Alpen Steel | Renewable Energy

~ Bohlam Dengan Kekuatan 70 Watt

Selamatkan Bumi, Gagasan Lama yang Selalu Dibarukan Dalam kongres FIABCI tahun 1991 di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat, isyu tentang mendesaknya perlindungan bumi, perlunya pengembang berpaling dari aspek untung semata ke keberpihakan pada lingkungan hidup sudah didengungkan. Ketika itu para pengembang bersuara keras untuk membela kelestarian bumi, dan oleh karena itu akan mengembangkan perumahan dan apartemen yang ramah lingkungan.

Wujud dari konsep ramah lingkungan itu adalah mengerjakan proyek properti yang benar-benar hijau. Artinya, perumahan yang dibangun benar-benar didukung oleh hutan kota, kebun mungil, drainase yang bagus, pengolahan air limbah menjadi air bersih dan pengolahan sampah menjadi sesuatu yang berguna. Dengan cepat isyu ini berhembus ke seantero dunia. Para pengembang sejagat langsung mengaplikasikan gagasan besar ini di lapangan.

Sejumlah pengembang negara maju bahkan mempraktikkan keberpihakan kepada lingkungan itu dengan cara yang angat radikal. Mereka tidak saja menanam banyak pohon, menampung limbah padat dan cair lalu mengolahnya menjadi zat yang berguna, bukan hanya membuat danau untuk reservasi air, bukan sekadar menyediakan 35 persen areal properti untuk ruang terbuka hijau, tetapi sudah melangkah jauh dari itu. Para pengembang sudah berkreasi dan berinovasi amat jauh untuk menghasilkan produk properti yang benar-benar ramah lingkungan.

Wujud riil dari “kreasi dan inovasi” tersebut adalah membangun dari materi yang diproses sangat ramah lingkungan. Batu bata, seng, kayu, papan, genteng, kaca, ubin, kusen, batu alam dan sebagainya diproses sedemikian rupa dari jalan-jalan yang dilegalkan oleh “rule” lingkungan. Rumah itu, misalnya diterangi oleh listrik yang berasal dari energi matahari. Bohlam yng digunakan adalah bohlam yang sangat hemat energi. Satu bohlam dengan kekuatan 70 watt, hanya menggunakan 2 watt energi listrik. Mengapa? Oleh karena bohlam yang terdiri atas sekitar puluhan butir bahan penerangan itu, hanya terdiri atas 0,01 watt per butir

Atau bahan untuk pancuran air (mandi) menggunakan bahan yang hemat energi. Air yang muncrat seolah banyak tetapi sebetulnya tidak, sebab air yang dikucurkan diukur sedemikian rupa, intinya jangan buang percuma air bersih. Atau, kayu misalnya, diperoleh dari limbah kayu yang diolah dengan teknologi tinggi sehingga menjadi kayu yang kokoh, tahan rayap dan anehnya tetap elok dipandang. Meja dan ranjang dibuat dari serpihan kayu yang diolah melalui proses ramah lingkungan, hemat energi. Lalu kertas dinding, diambil dari kertas hasil olahan.

Di sejumlah negara mau, sebutlah misalnya Amerika Serikat, Jepang, Australia, Selandia Baru, dan negara-negara Skandinavia sudah tiba pada tahap menanam pohon di atas gedung dan atap rumah. Di seumlah kota,jalan tol yang ada dijadikan hutan kota. Lalu jalan tolnya dipindahkan ke bawah tanah. Ini kemajuan yang sangat berarti.

Di RR China,komitmen kepada lingkungan ditunjukkan dengan menggunakan air bekas limbah. Misalnya air bekas mandi, cuci pakaian atau bahkan air yang sudah digunakan untuk (maaf) cebok, bisa diolah sedemikian rupa,melalui banyak saringan, sehingga muncul air yang layak digunakan untuk “nyentor” toilet, menyiram tanaman, mencuci mobil, dan bahkan untuk mencuci pakaian. Air seperti ini belum dibolehkan untuk minuman manusia.

Atas hal tersebut masih muncul pertanyaan kritis atasnya, yakni apa arti hemat energi tersebut, apa makna hemat air ini kalau ternyata pengolahan itu menggunakan bensin atau solar? Para penganjur ramah lingkungan ini tertawa lebar dan menjawab bahwa untuk mengolah air ini mereka menggunakan listrik yang diperoleh dari energi matahari. Mereka menegaskan tidak menggunakan bensin atau solar sama sekali.

Semua bahan atau upaya hemat energi tersebut memang membuat bahan yang digunakan menjadi sedikit lebih mahal, lebih kurang 10 persen dari total anggaran yang biasa digunakan kalau tidak ramah lingkungan. Akan tetapi kemahalan bahan itu, dan lebih banyaknya upaya yang diluncurkan, mestinya sirna karena ditutup oleh makna penyelamatan lingkungan yang bermakna agung. Inilah salah satu makna besar mengapa ramah lingkungan itu perlu komitmen kuat, tidak sekadar jargon-jargon. Tidak bisa diselesaikan hanya melalui kongres, seminar, lokakarya, komite-komitean dan semacamnya.

Akan tetapi sayang, menurut data tidak resmi yang diperoleh penulis, tidak sampai delapan persen pengembang dunia yang sangat konsisten menyusuri jalan-jalan ramah lingkungan. Selebihnya memandang aspek ramah lingkungan dengan raut tidak peduli. Atau, kalaupun hendak peduli, menyikapinya secara serampangan.

Misalnya, asal tanam banyak pohon. Mereka berpikir dengan menanam banyak pohon, dan ketika perumahannya teduh oleh rimbunnya pepohonan, urusan selesai. Padahal makna ramah lingkunan, arti yang dalam dari upaya menyelamatkan bumi amat berwarna dan penuh nuansa.

Seperti diutarakan di awal tulisan ini, ramah lingkungan, dan usaha menyelamatkan bumi tidak sekadar tanam banyak pohon. Itu hanya satu aspek dari puluhan aspek pokok yang mesti dipenuhi.

Kalau tidak memiliki anggaran besar menyediakan listrik tenaga matahari, apabila bujet tidak cukup untuk mengolah limbah, pengembang bisa melakukannya dengan jalan-jalan sangat sederhana, misalnya menampung air hujan, di bak-bak raksasa. Jangan biarkan air hujan mengalir langsung ke selokan, lalu ke laut. Mestinya ada upaya lebih untuk menampung 90 persen air hujan itu di bak-bak khusus. Air hujan tersebut kemudian bisa digunakan untuk sarana mandi-cuci-kakus (MCK) yang tentu sangat efektif.

Jalan lain, membangun sumur resapan agar ketersediaan air tanah selalu memadai. Memang usaha ini sedikit menguras tenaga dan sedikit rupiah, tetapi  jalan ini sangat legal, amat memberi manfaat untuk kelestarian alam, dan manusia.

Tahun ini, kongres FIABCI di Bali kembali mengobarkan tema besar menyelamatkan bumi dengan jalan membangun proyek-proyek properti yang hijau dan ramah lingkungan. Ini tentu bukan tema baru, tetapi akan selalu “dibarukan” sebab tetap hot dan seksi sebagai isyu-isyu besar. Besar harapan kita kongres itu menghasilkan jalan-jalan konkret untuk menyelamatkan bumi

Manusia sejagat sudah sangat tercengang menyaksikan akibat-akibat dahsyat dari pemanasan global. Es di kutub dan di gunung mencair sangat cepat. Iklim di lima benua mulai berubah, suhu pun makin panas.

Warga dunia tentu mau diajak pengembang untuk sadar lingkungan.Untuk itulah pengembang mesti memberi contoh konkret atas upaya penyelamatan bumi. Proyek yang dilepas ke publik mestinya mencerminkan keberpihakan kepada penyelamatan lingkungan.
Abun Sanda, pemerhati properti

 

Sumber : Kompas


Artikel yang berhubungan:
Baca Juga:
Artikel sebelumnya:

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook