Alpen Steel | Renewable Energy

~ Patokan Pembelian Tenaga Listrik oleh PT PLN (Persero) dari Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP)

KOMPAS/NAWA TUNGGAL
Potensi panas bumi sangat melimpah di Indonesia, tetapi belum dimanfaatkan optimal. Salah satu potensi panas bumi yang sudah dimanfaatkan, antara lain, di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Lahendong I dan II, di Tomohon, Sulawesi Utara, seperti terlihat akhir November lalu.
 
 
Pijakan Baru di Bidang Energi

 

Nawa Tunggal

Sempat tak jelas arah, pengembangan sumber energi terbarukan geotermal dan biofuel pada pengujung 2009 mendapatkan kebijakan baru. Listrik yang diproduksi dengan sumber energi geotermal memperoleh harga patokan yang atraktif, biofuel memperoleh subsidi menggiurkan.

Kebijakan baru diharapkan bukan sekadar pencitraan keberpihakan semu dari pemerintah. Namun, menjadi pijakan baru untuk memperbanyak pilihan sumber-sumber energi yang ramah lingkungan bagi masyarakat. Ujung-ujungnya menjadi sebuah kontribusi nyata pemerintah dan masyarakatnya dalam mengurangi risiko buruk akibat perubahan iklim yang disebabkan pemanasan global.

Geotermal atau panas bumi digunakan sebagai sumber energi ramah lingkungan bagi produksi listrik. Saat ini pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) sudah menyuplai listrik sebesar 1.196 megawatt (MW), atau baru sekitar 4 persen dari potensi geotermal 27.000 MW yang ada di berbagai pulau di Indonesia.

Posisi Indonesia sebagai bagian dari ring of fire atau cincin api Pasifik memengaruhi timbulnya banyak potensi geotermal, selain gempa bumi dan gunung-gunung berapi.

Biofuel atau bahan bakar nabati (BBN) meliputi biodiesel untuk pengganti solar dan bioetanol untuk pengganti bensin. Biodiesel dan bioetanol menjadi sumber-sumber energi yang ramah lingkungan, baik bagi sarana transportasi maupun permesinan lainnya, seperti genset pembangkit listrik dan sebagainya. Namun, ketersediaannya sampai sekarang sangat langka.

Berdasarkan data Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) tahun 2007, produksi biodiesel 16.000 kiloliter dan bioetanol 1.000 kiloliter. Keduanya sangat jauh dari target yang ditetapkan. Biodiesel ditargetkan sebesar 1.282.981 kiloliter, sedangkan bioetanol 940.980 kiloliter. Pencapaian keduanya dari target hanya 1,25 persen dan 0,1 persen. Sedikit sekali. Hingga tahun 2009 jumlah itu diperkirakan tidak jauh beranjak karena belum ada insentif berupa subsidi agar harga BBN mampu bersaing dengan harga minyak konvensional yang berupa bahan bakar fosil.

Berdaya saing

Pada 4 Desember 2009 Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Harga Patokan Pembelian Tenaga Listrik oleh PT PLN (Persero) dari Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP). SK itu mengatur, antara lain, kewajiban PLN untuk membeli listrik yang diproduksi dengan geotermal.

Harga patokan ditetapkan maksimal senilai 9,7 sen dollar AS (sekitar Rp 900) per satu kilowattjam (kwh). Harga yang cukup atraktif ketimbang nilai tarif dasar listrik yang didistribusikan PLN yang hanya berkisar Rp 640 per kwh.

Terkait dengan kebijakan baru mengenai biofuel, pada Oktober 2009 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menandatangani revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 71 Tahun 2005 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu.

Direktur Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyanto mengatakan, jenis bahan bakar minyak tertentu yang dimaksudkan di dalam perpres tersebut meliputi tiga jenis, yaitu biodiesel, bioetanol, dan minyak nabati murni. Minyak nabati murni itu minyak yang diperoleh langsung dari bahan-bahan nabati yang secara langsung dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar.

”Hambatan bagi biodiesel dan bioetanol selama ini adalah karena keduanya tidak berdaya saing. Harga produksi keduanya jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga solar dan bensin yang disubsidi pemerintah,” kata Unggul.

Revisi Perpres Nomor 71 Tahun 2005, menurut Unggul, ingin menempatkan harga biofuel setara dengan bahan bakar minyak dari fosil. Subsidi untuk biofuel pada tahun 2010 berkisar Rp 2.000 per liter. Produksi biofuel untuk oplosan bahan bakar minyak adalah maksimal 10 persen.

Penggunaan solar dalam setahun, berdasarkan data 2007, mencapai 14 juta kiloliter. Adapun penggunaan bensin mencapai 19 juta kiloliter.

Saat ini Dewan Perwakilan Rakyat telah menyetujui alokasi dana subsidi biofuel sebesar Rp 1,544 triliun. Dana tersebut dialokasikan untuk bioetanol dengan batas kewajiban minimal 1 persen penggunaan bensin, yaitu Rp 429,082 miliar untuk 214.541 kiloliter bioetanol. Untuk biodiesel dengan batas kewajiban minimal 5 persen penggunaan solar sebesar Rp 1,125 triliun untuk 562.534 kiloliter biodiesel.

Menebar optimisme

Ketua Asosiasi Panasbumi Indonesia Surya Darma mengatakan, pemerintah dengan kebijakan baru terhadap pengembangan geotermal di Tanah Air diharapkan dapat menebar rasa optimisme. Harga patokan maksimal penjualan listrik dari PLTP sebesar 9,7 sen dollar AS per kwh setidaknya cukup menarik bagi sebagian anggota asosiasi.

Kebijakan di bidang geotermal itu akan mendukung percepatan tahap kedua produksi listrik 10.000 MW yang ditargetkan pemenuhannya pada 2014 nanti. Sebesar 4.733 MW akan menggunakan geotermal.

Angka 4.733 MW bukanlah sedikit mengingat saat ini baru bisa dicapai 1.196 MW. Kendala mungkin terdapat pada masalah finansial mengingat muatan lokal teknologi PLTP masih tetap rendah.

Menurut Kepala BPPT Marzan Aziz Iskandar, perealisasian 4.733 MW pada tahun 2014 nanti juga dihadapkan pada ketersediaan tenaga terdidik yang masih minim. Setidaknya, saat ini masih dibutuhkan sekitar 4.000 tenaga ahli di bidang geotermal. Ini yang cukup menepis rasa optimisme geotermal bakal mampu meraih produksi listrik 4.733 MW pada akhir kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2014 nanti.

Mengenai biofuel, Unggul Priyanto mengutarakan nada optimismenya apabila memang subsidi pemerintah nantinya membuat harga biofuel setara atau bahkan lebih rendah dari harga bahan bakar minyak konvensional.

Kini, di pengujung 2009 ini geotermal dan biofuel berada pada pijakan baru....

 

Sumber : Kompas

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook