Alpen Steel | Renewable Energy

~ Kawasan Industri Lampung di Tanjungbintang, Lampung Selatan

Listrik Bukan sekadar Setrum!

Secara jujur dikatakan, listrik telah menjadi bagian amat penting dalam kehidupan. Kekurangan setrum itu, dengan demikian, segera membawa dampak-dampak buruk bagi warga. Pemadaman listrik yang rutin belakangan ini, bukan cuma merepotkan pelanggan dari sektor rumah tangga. Kalangan bisnis, baik besar, menengah, maupun kecil, juga begitu terpukul oleh sebab bobroknya pelayanan PLN itu.

Banyak perusahaan dipaksa menyediakan generator listrik demi tetap bergeraknya roda bisnis. Mereka juga mesti membakar berdrum-drum solar setiap hari agar bisa memperoleh energi yang sudah menjadi kebutuhan pokok itu. Biaya tambahan cukup besar yang tak harus keluar andai pasokan listrik terjamin.

PLN, karena itu, bisa disebut turut menjadi penyebab ekonomi biaya tinggi di Tanah Air. Warga dipaksa merogoh kocek lebih oleh sebab pemadaman listrik bergilir. Seperti, mesti membeli lampu darurat, lilin, serta lampu teplok berikut minyak tanah yang makin langka. Peralatan berpenggerak listrik milik warga, sudah tak terbilang jumlahnya yang rusak akibat listrik padam dan menyala semaunya itu.

Mengadatnya listrik PLN juga menyebabkan lampu-lampu rambu lalulintas, padam. Akibatnya, kemacetan terjadi di sejumlah titik jalan. Dengan berat harus disebut, kita kecewa atas amburadulnya pelayanan PLN itu. Perusahaan milik negara ini begitu gampang memutus aliran listrik atau mendenda pelanggan yang terlambat membayar tagihan. Sementara, hak-hak pelanggan, terutama soal pelayanan dan terjangkaunya tarif belum pernah diberi. Sejauh ini, PLN cuma mengedepankan haknya sembari mengesampingkan kewajiban.

Satu hal yang ajaib, BUMN ini seolah kebal hukum. Sampai sekarang, tidak siapapun kuasa menggugat pemonopoli setrum ini atas buruknya mutu pelayanan itu. Kerugian pelanggan, berupa rusaknya peralatan elektronik oleh sebab tidak stabilnya tegangan listrik, melulu menjadi risiko masyarakat. Tidak pernah sebutir bohlam-pun dikeluarkan PLN untuk mengganti kerugian pelanggan. Padahal, semua orang percaya, penderitaan pelanggan itu akibat pelayanan PLN yang tidak becus.

Sejauh ini masyarakat memang ibarat memakan buah simalakama dalam menghadapi perusahaan berlogo petir itu. Hendak beralih ke tempat lain jelas tidak mungkin. Sementara, menggalang protes juga percuma. Sebab, menderasnya hujatan tidak kemudian membuat perusahaan ini membenahi kinerjanya. Agaknya, dilema yang dihadapi warga tadi justru menjadi tameng ampuh bagi PLN untuk bertahan pada sistem pelayanannya yang amburadul itu.

KITA sudah hafal betul alasan PLN terhadap krisis listrik itu. Mulai dari menyalahkan alam hingga kerusakan sistem transmisi. Jika pemadaman dilakukan pada musim kemarau, maka kurangnya debit air bendungan Batutegi dan Way Besai segera menjadi kambing hitam. Kalau pemadaman dijadwal pada musim penguhujan seperti sekarang, giliran kerusakan peralatan pembangkit dan sistem transmisi yang menjadi dalih.

Kita juga akan mendengar alasan lain dari PLN yang mengesankan seolah-olah perusahaan ini sudah berjuang keras mengatasi keadaan. Misalnya, dengan menyebut sedang dibangun satu pembangkit listrik lagi. Kalau itu beroperasi, krisis listrik dapat teratasi. Dari masa ke masa, itulah alasan dan janji PLN kepada publik. Tetapi, sejauh itu, janji tinggal janji karena kelangkaan listrik terus terjadi malah menunjukkan gelagat bertambah parah.

Pada krisis listrik di Lampung di bawah tahun 2000, PLN menyebut kekurangan daya segera teratasi. Sebab, sedang dibangun PLTA Way Besai di Sumberjaya, Lampung Barat. Pembangkit dengan dua turbin ini memproduksi 90 megawatt setrum per hari. Pada tahun 2001, PLTA ini beroperasi.

Tetapi pasokan listrik hanya lancar beberapa bulan, lewat dari itu pemadaman bergilir kembali terjadi. Penyebabnya, peralatan pembangkit di sana sudah rusak pada tahun pertama dioperasikan. Maklum, yang dipasang ternyata barang rongsokan, kiriman dari Jepang yang di Negeri Sakura sudah tidak layak pakai.

Seperti tak kapok berinvestasi di proyek mubazir, PLN membangun PLTA Batutegi, Tanggamus. Dioperasikan mulai Juli 2002, pembangkit ini sampai sekarang belum menghasilkan satu watt-pun listrik dari daya 28 megawatt yang diproyeksikan.

Selesai dari proyek itu, PLN kemudian membangun PLTU Tarahan. Pembangkit listrik tidak ramah lingkungan yang boros batubara itu, mulai dioperasikan Desember 2007. Dan, PLN lagi-lagi berjanji, krisis listrik di Lampung berakhir mulai Januari 2008. Sebab, dengan dua kincir, PLTU Tarahan memproduksi 100 megawatt. Akan tetapi, pada pekan pertama Juni 2009, pembangkit listrik yang dibiayai utang luar negeri itu sudah rusak. Krisis listrikpun berlanjut.

Sekarang, PLN sedang membangun PLTU Sibalang di Lampung Selatan. Pembangkit ini akan memproduksi 200 megawatt dan diperkirakan selesai tahun 2011. Andai PLTU Sibalang beroperasi, kita tak boleh optimis bisa keluar dari krisis listrik. Sebab, proyek ini boleh jadi senasib kakak-kakaknya: dibangun dengan investasi mahal, kemudian terbengkalai setelah dioperasikan kurang dari dua tahun.

Ancaman juga datang dari terus berkurangnya deposit batubara dari perut Sumatera yang saban hari dikuras. Jangan lupa, untuk PLTU Tarahan yang memproduksi listrik 100 megawatt saja, setiap hari menghabiskan 2.400 ton batubara. Sungguh suatu pemborosan yang kita ngeri membayangkan dampak-dampak buruknya.

BAGI masyarakat modern, seperti air, listrik juga sudah menjadi sumber kehidupan. Oleh sebab itu, kekurangan listrik di Indonesia, apapun alasannya merupakan kemunduran. Kita menjadi begitu tertinggal dari negara-negara lain yang telah cukup baik dalam mengelola sistem tenaga listrik. Pemadaman listrik tidak pernah terjadi di Malaysia, Filipina, bahkan Vietnam. Negara-negara yang merdekanya lebih lambat dari kita itu, benar-benar menjaga pasokan listrik di kawasan industri mereka.

Sulit dibantah, krisis listrik memang berdampak buruk bagi perekonomian. Kita tahu, investor yang hendak menanamkan modal, pertamakali akan menanyakan apakah daya listrik sudah memadai. Itu yang menyebabkan investasi sulit masuk di daerah yang daya listriknya kurang, seperti Lampung. Perspektif inilah yang menjelaskan mengapa Kawasan Industri Lampung di Tanjungbintang, Lampung Selatan, sampai sekarang tidak berkembang.

Padahal, investasi yang tertanam itu sangat kita butuhkan untuk memulihkan perekonomian. Ia menjadi lokomotif bagi bergeraknya roda usaha sektor riil dan mendongkrak pertumbuhan. Pada saat sama, ribuan tenaga kerja dapat terserap. Karena itu, krisis listrik di Tanah Air wajib segera diakhiri. Dengan demikian, harus terus dicari terobosan demi terjaminnya energi listrik pada masa depan.

Kita selama ini coba mengatasi krisis listrik dengan membangun PLTA, PLTU, dan PLTD. Ini proyek-proyek pembangkit yang sangat tergantung kondisi alam, juga boros dan tidak ramah lingkungan. Proyek PLTA, kita tahu sangat tergantung daya dukung hutan. Sementara deforestasi yang merajalela menyebabkan waduk-waduk mongering sehingga tak mampu menggerakkan kincir pembangkit listrik.

Sedangkan pada proyek PLTU dan PLTD, demi listrik, kita harus membakar ribuan ton minyak bumi dan batubara, setiap hari. Lambat laun, sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui itu akan habis disedot. Maka, tak ada jaminan pada masa depan kita masih bisa memproduksi listrik jika melulu mengandalkan dua jenis pembangkit listrik ini.

Beberapa negara di Eropa, dalam 20 tahun terakhir, berhasil mengembangkan pembangkit listrik tenaga angin. Jerman dan Denmark, misalnya, hampir 20 persen kebutuhan listrik mereka dipasok dari tenaga angin ini. Kita, sesungguhnya mampu mengikuti jejak itu. Apalagi, ahli-ahli kita sudah menguasi teknologi kincir yang dibutuhkan untuk mewujudkan pembangkit listrik tenaga angin ini.

Pemanfaatan energi angin jelas paling ideal. Sebab tidak butuh bahan bakar dan tidak menghasilkan emisi karbon seperti PLTU dan PLTD. Juga tidak membutuhkan uranium yang langka dan tidak memproduksi sampah radioaktif seperti pembangkit listrik tenaga nuklir. Terobosan semacam inilah yang kita butuhkan dari PLN dan pemerintah. Sehingga, ada jaminan ketersediaan listrik pada masa depan agar hidup kita makin beradab. Bukan justru terus berencana menaikkan tarif dasar listrik sementara pelayanannya kepada masyarakat begitu mengecewakan

Sumber : Kompas

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook