Alpen Steel | Renewable Energy

~ Lapangan Panas Bumi Kamojang, Garut, Jawa Barat

Panas Bumi

http://www.unisosdem.org/images/spacer.gif


25 Tahun Panas Bumi di Indonesia

TAK terasa sudah seperempat abad kita di Indonesia menikmati pemanfaatan energi panas bumi (geothermal). Memang, bila dibandingkan dengan sumber-sumber energi lainnya, misalnya energi air yang terbarukan dan energi minyak bumi serta batu bara yang tergolong tak terbarukan, gaung pemanfaatan energi panas bumi nyaris tak terdengar. Padahal, sejak 25 tahun lalu, lapangan panas bumi Kamojang, Jawa Barat, sudah mampu menghasilkan listrik.

KEBANYAKAN kita lebih biasa mendengar pemanfaatan minyak bumi, batu bara, dan tenaga air ketika membicarakan pemanfaatan energi di Indonesia. Padahal, negeri ini sangat kaya dengan keanekaragaman energi. Selain ketiga energi di atas, energi surya, angin, panas bumi, biomassa, gelombang laut masih menunggu untuk lebih banyak dimanfaatkan.

 

Khusus energi panas bumi, perhitungan para pakar geologi dan pertambangan menunjukkan potensi Indonesia tak kurang dari 20.000 megawatt (MW) energi atau setara 9 biliun barrel minyak bumi untuk 30 tahun operasi. Sayangnya, sampai tahun 2002 pemanfaatannya sekitar 860 MW atau 4,3 persen dari potensi (lihat Tabel 1).

Prakiraan potensi energi panas bumi itu dijelaskan Subroto Modjo, mantan Kepala Direktorat Vulkanologi Dirjen Geologi Sumber Daya Mineral, dari perhitungan setelah mengebor 244 sumur energi panas bumi dari Aceh sampai Irian Jaya.

Subroto Modjo menguraikan, eksplorasi panas bumi di Indonesia dilaksanakan pemerintahan Hindia Belanda tahun 1920. Mereka menginventarisasi Jawa Barat memiliki potensi panas bumi yang baik. Lalu dipilih dan dibor lima sumur dangkal, kira-kira 66 meter, yang berhasil tiga sumur.

"Dari tiga sumur, dua sumur ditutup karena mungkin ada gerakan tektonik, dan tinggal satu sumur yang disebut penduduk setempat sebagai sumur lokomotif (kawah kereta api) di Kamojang, yang sampai sekarang masih menyemburkan uap superheated," ujarnya.

Pada tahun 1930, lanjut Subroto, inventarisasi panas bumi dihentikan karena malaise ekonomi. Baru tahun 1974 Indonesia menggiatkan eksplorasi panas bumi dan dalam peraturan pemerintah yang dikeluarkan tahun itu, Pertamina ditugasi mengelola dan mengeksplorasi panas bumi.

Sejak itu, eksplorasi panas bumi menghasilkan perkiraan sekitar 20.000 MW tersebut.

SEBAGAI sumber energi terbarukan dan lebih bersih dibanding energi dari fosil (minyak bumi dan batu bara), panas bumi semestinya lebih diprioritaskan untuk dikembangkan. Kenyataannya, kita lebih terpesona mengandalkan minyak bumi, kemudian batu bara beberapa tahun terakhir.

Menurut Prof Dr Rustam E Tamburaka, Ketua Sub-Komisi VIII Bidang Riset dan Teknologi DPR, lambatnya pemanfaatan energi panas bumi salah satunya akibat belum ada undangundang yang mengatur.

Selain dasar peraturan tidak kuat, menurut pakar energi dari Institut Teknologi Bandung, MT Zen, komitmen pemerintah mengembangkan energi panas bumi juga rendah. Penyebabnya antara lain energi ini dianggap lebih mahal dibanding minyak dan gas, dan tidak bisa diekspor seperti minyak bumi. Energi panas bumi pun tidak gampang dipindah-pindah seperti halnya minyak bumi dan batu bara. Energi panas bumi harus langsung dimanfaatkan tak jauh dari sumber energi itu berada.

Riki F Ibrahim, anggota International Geothermal Association, menjelaskan, secara ekonomis pemanfaatan energi panas bumi kerap dianggap lebih mahal dibanding nilai komersial energi lain, seperti batu bara, minyak, dan gas. "Kelihatannya sampai saat ini pun belum ada kepastian harga yang pantas, yang dapat meningkatkan pengembangan PLTP (pembangkit listrik tenaga panasbumi) di masa depan," jelas praktisi panas bumi yang juga pengurus Asosiasi Panasbumi Indonesia tersebut.

Padahal, selain subsidi yang membuat energi minyak dan gas tampak lebih ekonomis, energi panas bumi mempunyai keunggulan lain, yaitu sifat energinya yang jauh lebih bersih sehingga tidak mencemari lingkungan.

Riki menambahkan, pemanfaatan energi panas bumi sekarang ini terbatas untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik sehingga praktis tidak ada nilai ekonomi tambahan seperti halnya minyak atau gas yang bisa diekspor, untuk pembangkit listrik, bahkan dijual langsung ke masyarakat. Padahal, nilai ekonomi tambahan panas bumi bisa digabung dalam paket ekonomi untuk mengembangkan daerah di mana sumber panas bumi itu berada.

Terkait dengan hal itulah, Tamburaka menjelaskan, sejak tahun 2000 dibantu Asosiasi Panasbumi Indonesia dan beberapa perusahaan panas bumi di Indonesia, DPR menggunakan hak inisiatif merancang RUU Panasbumi. Akan tetapi, RUU itu masih menyangkut di meja Presiden.

"Beberapa hari lalu, kami mengundang Menkeh dan HAM menanyakan banyaknya RUU yang menyangkut di meja Presiden. Menkeh dan HAM mengatakan sudah bertemu Mensesneg yang menyatakan sudah lapor ke Presiden. Tapi, Ibu Mega mengatakan belum tahu. Jadi, begitulah keadaannya," ungkapnya.

Tamburaka menilai, dengan adanya UU Panasbumi, penggunaan energi panas bumi diharapkan menduduki peringkat teratas di antara sumber energi terbarukan lainnya di dunia.

"Mengapa undang-undang itu penting sekali ada, karena yang lalu itu hanya setingkat Keppres. Begitu ada masalah, terutama masalah moneter dan perbankan tahun 1977, langsung tidak jalan. Untuk menyelamatkan perusahaan di bidang panas bumi itu, muncul Keppres No 76/2002, tapi itu pun kurang kuat," katanya.

MENGAPA energi panas bumi sepantasnya sekarang ini menjadi andalan? Tamburaka menjawab, karena pada cadangan energi panas bumi Indonesia memiliki potensi terbesar di dunia.

Dia menguraikan, potensi energi Indonesia sangat kecil bila dibandingkan dengan potensi energi dunia. Minyak bumi, misalnya, Indonesia hanya memiliki sekitar satu persen dari potensi dunia. Gas bumi sekitar tiga persen, batu bara sekitar 3,6 persen dari potensi dunia. Oleh karena itulah, energi fosil yang tak terbarukan harus pandai-pandai kita manfaatkan.

Justru pada energi panas bumi potensi Indonesia terbesar di dunia, sekitar 40 persen cadangan dunia. Potensi panas bumi Indonesia sekitar 20.000 MW dengan temperatur tinggi, dengan rincian sekitar 5.500 MW di Jawa-Bali, sekitar 9.500 MW di Sumatera, dan 5.000 MW tersebar di Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Sementara potensi dunia diperkirakan 50.000 MW, dan yang sudah dimanfaatkan sekitar 10.000 MW atau 20 persen dari potensi.

Tamburaka menambahkan, jika teknologi canggih sudah dikembangkan, seperti dilakukan Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan Selandia Baru, untuk menyerap panas secara ekonomis dari sistem dry rock vulkanis-magmatis di dalam lapisan kerak bumi pada kedalaman 10 mil, total energi panas bumi yang diperoleh akan lebih besar. Potensi energi panas bumi akan jauh lebih besar daripada gabungan sumber energi batu bara, minyak bumi, gas, bahkan uranium (tenaga nuklir).

Sependapat dengan Tamburaka, Dr Ir Umar Said dari Direktorat Energi dan Sumber Daya Mineral Departemen Pertambangan dan Energi, menjelaskan, sejak tahun 1977, produksi minyak Indonesia terus turun. Di sisi lain, pemanfaatan energi batu bara terus berjalan sejak proyek batu bara terpadu Suralaya dimulai.

"Untuk panas bumi, potensi tinggi sekali, tetapi terpakai sedikit sekali. Ini menunjukkan panas bumi masih harus dipacu dengan beberapa peraturan. Pada Repelita VI ditaruh sasaran 1.000 MW, mari kita lihat keadaan sekarang. Keadaan sekarang belum sampai 1.000 MW sehingga target Pelita VI itu belum tercapai," ujarnya.

Apakah hal itu karena keekonomian panas bumi tidak menarik? Menurut Umar, keekonomian panas bumi dari hasil perhitungan menggunakan beberapa model penghitungan cukup menarik bagi produsen maupun pembeli listrik. Analis kebijakan energi itu membuat model keekonomian dengan angka biaya investasi antara dua juta sampai tiga juta dollar AS per sumur, sedangkan untuk operasional dan perawatan diperlukan antara dua sen sampai tiga sen dollar AS per kWh yang dibangkitkan. Selain itu, jangan dilupakan juga beban pajak dan royalti sekitar 44 persen.

"Saya lihat sekarang ini yang menghambat adalah regulasinya yang tidak mendukung. Keppres No 76/2002 sangat tidak mendukung, lahir bukan dari konsep yang baik, tapi dari rasa kebencian. Di situ kelihatan sekali curhat-nya," paparnya.

 

Meskipun demikian, Umar melihat masih ada harapan pengembangan energi panas bumi, karena subsidi untuk energi minyak bumi semakin dihilangkan sehingga energi panas bumi bisa lebih kompetitif. "Dengan akan adanya Undang-Undang Panasbumi, akan ada landasan yang lebih kuat," papar analis kebijakan energi itu.

BERDASARKAN data sampai tahun 2000, ada enam negara yang memanfaatkan energi panas bumi untuk pembangkit listrik dalam kapasitas besar. Yaitu, Amerika Serikat (2.228 MW), Filipina (1.909 MW), Indonesia (820,5 MW), Meksiko (755 MW), Italia (785 MW), dan Jepang (546,9 MW).

Untuk Indonesia, pemanfaatan energi panas bumi terus naik dari 32,25 MW (tahun 1982) menjadi 142,42 MW (1990), naik lagi menjadi 587,5 MW (1995-1998), dan tahun 2002 menjadi sekitar 860 MW.

Di samping untuk pembangkit energi listrik, panas bumi dapat digunakan langsung sebagai pemanas ruangan, pendingin ruangan, proses industri pengeringan (cokelat, daun teh, cengkeh, jamur merang, dan ikan), serta untuk obyek pariwisata. Akan tetapi, pemanfaatan energi panas bumi untuk hal lain, di luar pembangkitan energi itu, di Indonesia belum optimal.

"Soalnya, kita hanya mengenal dua musim, kemarau dan penghujan. Kalau di luar negeri, seperti Selandia Baru, panas bumi bisa dimanfaatkan langsung sebagai pemanas ruangan, perkebunan, dan lain-lain, khususnya musim dingin. Tapi kita bisa mencari alternatif pemanfaatan uap panas bumi langsung, sesuai dengan kondisi kita," ungkap Riki.

Di sisi lain, melihat pasokan energi air yang semakin tak menentu sehingga membuat pasokan listrik PLN turun naik antara musim penghujan dengan musim kemarau, serta semakin berkurangnya subsidi minyak yang membuat biaya pembangkitan listrik dengan PLTD (pembangkit listrik tenaga diesel) jadi lebih mahal, sepatutnya kita lebih mengandalkan sumber energi panas bumi.

Dengan pengelolaan yang baik, sebuah sumur panas bumi di lapangan panas bumi Kamojang, misalnya, bisa konstan menghasilkan energi meskipun sudah dimanfaatkan 20 tahun. "Oleh karena ini energi terbarukan, dengan pengelolaan yang baik, kita tidak akan tahu sampai kapan energi ini akan habis. Lagi pula, energi panas bumi tidak terganggu oleh musim, kerusakan lingkungan sekitarnya, dan faktor lain seperti yang membuat energi air sulit diandalkan," kata Ir Aidil Hasibuan, pimpinan area geotermal Kamojang.

Jadi, tunggu apa lagi?  (Rakaryan Sukarjaputra)

Sumber : Kompas

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook