Alpen Steel | Renewable Energy

~ Lampu Power Menyala, Alat Tersebut Tak Berfungsi

KOMPAS/MADINA NUSRAT
Seorang warga di Pantai Teluk Penyu menunjukkan alat peringatan dini tsunami yang dipasang di kantor Taman Hiburan Rakyat Teluk Penyu, Kabupaten Cilacap, Kamis (3/9). Meskipun lampu power pada alat itu menyala, alat tersebut tak berfungsi.
 
PERINGATAN DINI TSUNAMI
Listrik Padam, Sirene Tak Berbunyi...

 

Madina Nusrat

Bintari Pudjiastuti tak menyangka alat peringatan dini tsunami hasil bantuan kerja sama German-Indonesia Tsunami Early Warning System yang dipasang di ruang perpustakaan Kelurahan Tegalkamulyan tempatnya bekerja ternyata tak beroperasi.

Hari Jumat (4/9) lalu, dia melihat kabel pada alat itu ternyata tidak dihubungkan ke jaringan listrik sehingga lampu power sebagai indikator alat tersebut bekerja tak menyala. ”Pantas, pas gempa kemarin itu kok sirenenya tidak berbunyi,” ucapnya.

Anggota staf Kelurahan Tegalkamulyan, Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, itu mengatakan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap merupakan instansi pemerintah di Cilacap yang berwenang memeriksa alat tersebut.

Adapun perangkat peringatan dini tsunami tersebut tersimpan di dalam kotak berlapis aluminium setinggi 1 meter. Kotak itu terkunci rapat sehingga baik staf Kelurahan Tegalkamulyan maupun warga setempat tak dapat melihat isi di dalamnya. Tidak ada tombol pada permukaan kotak itu, selain tiga lampu, yakni lampu hijau sebagai sinyal energi listrik, lampu merah sebagai sinyal sirene peringatan dini berbunyi, dan lampu kuning yang tanpa dilengkapi keterangan.

Dari sebuah lubang di kotak itu menjalar beberapa utas kabel yang terhubungkan ke tiang setinggi lebih dari 15 meter tempat empat corong sirene peringatan dini tsunami dipasang. Tiang sirene itulah yang dapat dilihat masyarakat setiap hari karena menjulang cukup tinggi.

Sejak alat itu dipasang pada Mei lalu, menurut Bintari, beberapa kali petugas BPBD Cilacap datang memeriksa alat tersebut. ”Namun, kami tidak tahu apa saja yang diperiksa karena yang mengetahui teknis keseluruhan alat ini adalah BPBD,” katanya.

Mulanya, Bintari mengaku berharap sirene pada alat peringatan dini tsunami itu dapat memandunya untuk memutuskan mengungsi atau tidak setelah beberapa detik gempa berkekuatan 7,3 skala Richter yang berpusat di laut lepas Tasikmalaya, Jawa Barat, terjadi pada Rabu lalu.

Namun, suara sirene yang ditunggunya tak juga berbunyi. Dia sempat mengira mungkin memang tidak akan terjadi tsunami, tetapi dia pun meragukannya karena guncangan gempa yang terjadi cukup hebat. Untuk memastikan, dia pergi ke pantai mengamati pergerakan air laut. Di sana ia menyaksikan ombak laut berarak-arak bergerak ke arah timur. ”Seperti tsunami kecil karena ombak laut pun bergerak susul-menyusul ke arah timur,” ujarnya.

Pihak BPBD Cilacap pun mengklaim bahwa di sepanjang pantai Cilacap yang dipadati oleh 38 desa telah dilengkapi tiga alat peringatan dini tsunami yang dipasang di Kelurahan Tegalkamulyan, Pantai Widarapayung, dan Pantai Teluk Penyu.

Namun, saat disambangi ke Pantai Widarapayung di Kecamatan Binangun, tak dijumpai satu pun alat peringatan dini tsunami. Para aparat desa setempat mengaku belum pernah menerima bantuan apa pun terkait alat peringatan dini tsunami.

Kesulitan

Kepala Desa Widarapayung Wetan, Satirin, mengatakan pasti juga akan menemui kesulitan kalau alat itu dipasang di Pantai Widarapayung. Sebab, di sepanjang pantai tersebut hingga radius 100 meter ke arah utara belum dilengkapi jaringan listrik. ”Kalau mau dipasang di mana karena listriknya tidak ada,” ucapnya.

Sementara itu, alat peringatan dini tsunami yang dipasang di kantor Taman Hiburan Rakyat Pantai Teluk Penyu, Cilacap, beroperasi dengan normal. Paling tidak, alat tersebut tersambung secara baik ke jaringan listrik. Giyo, penjaga kantor itu, mengatakan, alat tersebut tak pernah dilepaskan dari jaringan listrik agar selalu siaga karena bencana tsunami tidak dapat diprediksi. ”Namun, saya juga tidak tahu kenapa sirenenya tak berbunyi pada saat gempa kemarin,” ujarnya.

Sekretaris BPBD Cilacap Asifudin mengatakan, sejak bencana gempa terjadi, pihaknya belum sempat memeriksa kembali peralatan peringatan dini tsunami karena seluruh perhatian aparat BPBD tercurah untuk menyelamatkan dan memberikan bantuan bagi korban bencana gempa di Cilacap yang mencapai 2.000 orang.

Dia mengatakan, jumlah pegawai di BPBD Cilacap sangat minim, hanya 20 orang, yang terdiri atas 13 pejabat struktural, 3 tenaga staf, dan 4 pegawai harian lepas. Keterbatasan sumber daya manusia itulah, menurut Asifudin, yang membuat pihaknya belum dapat secara optimal mengawasi kesiapan peralatan peringatan dini tsunami. ”Makanya kami masih membutuhkan tenaga tambahan untuk memeriksa kesiapan alat-alat ini,” kata Asifudin.

Namun, terkait alat peringatan dini tsunami di Pantai Widarapayung, Asifudin mengatakan, alat itu berada di bawah pengawasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). ”Saya juga kurang tahu di mana alat itu dipasang karena BMKG sendiri yang memasangnya,” katanya.

Dia pun mengakui, selama ini belum ada tenaga di BPBD Cilacap yang memahami teknis secara keseluruhan alat peringatan dini tsunami itu. Permasalahan teknis itu masih diserahkan kepada pihak lain, yakni seorang teknisi dari anggota Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) di Cilacap. ”Kalau lampu pada alat itu tidak menyala, kami menyerahkannya kepada anggota RAPI itu,” katanya.

Mungkin benar kiranya apa yang dikatakan para nelayan Pantai Teluk Penyu, ”Untuk apa ada alat canggih-canggih kalau tidak berguna. Corong sirenenya cuma untuk ngayem-ngayem ati (pelega hati),” ujar Asifudin.

Apalagi beberapa detik setelah gempa terjadi, menurut salah seorang nelayan, Pono (40), jaringan listrik di sepanjang Pantai Teluk Penyu langsung padam. ”Listriknya padam, alatnya pun ikutan mati, tidak mengeluarkan bunyi sirene. Sama saja tak ada gunanya alat itu,” ujarnya.

 

 Sumber: Kompas

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook