Alpen Steel | Renewable Energy

~ Usaha Serius Dan Sistematis Penerapan Energi Terbarukan

Harapan Kepada Angin: Di Mana Angin Berhembus, Listrik Bisa Dihasilkan

KRISIS energi saat ini sekali lagi mengajarkan kepada bangsa Indonesia bahwa usaha serius dan sistematis untuk mengembangkan dan menerapkan sumber energi terbaru guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil perlu segera dilakukan.

Penggunaan sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan hidup dari berbagai dampak buruk yang ditimbulkan akibat penggunaan BBM. Dengan alasan pertimbangan ekonomis, belum seluruh penduduk di tanah air bisa menikmati layanan PLN. Desa atau dusun yang terpencil dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit sebagian besar belum tersentuh layanan listrik. Desakan untuk meninggalkan minyak bumi sebagai sumber pengadaan energi nasional saat ini terus digulirkan oleh berbagai pihak, termasuk dari pemerintah sendiri. Langkah tersebut diperlukan agar Indonesia keluar dari krisis energi yang berkelanjutan. Beberapa sumber energi yang ramah lingkungan dan dinilai efisien adalah tenaga angin (wind power).

Pada asasnya angin terjadi karena ada perbedaan suhu antara udara panas dan udara dingin, di udara yang panas maka udara tersebut akan mengembang dan menjadi ringan, naik ke atas dan bergerak ke daerah yang lebih dingin. Sebaliknya di daerah yang dingin udara akan turun ke bawah, sehingga terjadi perputaran udara, perpindahan udara tersebut yang akan menghasilkan angin. Apabila perbedaan sangat ekstrim maka akan terjadi pergerakan angin yang sangat cepat (Angin Gusti atau Puting Beliung).

Angin yang telah lama dikenal dan dimanfaatkan manusia. Perahu-perahu layar menggunakan energi ini untuk melewati perairan sudah sejak ingatan manusia. Pasukan Viking yang sangat ditakuti sekian ratus tahun yang lalu mengunakan kapal-kapal layar kecil untuk menelusuri pantai-pantai Eropa dari Skandinavia. Christopher Columbus masih memakai kapal layar besar di abad ke-15 untuk menemukan benua Amerika. Diketemukan kincir angin telah digunakan untuk menggiling tepung di Persia dalam abad ke-7. Sungguhpun bentuk kincir angin ini berlainan dengan kincir angin Eropa, kincir angin Persia itu merupakan asal mula kipas angin Eropa. Kincir angin negeri Belanda yang dipakai untuk menggerakkan pompa irigasi dan untuk menggiling tepung hingga kini masih tersohor, walaupun pada saat ini hanya berfungsi sebagai obyek pariwisata. Akan tetapi, dalam rangka mencari bentuk-bentuk sumber energi yang bersih dan terbarukan kembali energi angin mendapat perhatian yang besar.

Tak Sekadar Energi Ramah Lingkungan

Selain memenuhi kebutuhan listrik masyarakat suatu desa atau dusun, gagasan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Angin (PLT Angin) ini bertujuan sebagai media pendidikan (model) tentang energi alternatif yang ramah lingkungan. Lebih jauh lagi, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Angin juga menjadi sarana pendidikan lingkungan untuk pelestarian hutan. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Angin ini membawa misi meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat luas dalam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Di samping itu, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Angin juga diharapkan mampu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat melalui usaha produktif berbasis potensi sumber daya alam lokal dan kelistrikan. Melalui proyek ini diharapkan muncul kesadaran masyarakat bahwa angin dapat menghasilkan sumber energi yang memberikan manfaat berupa energi listrik. Dampaknya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai rangkaian multiplier effect.

Masyarakat adalah sasaran utama dan bagian penting dari program. Karena itu, keterlibatan masyarakat harus dilakukan agar muncul rasa memiliki. Pendekatan kepada kepala desa dilakukan untuk mendapatkan dukungan sekaligus membantu penjelasan kepada masyarakat. Semangat masyarakat harus dibangkitkan karena mayoritas pesimistis dengan lokasi dusun yang terpencil. PLN saja tak bisa masuk, pikir mereka. Selain itu, masyarakat punya pengalaman kurang baik dalam usaha membangun listrik swadaya dengan menggunakan kincir angin. Pembangunan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Angin dan jaringannya tidaklah mudah. Bukan hanya mesin turbin yang dibutuhkan, tapi juga memerlukan sumber, peralatan pendukung.

Kekuatan Angin

Stevenson, seorang ahli mengatakan yang dituliskan dalam Hukumnya yaitu Kekuatan angin bertiup adalah sebanding dengan (berbanding lurus) dengan gradient barometernya. Jadi makin besar gradient-barometernya, makin kuat angin bertiup. Gradient-barometer adalah perbedaan tekanan udara antara 2 isobar pada jarak lurus 111 km. Beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan angin adalah: besar kecilnya gradient barometris (makin besar gradient barometrisnya makin besar kekauatan angina bertiup), Keadaan relief permukaan bumi (jika reliefnya halus rintanganya sedikit maka kecepatan angina tidak terganggu, jika reliefnya kasar rintangannnya banyak, maka kecepatan angina menjadi berkurang), Vegetasi (apabila banyak pohon-pohonan yang tinggi dan lebat maka akan mengurangi kecepatan angina. Sebaliknya tanah yang gundul dan datar akan sedfikit memberi hambatan terhadap kecepatan angin), Jarak dari permukaan bumi (angin yang bertiup pada permukaan bumi mendapat rintangan dari permukaan bumi yaitu dapat mengurangi kecepatan angin, di tempat yang tinggi angina bebas dari rintangan permukaan bumi).

Energi Angin dan Masa Depan

Pembangkit listrik tenaga angin disinyalir sebagai jenis pembangkitan energi dengan laju pertumbuhan tercepat di dunia dewasa ini. Saat ini kapasitas total pembangkit listrik yang berasal dari tenaga angin diseluruh dunia berkisar 17,5 GW. Jerman merupakan negara dengan kapasitas pembangkit listrik tenaga angin terbesar yaitu 6 GW. Kemudian disusul oleh Denmark dengan kapasitas 2 GW. Listrik tenaga angin menyumbang sekitar 12 persen kebutuhan energi nasional di Denmark, angka ini hendak ditingkatkan hingga 50 persen pada beberapa tahun yang akan datang. Cina akan membangun pembangkit listrik dengan menggunakan kincir angin yang mampu menghasilkan listrik 350.000 megawatt. Sebenarnya di Indonesia, teknologi kincir angin pun sudah diterapkan, khususnya di daerah-daerah terpencil yang tidak terjangkau dengan interkoneksi listrik jaringan.

Berdasarkan kapasitas pembangkitan listriknya, turbin angin dibagi dua, yakni skala besar (orde beberapa ratus kW) dan skala kecil (dibawah 100 kW). Perbedaan kapasitas tersebut mempengaruhi kebutuhan kecepatan awal (cut-in win speed) yang diperlukan: turbin skala besar beroperasi pada cut-in win speed 5 m/s sedangkan turbin skala kecil bisa bekerja mulai 3 m/s untuk Indonesia dengan estimasi kecepatan angin rata-rata sekitar 3m/s, turbin skala kecil lebih cocok digunakan, meski tidak menutup kemungkinan bahwa pada daerah yan berkecapatan angin lebih tinggi (Sumatra Selatan, Jambi, Riau dsb) bisa dibangun turbin skala besar. Perlu diketahui bahwa kecepatan angin bersifat fluktuatif, sehingga pada daerah yang memiliki kecepatan angin rata-rata 3 m/s, akan terdapat saat-saat dimana kecepatan anginnya lebih besar dari 3 m/s pada saat inilah turbin angin dengan cut-in win speed 3 m/s akan bekerja.***

*) Dosen Program Studi Fisika FMIPA, Unlam

Oleh: Totok Wianto, S.Si., M.Si.*
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook