Alpen Steel | Renewable Energy

~ Minyak Bumi Untuk Produksi Listrik

Pembangkit Energi
Minyak dalam Produksi Listrik Perlu Dikurangi

 

YOGYAKARTA, KOMPAS - Penggunaan minyak bumi dalam produksi listrik perlu ditekan hingga setidaknya 5 persen. Tingginya penggunaan minyak menaikkan ongkos produksi dan subsidi listrik menjadi tinggi.

Dengan menekan konsumsi minyak hingga 5 persen pada produksi listrik, ongkos produksinya bisa diturunkan dari Rp 1.300 menjadi Rp 800 tarif per satu kilowatt jam (kwh). "Dengan biaya produksi itu, tarif dasar listrik tak perlu dinaikkan," kata anggota Dewan Energi Nasional Tumiran, yang juga Dekan Fakultas Teknik UGM, Rabu (16/6).

Saat ini, ongkos produksi listrik PLN tidak efisien. Penggunaan minyak bumi dalam produksi listrik terlalu tinggi, mencapai 15 persen. Meski secara persentase kecil, jumlah dalam volume besar.

Padahal, ongkos konversi minyak menjadi listrik sangat besar. Satu liter minyak Rp 6.000 hanya menghasilkan energi listrik 2,5 kwh. Biaya pokok produksi listrik berbahan bakar minyak bumi sekitar Rp 2.400 per 1 kwh.

Beban produksi listrik yang tinggi itu akhirnya membebani masyarakat. Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan subsidi dari pajak bisa dihindari bila produksi listrik efektif.

Alternatif pilihan

Untuk itu, pemerintah perlu meningkatkan penggunaan gas dan batu bara mengganti minyak pada sejumlah pembangkit listrik. Harga gas dan batu bara yang lebih murah menekan ongkos produksi. Metode itu disebut produksi listrik berbahan bakar campuran.

Menurut Tumiran, hal itu bisa dilakukan tanpa alih teknologi atau ongkos besar. Sebab, hampir tiap pembangkit listrik di Indonesia siap untuk gas dan batu bara.

Namun, pemerintah perlu membuat kebijakan menjamin ketersediaan gas. Saat ini, 70 persen gas Indonesia dijual ke luar negeri. Hanya 30 persen yang dialokasikan ke dalam negeri. Akibatnya, pasokan gas selalu tipis.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia DIY Ibnu Saleh menilai, kenaikan TDL kian membebani pengusaha. Apalagi, kondisi usaha belum benar-benar pulih dari krisis.

Kenaikan TDL dipastikan menaikkan ongkos produksi yang menurunkan daya saing produk. Bila TDL naik, ia berharap aturan insentif dan disinsentif pemakaian beban dihapus. Aturan itu membuat perusahaan membayar denda besar bila konsumsi listriknya di bawah kuota. (IRE/ARA)

 

Sumber : Kompas

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook