Meski lebih sekadar sebagai kata untuk menghindari pelanggaran asas praduga tak bersalah. Meski kata mirip juga berarti serupa, seperti yang terjadi dalam dunia kelistrikan, di mana pengelolaannya mirip dengan apa yang terjadi di dunia telekomunikasi.

Setidaknya sudah dua tahun lalu listrik prabayar diperkenalkan di negeri ini, tetapi popularitasnya memang tidak sedahsyat pada telepon seluler. Prabayar selama ini diidentikkan dengan ”meringankan”, walaupun sebenarnya pelanggan dituntut berinvestasi lebih dahulu sebelum menikmati layanannya.

Memang dengan prabayar pelanggan akan lebih memahami betapa mahalnya harga energi itu dan tidak sepantasnya dihambur-hamburkan begitu saja. Apalagi pembangkitan listrik juga harus dibayar dengan pengotoran lingkungan pada sisi lain.

Sekalipun menggunakan istilah prabayar, sebenarnya aktivitas ini sama sekali tidak menyangkut masalah telekomunikasi. Jumlah ”pulsa” hanya berkaitan dengan daya yang bisa diterima pelanggan. Jika pulsa habis, sirkuit akan terputus.

Dalam kelistrikan, sebenarnya sudah lama menggunakan sarana komunikasi untuk mendukung penyaluran daya, mulai dari pengukuran jarak jauh atau telemetri untuk mendeteksi gangguan di tempat jauh sampai penggunaan saluran serat optik sepanjang SUTET (saluran udara tegangan ekstra tinggi) 500 kilovolt (kV) untuk mendukung interkoneksi listrik Jawa-Bali.

Melalui perusahaan Icon+, pihak PLN mengelola jaringan serat optik ini sekaligus sebagai sarana komunikasi, terutama sebagai backbone untuk mendukung komunikasi internet melalui jaringan listrik. Ini merupakan sebuah solusi menarik sekalipun masih kalah glamor dibandingkan dengan kartu data nirkabel.

Untuk mengelola penyaluran listrik, sebenarnya juga bisa memanfaatkan jaringan seluler yang ada saat ini. Tujuannya untuk bisa mengetahui kondisi kekinian (real-time) dari penyaluran listrik, terutama di tingkat distribusi yang menyangkut jaringan padat.

Monitor distribusi

Informasi real-time sangat dibutuhkan untuk mengetahui kondisi nyata. Seperti yang ditawarkan PT Pattindo, sebuah perusahaan teknologi listrik dan informasi di Malang, Jawa Timur, dengan solusi ”Sistem Monitoring Jaringan Distribusi” belum lama ini.

”Ini bisa menjadi solusi bagi PLN untuk memenuhi program World Class Electrical Distribution,” kata Ir Dian Pramono, pakar kelistrikan dari Scheneider Electric, Indonesia. Sebenarnya masih banyak teknologi yang bisa dikembangkan bagi PLN untuk mendukung pelayanan listrik yang lebih baik.

Untuk solusi Pattindo, dikatakan bisa menggunakan sarana komunikasi data melalui jaringan telekomunikasi seluler yang ada saat ini, baik teknologi GSM/GPRS maupun CDMA. Selain itu juga bisa menggunakan kabel saluran listrik atau PLC (power line carrier) yang dikembangkan pihak PLN sendiri.

Sistem monitoring ini dilakukan dengan memasang perangkat EMT (energy measurement and data transmit), baik pada GTT (gardu trafo tiang) maupun penyulang gardu distribusi, terutama untuk mengukur arus, tegangan, faktor daya, distorsi harmonic total, temperatur, dan daya setiap saat.

Pada dasarnya sistem ini akan memonitor kualitas jaringan distribusi listrik secara real-time dan terus-menerus pada periode waktu tertentu, kemudian menganalisis dan mengevaluasinya, baik distribusi menengah dengan tegangan 20 kV maupun jaringan tegangan rendah 380/220 V.

Keandalan distribusi ini bergantung pada frekuensi pemadaman (system average interruption frequency index/SAIFI) yang terjadi setiap tahun dan lamanya pemadaman (system average interruption duration index/SAIDI). Selama ini pengukuran indeks gangguan masih konvensional, di mana parameter listrik sebelum dan saat gangguan tidak tercatat akurat atau bahkan tidak ada. Hal ini menyulitkan analisis dan evaluasinya.

Dengan analisis dan evaluasi, itu sekaligus bisa memberikan peringatan dini terhadap peralatan listrik yang terpasang sehingga tidak perlu menunggu adanya kejadian fatal, seperti trafo meledak atau terbakar.

Kondisi saat ini data yang ada belum dapat digunakan untuk menganalisis pembebanan nyata maupun perangkat yang dipasang. Misalnya pengukuran waktu beban puncak (WBP) belum tentu bisa mewakili beban puncak yang sebenarnya. Akibatnya, keseimbangan beban tidak terpantau secara tepat, kemungkinan terjadi losses sangat besar.

Cara yang ditawarkan Pattindo ini bisa menjadi langkah awal yang menarik untuk dikembangkah lebih jauh. Bahkan akan menjadi sangat mungkin apabila sistem monitoring secara terbatas bisa diterapkan pada meter pengukur pelanggan akan sangat menghemat.

Sebuah lembaga penelitian di Jerman, yaitu Institut Fraunhofer, juga sudah mengembangkan sistem monitoring penggunaan daya di rumah. Pengguna bisa mengetahui, mengontrol, bahkan sampai mengendalikan beban dari luar rumah melalui telepon selulernya.(AW sUBARKAH)

 

Sumber : kompas

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook