Alpen Steel | Renewable Energy

KHAYALAN ”AKU” TENTANG SEBUAH DESA MANDIRI ENERGI DAN SMK PINGGIRAN

Amak Amet adalah seorang pria paruh baya yang tinggal di sebuah padukuhan kecil di bawah kaki Gunung Rinjani. Tempat ini jauh dari keramaian, jauh dari listrik, jalannyapun belum di aspal, jarak ke kota 60 km, singkatnya kampung Amak Amet belum tersentuh pembangunan. Kesehariannya Amak Amet dan warga yang lain mencari makan dengan bercocok tanam di sawah maupun kebun... hasilnyapun di cukup cukupin, maklum petani tradisional.

Satu harapan besar yang dimiliki Amak Amet, anaknya yang bersekolah di SMK. Sebut saja Udin namanya. Udin belajar giat dan sering ikut gurunya bekerja di unit produksi dan pembuatan teknologi tepat guna dengan harapan dapat membangun kampungya yang primitiv. Tibalah saatnya udin kembali kekampung halamannya meskipun Udin tidak lulus Ujian Nasional karena nilai Bahasa Inggrisnya 3,50. Udin pulang kampung tanpa membawa STK.

Lima tahun pasca kepulangan Udin, kampungnya menjadi sebuah kampung yang mandiri dalam segala aspek...tidak butuh listrik, tidak butuh minyak tanah, tidak butuh solar, tidak butuh pupuk, tidak pernah kekurangan beras, gizi masyarakat tercukupi bahkan balitanya gemuk-gemuk dan sehat, manula-pun sehat dan berumur panjang. Jika warga sakit, Udin dan masyarakat sekitar sudah terbiasa menggunakan obat organik yang turun-temurun dari nenek moyang mereka. Sakit perut misalnya di berikan ramuan daun jambu batu, luka-luka di berikan ramuan daun “bebele” , malaria di berikan biji buah “ceruling” dan lain sebagainya.

Delapan tahun berjalan Udin telah menikah dan mempunyai seorang anak. Udin hidup layak sebagai seorang petani. Rutinitas Udin Ba’da subuh adalah jalan jalan di temani anaknya yang masih kecil menikmati udara segar yang bebas CO2, bebas debu pabrik, dan bebas polusi. Udin duduk di teras rumah sembari menikmati secangkir kopi susu dan pisang goreng yang dimasak menggunakan kompor bio gas. Kopi dan pisang di peroleh Udin dari kebun di samping rumah, sedangkan susu di perah dari domba yang diberi makan bungkil jarak. Minyak goreng dibuat sendiri oleh istri Udin dari pohon kelapa yang ada di kebun.

Aktifitas Udin dilanjutakan dengan pergi kesawah. Sambil berjalan, Udin menenteng sepuluh liter minyak bio diesel yang berasal dari buah jarak. Udin dan masyarakat mengekstrak sendiri minyak jarak pagar yang di panen dari kebunnya. Minyak jarak digunakan Udin untuk menjalankan traktor yang berbahan bakar bio-diesel. Sambil istirahat sesekali Udin berjalan ketepian sawah dimana terpasang unit pembangkit listrik tenaga air.

Udin memeriksa generator dan perlengkapan pembangkit kalau-kalau ada masalah. Unit pembangkit listrik tanaga air ini di pasang Udin dan warga secara swadaya untuk memanfaatkan aliran air yang cukup untuk menghasilkan listrik 12KW. Di samping pembangkit listrik tenaga air ini terdapat sebuah tower kincir sebagai pembangkit listrik tenaga angin, maklum letak kampung Udin berada pada ketinggian 1500 meter diatas permukaan laut sehingga potensi angin cukup untuk mengasilkan listrik. Kebutuhan listrik kampung Udin yang terdiri dari 200KK mampu dilayani oleh kedua unit pembangkit tersebut.

 

Setelah memastikan kedua pembangkit dalam kondisi baik, Udin bergegas kembali kesawahnya melewati sekelompok tetangganya yang sedang menebarkan pupuk organik yang terbuat dari sludge bio gas di campur kompos. Disampingnya lagi tampak Amak Ocong yang sedang menyemprot kacang panjang menggunakan pestisida organik yang terbuat dari dari ramuan daun pohon pepaya, daun sirih, daun jarak pagar, dan daun pace. Karena sudah siang, perut Udin sudah mulai keroncongan sehingga dia seger bergegas pulang untuk makan siang. Di rumah, istrinya yang setia telah menyiapkan hidangan berupa ikan gurami bakar, plus “beberok” timun, masakan kesukaan Udin. Ikan gurami berasal dari kolam di sebelah sawah yang diberi pakan menggunakan pelet yang terbuat dari sampah organik sedangkan ikan gurami di bakar menggunakan arang yang terbuat dari kulit biji jarak. Beberok timun aman unutk di konsumsi karena menggunakan pupuk organik dan pestisida organik

.

Sore hari menjelang malam, Udin bergegas ke masjid untuk azan magrib. Masjid ini rutin digunakan oleh warga sekitar untuk sholat berjamaah, pengajian dan tadarrusan. Spekaer di masjid menggunakan accu yang di cass menggunakan energi bio-solar tenaga matahari. Hanya lampu saja yang menggunakan instalasi listrik tenaga air dan angin. Karena Udin, masyarakat di kampungnya dapat menikmati tayangan televisi dengan menggunakan reciver parabola, VCD dan DVD. Padahal delapan tahun lalu, desa tempat tinggal Udin adalah desa primitif yang tidak tersentuh pembangunan apalagi teknologi. Dengan apa yang dimiliki kampungnya, Udin santai saja melihat di TV yang memberitakan harga BBM naik, cadangan minyak dunia menipis, pupuk pertanian mahal, obat-obatan mahal dan sembari tersenyum melihat warga yang antri minya tanah sampai 5 jam.

Apa yang “aku” khayalkan adalah ilustrasi saja, Namun pasti bukan kemustahilan. Potensi Energi Alternatif di Pulau Lombok sangat berlimpah. Kalau kita merujuk dari data data yang diperoleh di ntb.go.id maupun lomboktimur.go.id menyebutkan bahwa : pertama potensi bio gas dari kotoran ternak diperoleh data tahun 2004 di Lombok Timur adalah: Kuda 7.754 ekor, Sapi 60.896 ekor, Kerbau 4.759 ekor, Kambing 54.385 ekor, Domba 7.976 ekor, sedangkan Ayam Buras 966.309 ekor, Ayam Ras 184.680 ekor dan Itik 103.441 ekor, kedua :. NTB juga memiliki energi lokal terbarukan berupa panas bumi yang terdapat di Sembalun (Kab. Lotim), Maronge (Kab. Sumbawa) dan Hu’u (Kab. Dompu), dengan total potensi 81 MW. Potensi tenaga air juga merupakan solusi masalah kelistrikan terutama di daerah, dan pemerintah mulai membangun PLTA skala mikro. Sementara itu potensi tenaga angin juga dibangun dengan kapasitas 60 KW. Ketiga : dan lain-lain

 

Data adalah data, menurut “aku” penting bagi kita mengembangkan sendiri setiap potensi di sekitar kita tanpa harus berharap terlalu banyak dari pemerintah. Pemerintah daerah sudah terlalu sibuk dengan urusan politik, pilkada, perbaikan kesehatan masyarakat yang memalukanpun belum tuntas dengan masih adanya kasus busung lapar, gizi buruk dan bahkan kematian ibu dan anak yang masih tinggi. Pemerintah daerah juga belum tuntas memperbaiki mutu pendidikan daerah kita sehingga masih memiliki indeks prestasi yang terendah di bandingkan daerah lain. Kompleks sudah permasalah daerah kita, biarkan pemerintah melakukan perbaikan di sektor prioritas.

Namun kita jangan berdiam diri, mari kita kembangkan daerah dengan menggali setiap potensi yang ada di sekitar kita dengan teknologi yang sederhana. Misalnya, pertama : sampah organik dapat di olah menjadi briket untuk bahan bakar dan kompos untuk mendukung pertanian organik, kedua limbah tahu, limbah kotoran ternak, limbah kotoran manusia dapat di ubah menjadi bio-gas, (CH4), sebagai gambaran bahwa limbah dua ekor sapi dapat mengganti kebutuhan minyak tanah sebesar dua liter per-hari cukup untuk memasak kebutuhan dapur lima orang, di samping itu…endapan lumpur dari reactor biogas ini dapat di gunakan sebagai pupuk yang kaya akan NPK. ketiga : cadangan sumber sumber aliran air dapat di jumpai dengan gampang di sekitar kita, sebagai gambaran bahwa air dengan debit lima liter per-detik dengan ketinggian tiga meter dapat menghasilkan listrik 150 Watt cukup untuk kebutuhan penerangan dua rumah. Keempat : bgitupun dengan potrensi membuat kicir generator tenaga angin, potensi kepulauan kita memberi keuntunagn sendiri dengan ketersediaan tenaga angin di sepanjang pantai, Kelima : lahan yang tidak potensial dapat di tanami dengan jarak pagar dengan pitensi hasil yang sangat menggembirakan karena jarak berbuah terus menerus, bayangkan jika BBM mencapai Rp 20 ribu per-liter.

Bayangkan Iran di infasi Amerika… bisa berabe…., keenam : potensi membuat sendiri obat organik maupun pestisida organik misalnya dengan daun pepaya, daun sirih, daun jarak, daun pace dan lain sebagainya. Ketujuh : membuat sendiri alat-alat yang berbasis teknologi tepat guna semisal kompor briket, perontok padi, perontok jagung, pengupas melinjo, pengupas kelapa, pengupas mete. Kedelapan : membuat makanan dan cemilan dari bahan bahan yang murah dan cenderung terabaikan semisal : emping biji rambutan, emping biji durian, sari kulit rambutan/ durian untuk pengawet organik, virgin coconut oil, asap cair, minyak atsiri dan lain sebagainya.Terakhir membuat sendiri tanaman organik menggunakan pupuk dan pestisida organik baik untuk palawija maupun tanaman buah di sekitar rumah. Tanaman buah dapat di kembangkan menggunakan pot. Keseluruhan potensi ini dapat di kembangkan secara mandiri maupun kelompok.

Bagaimana cara “aku” dalam mewujudkan impian “desa mandiri energi”..?. Pola pengembangan yang tercepat dan dilupakan oleh pemerintah daerah adalah pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan di pinggiran. SMK di pinggiran akan mengembangkan potensi potensi ynag sesuai dengan keadaan si sekitarnya. SMK di rasakan tepat dalam melakukan transfer teknologi secara cepat, murah dan efektif ketimbah mendidirkan lembaga-lembaga kursus yang berbiaya mahal, daya tampung terbatas dan letaknya di kota menimbulkan ketidak merataan pola penyebaran teknologi di daerah. SMK memiliki teknologi dan memilki akses dalam pengembangan teknologi melalui pendidik yang dituntut untuk terus mengembangkan diri. Mungkin kita perlu mencontek apa yang dilakukan Cina dalam meningkatkan eknomi mikronya yaitu dengan memperbanyak sektor-sektor teknologi sampai kesemua pelosok daerah sehingga pemunculan home industri sangat merata dan beraneka ragam. Tak heran istilah mocin “motor cina” harganya sangat murah dikarenakan di buat oleh home industri.

Dengan pemberdayaan SMK di pinggiran di harapkan terjadi percepatan transfer teknologi kepada masyarakat yang pada akhirnya membantu proses pembangunan daerah. Salah besar pemerintah daerah yang membuka SMK di kota, alasan ini diperkuat karena peminat SMK adalah masyarakat pedesaan dan golongan ekonomi menengah kebawah sehingga siswa daerah pinggiran cenderung sulit untuk bersekolah di SMK. Dengan demikian pengembangan desa mandiri energi mungkin akan terwujud di desa desa pinggiran yang akan di pelopori oleh siswa siswa SMK Pinggiran.

 

OLeh: M. Khairul Ihwan, MT (Pusat Kajian dan Penerapan TTG SMKN 1 Selong)
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook