Alpen Steel | Renewable Energy

~ Proyek Asahan Bukan Hanyak Untuk Menyediakan Kebutuhan Energi Listrik

Nasib Proyek Asahan
Pengambilalihan agar Dipikir Matang

 

Medan, Kompas - Keinginan DPR melalui Komisi VII dan pemerintah daerah agar Proyek Asahan diambil alih pemerintah pada 2013 agar ditimbang secara matang. Pertimbangan mengambil alih Proyek Asahan jangan hanya berdasarkan pada persoalan krisis energi listrik di Sumatera Utara.

Demikian diungkapkan Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum ) Nasril Kamaruddin saat rapat kerja antara Komisi VII DPR dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara di Medan, akhir pekan lalu. Menurut Nasril, kebijakan membangun Proyek Asahan pada akhir tahun 1970-an jangan dilihat dari kacamata kebijakan dan persoalan saat ini. Menurut dia, pengambilalihan Proyek Asahan jangan didasarkan pada persoalan krisis listrik di Sumatera Utara yang terjadi beberapa tahun terakhir.

”Kebijakan membangun Proyek Asahan saat itu bukan untuk menyediakan kebutuhan energi listrik, tetapi mengembangkan industri alumunium di Indonesia. Kalau (kebijakan membangun Proyek Asahan) dibenturkan dengan masalah kondisi pasokan listrik saat ini, ya, jelas salah,” ujar Nasril.

PT Inalum merupakan pabrik peleburan alumunium yang menjadi salah satu bagian dari Proyek Asahan, selain Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Siguragura dan PLTA Tangga. Kedua pembangkit listrik tersebut lebih dikenal sebagai PLTA Asahan II dengan total kapasitas mencapai 617,2 megawatt (MW). Listrik dari PLTA Asahan II ini digunakan untuk mengoperasionalkan pabrik peleburan alumunium PT Inalum di Tanjung Gading, Kabupaten Batubara.

Proyek Asahan merupakan kerja sama Pemerintah Indonesia dengan konsorsium 12 perusahaan penanaman modal Jepang. Saat ini 12 perusahaan penanaman modal asal Jepang masih menguasai mayoritas saham Proyek Asahan. Kerja sama Proyek Asahan akan berakhir tahun 2013.

Saat itu Pemerintah Indonesia sudah berhak menguasai sepenuhnya Proyek Asahan. Namun, sebelum kerja sama tersebut berakhir, akan digelar pembicaraan bilateral antara Indonesia dan Jepang mengenai kelanjutan Proyek Asahan tersebut sepanjang tahun 2010.

Nasril mengungkapkan, aliran listrik PLTA Asahan II yang hanya untuk mengoperasionalkan pabrik peleburan alumunium memang bagian dari kebijakan pembangunan Proyek Asahan. ”Saat itu (tahun 1980-an) kebutuhan listrik di Sumatera Utara baru mencapai 100 MW sehingga energi listrik sebesar 600 MW, ya, hanya untuk kepentingan industri besar, seperti peleburan alumunium,” katanya.

Dorong pemerintah

Wakil Ketua Komisi VII DPR Effendi Simbolon mengatakan, Komisi VII sepakat akan mendorong pemerintah mengambil alih Proyek Asahan. Hal ini karena pertimbangan manfaat bagi masyarakat Sumatera Utara atas keberadaan Proyek Asahan sangat kurang.

Senada dengan Effendi Simbolon, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Sekretaris Daerah RE Nainggolan juga setuju jika Proyek Asahan diambil alih. Bagi pemerintah daerah, menurut Nainggolan, keberadaan Proyek Asahan dapat memberi manfaat lebih jika dioperatori oleh pemerintah, bukan pihak Jepang. (BIL)

 

Sumber : Kompas

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook