Alpen Steel | Renewable Energy

~ Mengatasi Permasalahan Listrik di Riau

 Riau Diusulkan Masuk Krisis Listrik Nasional

Pemerintah Provinsi Riau akan mengusulkan krisis listrik di wilayahnya menjadi krisis nasional. Dengan begitu pemerintah pusat bertanggung jawab untuk segera mengatasi permasalahan listrik di Riau.Hal itu dikatakan Bappeda Riau Emrizal Pakis usai menerima Dewan Energi Nasional (DEN) di Kantor Gubernur Riau, Kamis (10/9). 

Dua pejabat Dewan Energi Nasional, yakni Herman Darnil Ibrahim dan Mukhtasor, secara khusus menemui Pemprov Riau guna menindaklanjuti laporan soal krisis listrik di Riau."Kita akan usulkan krisis listrik di Riau menjadi krisis nasional," ujar Emrizal Pakis.

"Pemadaman bergilir yang mencapai 12 jam per hari dan tingginya defisit energi listrik di Riau, termasuk salah satu gambaran yang bisa mengusulkan krisis listrik Riau sebagai krisis nasional," kata dia lagi.Menurut Emrizal, pemerintah pusat diminta memberikan perhatian serius terhadap Riau, karena semua regulasi kelistrikan itu berada di pusat.

Termasuk di antaranya kebijakan pembangunan PLTU Riau 2x100 MW yang semula ditargetkan selesai pada 2012.Riau sendiri tidak masuk dalam program pengadaan listrik 10.000 megawatt yang tengah digesa pemerintah pusat. Gubernur Riau Rusli Zainal sudah melobi pusat agar Riau dimasukkan dalam program tersebut.

Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah menjanjikan itu, tapi kelanjutannya belum jelas. Usai pertemuan, Herman Darnil Ibrahim mengatakan akan menampung semua usulan termasuk agar Riau masuk dalam krisis listrik nasional. "Kita akan bahas pada rapat pleno sekitar bulan Oktober nanti," kata dia.

Herman menuturkan, Riau merupakan daerah pertama yang dikunjungi Dewan Energi Nasional setelah terbentuk pada 17 Maret 2009. Dari masukan-masukan yang diterima, Dewan Energi Nasional menyimpulkan Riau sudah masuk dalam kategori krisis energi.Dia lalu mengutip Pasal 5 ayat 1 UU No.30/2007 tetang Energi, bahwa sebuah daerah bisa dianggap mengalami krisis energi jika jumlah pasokan tak sebanding dengan kebutuhan.

"Minimnya pasokan listrik telah mengganggu kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat," ucapnya. Kurang 109 MW Manajer SDM dan Humas PLN (Persero) Wilayah Riau dan Kepri, Suandi Siregar mengatakan, beban puncak listrik di Riau mencapai 273 MW. Namun seluruh pembangkit di Riau hanya mampu memasok 140 MW. Bahkan dalam kondisi normal, pembangkit yang di Riau hanya menghadilkan 164 MW.

Kekurangan daya 109 MW saat situasi normal disubsidi jaringan interkoneksi. Namun, ketika pembangkit sedang dalam mengalami gangguan seperti menurunnya air waduk PLTA Koto Panjang, daya yang dihasilkan bisa berkurang hingga 40 MW, maka kekurangan akan bertambah menjadi 149 MW. Akibatnya, pemadaman bergilir yang biasanya berdurasi singkat akan menjadi panjang.

"Krisis listrik di  Riau saat ini merupakan krisis terparah sepanjang sembilan tahun terakhir. Saat ini pembangkit kita di Riau hanya mampu menghasilkan daya 50 persen dari beban sebanyak 273 MW. Kalau kekurangan 10 MW atau 20 MW itu bisa diatasi, namun sekarang kekurangan malah sangat besar, yakni 109 MW," tutur Suandi.Dengan kondisi seperti itu, Suandi menilai sangat wajar bila krisis listrik di Riau masuk dalam krisis listrik nasional. (ksi/cr5

 


Emrizal Pakis Ketua Bappeda Riau
PEKANBARU, TRIBUN
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook