Alpen Steel | Renewable Energy

~ Listrik Yang Byarpet Berimbas Pada Pengusaha Kecil

Listrik "Byarpet" Pelanggan Lari.. Duh...

Listrik yang byarpet belakangan ini bukan hanya membuat para penghuni rumah tinggal menjadi geram. Lebih dari itu, para pengusaha kecil mendapatkan imbas kerugian yang tidak sedikit. Mereka pun menjadi mumet.
Salah satu korban listrik byarpet itu adalah para pelaku usaha konfeksi di kawasan Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. "Mau bagaimana lagi? Jahit pakian nggak bisa dan yang lebih parah, berdagang kalau matilampu juga sepi," ujar Syamsir (40), salah satu pengusaha pakaian.
Dia ditemui Warta Kota di tempat konfeksinya di Jalan Halimah, Cipulir, Kebayoran Lama, kemarin. Menurut Syamsir, dalam sehari is clan para karyawannya biasa memproduksi 300 potong pakaian. "Kalau listrik mati siang hari, ya tidak ada yang dijahit," ujar pria asal Sumatera Barat ini.
Matinya listrik mengakibatkan matinya produksi industri pakaian rumahan ini. Pelanggan juga bisa lari. Bahkan, pria yang sudah bertahun-tahun berdagang di Pasar Cipulir ini juga kebingungan berdagang saat mati lampu.
Jika pasar sedang ramai, ia bisa beromzet penjualan hingga belasan juta rupiah per hari. Namun, lantaran pasar juga gelap gulita, para pembeli enggan masuk ke pasar dan berbelanja. "Kita juga ambil barang dalam bentuk Pakaian jadi dari orang lain. Tapi, kalau di pasar mati lampu, minimal itu rugi Rp 500.000 sehari," jelasnya.
Syamsir dan empat karyawan di tempat konfeksinya harus selalu waswas dan mempercepat pekerjaan jika lampu menyala. Namun belakangan ini, listrik padam minimal tiga kali seminggu, dengan waktu padam berkisar tiga sampai lima jam.
la hanya bisa berharap listrik kembali normal. Sebab, tidak ada solusi alternatif untuk menghidupkan peralatan mesin jahit, mesin potong dan obras, selain menggunakan listrik dari PLN. Penggunaan mesin genset dinilainya juga tidak terlalu mendesak, selain listrik yang dihasilkan tidak memadai, penggunaan bahan bakar juga memangkas ongkos produksi yang tinggi.
Hal serupa dirasakan oleh Budi (32), salah satu karyawan konfeksi celana jins di Cipulir. Dalam sehari, konfeksi celana jins tempatnya bekerja mampu memproduksi 2.000 hingga 2.300 potong celana. Konfeksi tempatnya bekerja memproduksi celana setengah jadi dan kemudian dipasangi merek dan logo.
"Kalau mati lampu tiga sampai empat jam, paling bisa selesai cuma 700 potong, tapi kalau seharian ya tidak bisa produksi," ujarnya. la enggan menjelaskan omzet yang berkurang akibat mati istrik yang acap terjadi ini. Namun jika satu hari saja tidak berproduksi, usaha konfeksi celana jins ini akan rugi jutaan rupiah.
Konfeksi yang menyuplai ke toko di Cipulir ini memiliki 30 karyawan. Jika listrik mati, para karyawan tidak bisa menjahit dan memotong kain. Biasanya mereka hanya melakukan pengepakan plastik dan mengikat tumpukan celana tersebut. Selebihnya beristirahat menunggu listrik menyala kembali.
"Kadang kita sudah tau listrik mau mati, kalau di pasar (Cipulir) kan dikasih tau, jadi kita sudah siap-siap," jelasnya. Budi dan para pekerja lainnya berharap aliran listrik segera normal dan tidak menghambat pekelaan dan mengancam pendapatan.

WARTA KOTA/ Ahmad Sabran
Laporan wartawan Warta Kota Ahmad Sabran

JAKARTA, KOMPAS.com

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook