Alpen Steel | Renewable Energy

~ Tarif Dasar Listrik Naik Apakah Masyarakat Mampu Beli?

Harga Naik untuk yang Mampu

 

Jakarta, Kompas - Dewan Energi Nasional atau DEN merekomendasikan peningkatan harga jual listrik menuju harga keekonomian, terutama untuk konsumen yang mampu. Hal ini untuk mengurangi besaran subsidi dan mendorong investasi kelistrikan.

”Pemerintah seharusnya menentukan harga jual dan tarif listrik sesuai aturan perundang-undangan. Jadi, kepentingan investor diakomodasi melalui harga jual dan kepentingan konsumen diakomodasi lewat tarif listrik,” kata anggota Dewan Energi Nasional, Rinaldy Dalimi, Minggu (21/3) di Jakarta.

Menurut Dalimi, dalam UU Nomor 30 Tahun 2009 tentang Listrik, harga listrik berbeda dengan tarif listrik. Harga listrik adalah harga yang dijual perusahaan listrik kepada pemerintah. Komponen harga jual listrik adalah biaya produksi ditambah keuntungan yang diizinkan pemerintah. Dengan demikian, tidak ada istilah perusahaan listrik merugi saat menjual listrik.

Saat ini harga jual listrik ditetapkan dalam kontrak dengan PT Perusahaan Listrik Negara selaku pembeli. Jadi, dalam menentukan harga jual, PLN berusaha mendekati tarif listrik PLN sehingga terjadi tarik-menarik kepentingan.

”Karena itu, harga jual listrik seharusnya ditentukan pemerintah agar investasi kelistrikan jadi menarik,” kata Dalimi.

Sementara itu, tarif listrik merupakan harga yang ditentukan pemerintah untuk dijual kepada konsumen sehingga penetapan tarif listrik harus disesuaikan dengan kemampuan masyarakat. ”Tarif listrik perlu diperbaiki. Bagi yang tidak mampu, tarif listrik harus lebih rendah dari harga jual. Bagi yang mampu, tarif listrik seharusnya mendekati nilai keekonomian,” ujar Dalimi.

Ketua DEN Darwin Zahedy Saleh menjelaskan, selama ini gaya hidup sebagian masyarakat dalam memanfaatkan energi cenderung boros. Sebagian masyarakat yang mampu seharusnya membayar listrik lebih mahal, tetapi mereka tidak mau membayar sesuai tarif keekonomian. ”Bagi yang mampu seharusnya mau membayar lebih mahal. Energi memang mahal, listrik memang mahal,” kata Darwin, yang juga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

Dari hasil kunjungan ke sejumlah wilayah di Indonesia, DEN mengidentifikasi penyebab utama krisis listrik, antara lain kapasitas pembangkit yang tersedia tidak mencukupi, tetapi penyambungan pelanggan baru tetap dilakukan.

”Selain itu, sarana dan prasarana energi, jaringan transmisi, jaringan distribusi sudah tidak memadai,” ujar dia.

Krisis listrik juga disebabkan harga energi tidak sesuai harga keekonomian, subsidi tidak mencukupi, dan keterbatasan dana untuk membangun pembangkit baru. ”Biaya produksi listrik pun tinggi karena masih besarnya porsi penggunaan bahan bakar minyak,” kata Darwin.

Harga rumah

Di kesempatan terpisah, Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa menengarai, kenaikan TDL akan berpotensi meningkatkan harga komponen material rumah. Jadi, akan muncul persoalan penyediaan rumah murah bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

Peningkatan biaya pembangunan rumah oleh pengembang akan dibebankan kepada konsumen. ”Kalau biaya produksi naik, bisa saja pengembang mengurangi material bangunan supaya mengejar harga rumah bersubsidi tetap sesuai patokan. Akibatnya, kualitas bangunan turun,” ujar Suharso.

Menpera akan segera mengundang PT PLN dan Kementerian ESDM untuk mencari jalan keluar agar kenaikan listrik tidak menghambat penyediaan rumah rakyat layak huni. Selain itu, koordinasi lintas kementerian untuk mendorong agar kenaikan harga bahan bangunan bisa ditekan. (EVY/LKT)

 

Sumber : Kompas

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook