Alpen Steel | Renewable Energy

~ Masih Minim Pemanfaatan Energi Panas Bumi (Geotermal)

Panas Bumi, Energi Raksasa Bebas Emisi

Petani mencangkul ladang berlatar belakang instalasi pembangkit listrik tenaga gas di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Pemanfaatan energi panas bumi (geotermal) sebagai sumber energi terbarukan yang bisa menghasilkan listrik di Indonesia, saat ini masih sangat minim. Padahal, Indonesia mempunyai potensi sumber daya panas bumi lebih dari 28.100 megawatt atau 40 persen potensi dunia, namun baru 4,3 persennya saja yang dimanfaatkan.
Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Arya Rezavidi mengatakan, panas bumi sangat ramah lingkungan.
”Kita anggap energi ini terbarukan. Cost environment rendah sekali dibanding kita bangun dengan diesel yang menyumbang banyak emisi karbon monoksida,” jelasnya di Jakarta, Senin (15/3).


Panas bumi yang diolah menjadi energi listrik itu perpaduan uap panas dan air. Untuk menghasilkan energi listrik, hanya membutuhkan uap panas, sedangkan air kembali diinjeksi ke dalam bumi untuk mendukung proses berkelanjutannya.
Sebab, menurutnya, untuk mendorong uap panas, dibutuhkan air. Supaya air tidak habis, injeksi melalui sumur injeksilah caranya. Apalagi, lanjutnya, pengembangan atau eksplorasi panas bumi ini di pembangkit listrik tenaga panas (PLTP) dikembangkan binary cycle. “Binary cycle hanya memanfaatkan panasnya, yang bekerja fluida, sehingga unsur di dalam bumi tidak keluar. Panas bumi ini sangat ramah lingkungan,” ungkapnya.


Negara seperti Amerika Serikat, kata Arya, telah mengembangkan teknologi ini. Geotermal ini diyakini sebagai energi andalan, seiring semakin menipisnya cadangan migas dunia.
Bahkan, sektor industri yang menghasilkan panas, bisa memanfaatkan kembali siklus panas tersebut untuk menggerakkan turbin. Sementara itu, wilayah Indonesia yang mengandung panas bumi potensial di antaranya Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, dan Maluku.


Sampai saat ini, panas bumi itu baru menghasilkan listrik 1.189 megawatt. Sayangnya, di wilayah Indonesia bagian timur, hal itu masih didominasi pembangkit listrik tenaga diesel.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral akhirnya mulai membuat acuan serta target dari pemanfaatan geotermal ini. Ditargetkan, pengembangan geotermal hingga tahun 2025 menghasilkan 9.000 megawatt di seluruh PLTP.


Bahkan, sebagai tahap kedua, ada percepatan pembangunan pembangkit listrik 10.000 megawatt dan kontribusi PLTP sebesar 3.962 megawatt. Diidentifikasi, 44 lokasi baru panas bumi yang sangat potensial sebagai market.


Berdasarkan hasil studi Kementerian Riset dan Teknologi bersama BPPT, substitusi 200 megawatt pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Maluku Utara ke PLTP skala kecil bisa menghemat bahan bakar minyak 200.000 kiloliter per tahun atau setara Rp 1 triliun.


BPPT pun menargetkan rencana pengembangan PLTP skala kecil binary cycle pada tahun 2014 sebesar 1 megawatt. Arya menambahkan, tahun 2009 dikembangkan penelitian awal binary cycle untuk pengembangan 2 kilowatt dan tahun 2010 100 kilowatt.


Direktur PT Pertamina Geothermal Energi Abadi Purnomo menyatakan, pemanfaatan geotermal dengan dibantu penelitian BPPT diharapkan bisa menggunakan 40 persen produk dalam negeri. Sebab selama ini, kandungan impor untuk geotermal masih mendominasi.
Selain itu, memang 60 persen kandungan geotermal ada di hutan lindung.
40 Tahun Habis
Sementara itu, peneliti dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Lilies Setyartiti mengatakan, riset pengembangan energi alternatif di Indonesia masih rendah, padahal potensi hayati di negeri ini cukup besar. “Peluang pengembangan energi alternatif di Indonesia cukup besar, karena banyak potensi alam atau hayati yang bisa dimanfaatkan, mulai dari biji nyamplung, jarak, kotoran sapi, sampah, dan merang,” katanya di Yogyakarta, Selasa (16/3).
Namun, menurutnya, peluang tersebut belum banyak dimanfaatkan karena masyarakat belum menyadari sepenuhnya mengenai pemanfaatan energi alternatif. Selain itu, belum terstrukturnya manajemen pelaksanaan energi alternatif juga ikut mempengaruhi.
”Karena itu, riset mengenai energi alternatif perlu dikembangkan, dan sosialisasi mengenai pemanfaatan energi tersebut di masyarakat perlu ditingkatkan, karena energi fosil dalam kurun waktu 40 tahun ke depan akan habis,” ujarnya. [R-15] ANTARA/Anis Efizudin

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook