Alpen Steel | Renewable Energy

~ Kebijakan Energi Nasional Terhadap Kapasitas Listrik

KEBIJAKAN ENERGI UNTUK PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK
 

Secara umum kebijakan energi nasional lebih bertumpu pada energi yang berasal dari fosil, terutama bahan bakar minyak (BBM). Khusus tentang penyediaan energi listrik dari kapasitas PLN yang terpasang, sebesar 72,85% energi dihasilkan dari bahan bakar fosil yang terdiri: 28,58% berasal dari pembangkit berbahan bakar gas, 25,28% dari minyak bumi, dan 18,99% berasal dari batu bara. Sedangkan tenaga listrik yang dihasilkan oleh tenaga air sebesar 11,96%, dan yang dihasilkan oleh panas bumi sebesar 1,51%.   Harga BBM yang mencapai antara 60 – 70 US dollar per barel berdampak terhadap semakin mahalnya biaya penyediaan tenaga listrik nasional. Hal ini diperumit lagi dengan kemampuan negara untuk menanggung subsidi semakin menurun, sehingga TDL selalu mengalami kenaikan secara signifikan. Keadaan ini diperparah lagi dengan perilaku penguasaha yang mematikan generator listriknya pada saat beban puncak. Masalah ini ditambah dengan semakin tuanya pembangkit milik PLN yang berdampak terhadap terjadinya krisis tenaga listrik pada saat beban puncak.

            Pemadaman listrik secara bergilir akan berdampak terhadap menurunnya produktivitas perekonomian. Ketiadaan tenaga listrik secara kontinu akan mematikan industri kecil dan menengah yang rata-rata tidak memiliki sumber daya cadangan untuk menghadapi black out. Kebijakan hemat listrik nasional di satu sisi akan mengurangi konsumsi listrik, tetapi di sisi yang lain akan mengurangi kualitas kehidupan manusia. Tertundanya operasi medis, macetnya jalan raya, pembatasan jam tayang TV dan siaran radio merupakan bukti kongkret yang dialami masyarakat. Apakah ini merupakan opportunity cost yang harus dibayar untuk menjamin kecukupan tenaga listrik  nasional ? Tentunya dalam jangka panjang biaya yang harus dikeluarkan akan semakin besar.  

            Kebijakan hemat listrik seharusnya diimbangi dengan riset dan pengembangan tentang penyediaan alat-alat elektronik yang hemat listrik di pasaran. Dalam jangka panjang seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi maka kebutuhan akan energi listrik nasional juga mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. PLN seharusnya memperbaiki kondisi pembangkitnya dan menambah jumlah pembangkit untuk menjamin pasokan tenaga listrik nasional. Di samping itu untuk menghindari gejolak harga energi dunia maka perlu dilakukan diversifikasi energi. Hal ini untuk mengurangi resiko dan menjamin kepastian penyediaan energi listrik nasional. Pertanyaan yang menarik untuk diajukan dalam tulisan ini adalah: Bagaimanakah diversifikasi energi yang harus dilakukan ? dan Bagaimanakah potensi penggunaan sumber energi alternatif untuk pembangkitan listrik ?  

 

Diversifikasi Energi

            Ahli energi membagi energi menjadi 3 bagian, yaitu: energi fosil (minyak bumi, batubara, dan gas alam), energi nuklir, dan energi terbarukan. Sifat dasar energi yang berasal dari fosil adalah tidak terbarukan, sehingga ada kemungkinan sumber energi ini akan habis jika digunakan secara terus menerus. Padahal proses pembentukan energi jenis ini diperlukan waktu yang sangat panjang. Di samping itu energi yang berasal dari fosil akan menyebabkan pencemaran air, udara, dan tanah yang luar biasa. Energi nuklir berasal dari proses fisi inti radioaktif, yang dapat menimbulkan energi panas. Sedangkan energi terbarukan biasanya berasal dari bahan nabati. Tujuan diversifikasi energi untuk pembangkitan listrik diharapkan akan mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi, menjamin kecukupan untuk pembangkit, bersifat sustainable, dan mengurangi pencemaran lingkungan.

            Langkah yang diambil oleh PLN untuk beralih dari penggunaan minyak bumi ke batubara dan gas merupakan kebijakan yang "bijaksana" pada saat ini. PLN dalam jangka pendek akan mengganti 12 pembangkitnya dengan menggunakan bahan bakar LPG ( liquid petroleum gas). Secara kimiawi LPG lebih baik jika dibandingkan dengan LNG, karena LPG termasuk kategori hidrokarbon C3-C4 (Propana dan Butana), sedangkan LNG C1-C2 (Methana). Di samping itu potensi LPG di Indonesia sangat besar yaitu sebesar 68,87 triliun kaki kubik yang terdiri atas cadangan non-associated gas sebesar 60 triliun dan cadangan associated gas sebesar 8,87 triliun kaki kubik. Cadangan tersebut tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan cadangan terbesar berada di Pulau Natuna, Kalimantan Timur, dan NAD. Selama ini LPG tersebut banyak digunakan sebagai komoditi ekspor, dan kurang di manfaatkan untuk sumber energi pada industri.

            Dengan menggunakan LPG maka PLN akan menikmati penghematan sebesar           Rp. 1.950, 00 per liter jika dibandingkan dengan HSD (high solar diesel ). Penghematan ini berdasarkan perhitungan selisih harga antara LPG dan HSD. Harga LPG impor sekitar              US$ 380 per-ton, sedangkan harga HSD sebesar Rp. 4.800 per liter. Sedangkan harga dalam negeri LPG sekitar US$ 320 per ton dan HSD sebesar Rp 4.300. Beban biaya tambahan yang harus ditanggung PLN antara lain penyediaan tempat penampungan LPG beserta segala infrastrukturnya atau menanggung biaya sandar kapal jika menggunakan kapal sebagai tempat penampungannya. Menggunakan kapal pengangkut sebagai penampungan LPG membawa kemudahan untuk pendistribusiannya sehingga keterlambatan stok energi bagi pembangkit dapat dikurangi, tetapi di sisi yang lain PLN akan menanggung biaya sandar kapal sekitar US$ 10.000/hari.

            Selain gas, bahan bakar fosil yang tersedia berlimpah di Indonesia yaitu batubara. Potensi cadangan batubara di Indonesia sekitar 36,34 X 109 ton, yang sebagian besar tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Dengan menggunakan R/P ratio (rasio antara reserve dan production), maka batubara akan habis sekitar 500 tahun lagi, sedangkan BBM dan gas alam akan habis 16   dan 34 tahun lagi. Fakta ini menunjukkan bahwa batubara merupakan sumber energi fosil yang paling berlimpah di Indonesia. Pangsa batubara sebagai sumber energi primer saat ini hanya sekitar 9%, dari jumlah tersebut yang digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik baru menghasilkan 18,99% dari kapasitas terpasang milik PLN. Saat ini pemanfaatan batubara masih sebatas untuk kebutuhan rumah tangga dan sebagai komoditi ekspor. Di sisi yang lain penggunaan batu bara sebagai sumber energi akan menyebabkan pencemaran lingkungan. Pemanfaatan gas methana yang berada pada lapisan batubara merupakan salah satu kebijakan yang patut dipertimbangkan. Hal ini karena Indonesia mempunyai cadangan gas methana sebesar 1,4 kali jumlah yang ada sekarang. Batubara yang ada tidak perlu diangkat ke permukaan, tetapi dirubah dengan menggunakan teknik pencairan di bawah tanah kemudian gasnya diambil. Manfaatnya akan mengurangi biaya penambangan dan bersih lingkungan.

            Dengan melakukan diversifikasi energi dan tidak bertumpu pada BBM maka keberlanjutan penyediaan tenaga listrik mempunyai harapan yang cerah. Harus tetap pula disadari bahwa batubara dan gas juga bersifat non renewable resources, sehingga dalam jangka panjang perlu dilakukan pengunaan energi alternatif dan sebaiknya dimasukan dalam kebijakan energi nasional. Subsidi dana penelitian dan pengembangan serta kebijakan alih energi alternatif merupakan faktor penting untuk sukesnya kebijakan energi nasional.

 

Mungkinkah Energi Nuklir ?

            Secara garis besar ada dua sumber energi untuk menghasilkan energi listrik dengan kapasitas besar dan ekonomis, yaitu menggunakan tenaga air dan menggunakan tenaga panas. Tenaga air dengan memanfaatkan tenaga grafitasi pada air terjun, sedangkan energi panas memanfaatkan energi yang terdapat pada uap bertekanan tinggi. Pemanasaan air dapat ditempuh dengan memanfaatkan energi yang dikeluarkan melalui proses pembelahan inti atom uranium (proses fisi inti). Pusat listrik ini sering disebut PLTN (Pusat Listrik Tenaga Nuklir). Rencana pemanfaatan energi nuklir oleh pemerintah untuk pembangkitan listrik sudah ada sejak tahun 1970-an, tetapi dalam pelaksanaannya baru sebatas pada riset studi kelayakan dan pembangunan reaktor untuk penelitian. Pro dan kontra selalu menyertai kebijakan pengembangan energi nuklir di Indonesia. Pertanyaannya mungkinkah Indonesia mengadopsi teknologi nuklir untuk pembangkitan listriknya ?

            Pemanfaatan energi nuklir untuk pembangkit listrik memiliki keunggulan karena sifat dasar dari energi nuklir adalah: (1) Merupakan sumber energi alam yang paling fundamental, (2) konsentrasi energi sangat tinggi, yaitu 1 gm U-235 atau setara dengan   3 juta gm batubara, (3) bersifat intensif teknologi, dan bukan merupakan intensif sumberdaya alam. Kemungkinan kebocoran reaktor nuklir dapat dikurangi dan proses daur ulang zat radioaktif   dapat diatasi dengan teknologi yang tersedia, (4) volume limbah kecil, mudah dikumpulkan, diproses dan diisolasi dari lingkungan manusia. Pembelahan melalui reaksi inti dengan neutron tidak menimbulkan polutan organik. Sehingga energi nuklir akan mengurangi pencemaran lingkungan, (5) bahan bakar (uranium) relatif mudah didapat di pasaran dunia dan dapat disimpan. Keadaan ini akan menjamin pasokan bahan bakar reaktor nuklir untuk pembangkitan listrik. Sehingga apabila dilihat dari sifat dasarnya energi nuklir merupakan sumber energi di masa depan, karena masih mudah di dapat dipasaran dunia, harganya tidak bergejolak, dan jumlah cadangan di dunia masih relatif banyak.

Krisis energi yang dipicu dengan semakin naiknya harga BBM dapat membuka kemungkinan penerapan teknologi nuklir sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Penguasaan tentang teknologi nuklir oleh ahli-ahli Indonesia sudah diupayakan sejak lama. Berdasarkan   kajian ekonomi pembangunan PLTN mempunyai keunggulan dan prospek yang cerah di masa datang dibanding PLT lainnya. Hal ini disebabkan oleh kemajuan dalam teknologi PLTN yang telah mampu mengurangi biaya pemasangan dan perawatan dengan tetap mementingkan faktor keamanan. Biaya pembangkitan listrik PLTN relatif lebih stabil dibandingkan dengan PLT fosil, sebagai contoh apabila biaya bahan bakar naik dua kali lipat maka ongkos pembangkitan listrik PLTN hanya akan naik sebesar 10%, sedangkan PLTU gas bumi akan naik sebesar 60% dan PLTU batubara akan naik sebesar 40%. Biaya pembangkitan listrik PLTN telah mencakup biaya untuk pengolahan limbah radiokatif dan biaya dekomisioning. Biaya ekternalitas PLTN paling rendah jika dibandingkan PLT lainya. Hal ini disebabkan PLTN tidak menimbulkan limbah organik yang dapat mengotori lingkungan. PLTN berbahaya jika terjadi kebocoran radioaktif dan proses daur ulang limbah nuklir yang membutuhkan waktu yang cukup lama.

Di Indonesia studi kelayakan penggunaan energi nuklir untuk PLTN sudah banyak dilakukan dengan kesimpulan sebagian besar menyatakan Indonesia layak menerapkan PLTN. Dukungan penggunaan energi nuklir untuk PLTN datang dari banyak kalangan dengan mengangkat isu utama krisis energi, kemungkinan implementasi penerapannya, dan sosialisasi tentang energi nuklir. Salah satu isu yang menarik yaitu bahwa pengusaan   teknologi nuklir merupakan salah satu penguasaan teknologi tinggi yang sangat dibutuhkan di masa depan. Di samping untuk kepentingan energi pembangkit listrik nuklir dapat dimanfaatkan untuk tujuan damai lainnya misalnya untuk bidang kedokteran, dan rekayasa genetika.

Kampanye kelompok yang setuju dengan energi nuklir kurang didukung dengan penguasaan media, sehingga proses pemahaman masyarakat tentang enerrgi nuklir belum banyak mengungkap aspek teknis dari energi nuklir itu sendiri. Penolakan penggunaan energi nuklir datang dari masyarakat terutama dari LSM pecinta lingkungan hidup. Isu yang selalu diungkap adalah tentang kemungkinan kerusakan pada reaktor, sehingga akan menyebabkan pencemaran zat radioaktif yang luar biasa. Isu yang lainnya berkaitan dengan sampah radioaktif yang tidak mudah disimpan dan mendaur ulangnya. Kecelakaan reaktor chernobil di negara bekas Uni Soviet dan bom atom Hiroshima-Nagasaki merupakan contoh yang selalu dikedepankan, sehingga muncul istilah " Nuclear Phobia", ketakutan yang berlebihan terhadap teknologi nuklir. Keberatan penguasaan teknologi nuklir oleh Indonesia juga datang dari negara maju yang menguasai dunia. Kekhawatiran muncul berkaitan dengan kemungkinan penggunaan nuklir sebagai senjata pemusnah masal. Hal ini disebabkan secara teknis merubah sebuah PLTN menjadi senjata pemusnah masal tidak memerlukan waktu yang lama. Isu ini dapat ditepis dengan kampanye yang menunjukkan keseriusan Indonesia dalam pengggunaan energi nuklir hanya untuk tujuan damai dan bukan untuk tujuan perang.   

 

Sumber Energi Alternatif

Di Indonesia sumber energi alternatif sangat banyak dan berlimpah yang terdapat di air, udara, dan terkandung dalam perut bumi. Menurut UU RI No. 20 tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan mengharuskan untuk menggunakan energi primer setempat yang ramah lingkungan dengan prioritas utama untuk menggunakan sumber energi yang terbarukan. Diversifikasi energi untuk pembangkitan listrik diharapkan akan mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi, menjamin pasokan listrik, dan mengurangi pencemaran lingkungan. Energi alternatif yang digunakan untuk pembangkitan listrik harus memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut: 1) Layak secara ekonomi, 2) Kemampuan penguasaan teknologi, 3) Bersifat renewable (terbarukan), dan 4) Mempunyai dampak pencemaran lingkungan yang paling minimal.

Beberapa dekade yang lalu telah dikembangkan pembangkit listrik tenaga angin, dengan memanfaatkan tenaga angin untuk menggerakkan generator listrik. Teknik ini diilhami oleh penggunaan tenaga angin di Belanda dengan menggunakan kincir angin untuk memecahkan biji-bijian. Penggunaan tenaga surya yang ditampung dalam panel surya untuk pembangkit listrik juga pernah diujicobakan. Dalam skala kecil dan terutama untuk daerah yang terpencil penggunaan energi angin dan tenaga surya untuk pembangkit listrik bisa menjadi alternatif solusi yang baik. Walaupun secara teknis memungkinkan, tetapi penggunaan sumber daya dari angin dan tenaga surya tidak disarankan untuk pembangkit listrik dalam skala besar. Hal ini disebabkan penggunaan tenaga angin dan surya dalam skala besar dirasa kurang efisien untuk menggerakkan generator listrik.

Sumber energi untuk pembangkit listrik yang berasal dari tenaga air sudah diadopsi PLN dalam bentuk pembangunan PLTA. Kapasitas penyediaan tenaga listrik dari instalasi PLTA hanya berkisar 11,96%. PLTA biasanya memanfaatkan gaya grafitasi bumi dari air terjun untuk menggerakkan generator listrik. Kecukupan pasokan air merupakan salah satu faktor yang harus tetap dijaga untuk menjamin pembangkit berjalan dengan optimal.   Bahan bakar PLTA secara tidak langsung disediakan oleh tenaga surya melalui proses daur hidrologi. Mungkin PLTA merupakan salah satu pemanfaatan energi surya yang paling layak digunakan dan ekonomis.

Potensi laut Indonesia dapat dijadikan sumber energi yang terbarukan. antara lain: Memanfaatkan energi gelombang, energi yang timbul dari perbedaan suhu antara permukaan air laut dan dasar air laut ( ocean thermal energy/OTEC), energi yang disebabkan oleh perbedaan tinggi air laut akibat pasang-surut, dan energi arus laut. Energi gelombang paling tidak dapat diprediksi, karena sangat tergantung pada cuaca. Sedangkan OTEC, pasang-surut, dan energi arus laut potensinya dapat diprediksi. Di samping itu laut juga mempunyai potensi sumber daya energi yang tak terbarukan yaitu methane hydrate. Methane hydrate adalah senyawa padat campuran antara gas methan dan air yang terbentuk di laut dalam akibat adanya tekanan hidrostatik yang besar dan suhu yang relatif rendah dan konstan di kedalaman lebih dari 1.000 meter.

Di Indonesia energi arus laut memberikan harapan yang besar untuk dapat digunakan sebagai sumber energi bagi penyediaan listrik. Letak Indonesia yang berada di antara dua samudera yaitu Samudera Pasifik dan Samudera Hindia menyebabkan Indonesia sebagai pertemuan antara kedua arus yang terjadi. Banyaknya pulau dan selat di Indonesia mengakibatkan terjadinya percepatan arus laut akibat interaksi antara bumi-bulan-matahari ketika melewati selat-selat tersebut. Kendala penerapan arus laut untuk pembangkit listrik antara lain: Satu; Sumber arus laut di Indonesia sangat spesifik dan tidak bisa disamakan dengan negara-negara di Eropa dan Amerika, sehingga memerlukan riset yang lebih mendalam. Dua; Output-nya mengikuti grafik sinusoidal sesuai dengan respons pasang surut akibat gerakan interaksi Bumi-Bulan-Matahari. Pada saat pasang purnama, kecepatan arus akan deras sekali, saat pasang perbani, kecepatan arus akan berkurang kira-kira setengah dari pasang purnama. Tiga; Biaya instalasi dan pemeliharaannya sangat mahal. Dua permasalahan terakhir dapat diatasi dengan menyetel peralatan pada saat arus laut paling kecil, dan perbaikan pada desain sistem turbin, roda gigi, dan sistem generator yang dapat bertahan dalam waktu yang lama (sekitar 5 tahun) tanpa perawatan khusus.

            Sumber energi terbarukan lainnya yaitu pengoptimalan pemanfaatan energi panas bumi (geothermal). Menurut data dari Indonesia Power potensi energi panas bumi di Indonesia hanya dimanfaatkan sebesar lima persen saja, dari 16.035 megawatt potensi yang ada baru dimanfaatkan sebesar 780 megawatt. Kapasitas terpasang PLN yang dihasilkan dari panas bumi hanya sebesar 1,51% dari keseluruhan tenaga listrik yang dihasilkan. Potensi tenaga panas bumi tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, terutama di sepanjang jalur pegunungan bagian selatan, yaitu di Sumatera sebesar 4.885 megawatt, di Jawa-Bali sebesar 8.101 megawatt, di Sulawesi sebesar 1.500 megawatt, dan di pulau-pulau lainnya sebesar 1.550 megawatt. Hambatan yang dihadapi dalam pemanfaatan energi dari panas bumi antara lain: Satu; Biasanya energi panas bumi terdapat di daerah terpencil. Sumber panas bumi biasanya terdapat pada daerah pegunungan yang memiliki ketinggian di atas 1.000 Mdpl. Dua; Mahalnya biaya investasi dan kecilnya tenaga listrik yang dihasilkan ke sistem interkoneksi. Ketiga; Tidak adanya perangkat hukum tentang pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia, sehingga harga panas bumi Pertamina masih mengikuti harga BBM atau sekitar Rp 582.4/Kwh.

Ahli-ahli biologi dan kimia menawarkan alternatif sumber energi dengan menggunakan energi biogas, yaitu pembangkit berbahan bakar sampah, sisa-sisa produksi, gambut, dan semacamnya. Sampah hutan yang berupa limbah kayu gergajian, potongan kayu tak terpakai bisa dimanfaatkan sebagai sumber alternatif penghasil energi. Dari proses biogas akan dihasilkan gas methan yang jika di bakar akan menghasilkan energi panas. Gas methan terbentuk karena proses fermentasi secara mendadak (tanpa udara) oleh bakteri methan atau disebut juga bakteri anaerobik dan bakteri biogas yang mengurangi sampah-sampah yang banyak mengandung bahan organik (biomassa). Pemanfaatan biogas di Indonesia masih sebatas untuk konsumsi rumah tangga, dan belum dimanfaatkan untuk penyediaan energi bagi kalangan industri Teknologi pengolahan sampah menjadi biogas memerlukan alat yang disebut alat pembangkit biogas atau digester. Teknologi pengolahan biogas ini banyak dimanfaatkan oleh India yang memiliki 400.000 alat pembangkit biogas.

Potensi   sektor pertanian yang menghasilkan tanaman sawit, jarak, tebu, ubi, dan sagu. Tanaman ini banyak dibudidayakan di Kalimantan, Sumatera, dan di Papua untuk sagu. Potensi sektor pertanian ini dapat diubah menjadi energi bio diesel, terutama tanaman jarak. Pada masa perang dunia II rakyat Indonesia "dipaksa" oleh penjajah Jepang untuk menanam jarak. Oleh Jepang tanaman jarak dirubah menjadi minyak jarak untuk bahan baku pelumas bagi pesawat terbang. Dalam perkembangannya minyak jarak dapat dirubah menjadi energi biodiesel. Teknologi untuk mengubah minyak jarak menjadi biodiesel sudah dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri. Tinggal menunggu pemerintah mengeluarkan kebijakan tata niaga, kebijakan harga, dan insentif sehingga energi ini dapat diperdagangkan. Pengembangan teknologi biodiesel di samping akan menyediakan pasokan energi biodiesel, juga dapat memberikan jenis tanaman alternatif bagi petani. Hal ini ditunjang oleh hasil riset BPPT yang mampu mempersingkat umur tanaman jarak dan memberikan hasil panen yang berlimpah.

 

Beberapa Kendala dalam Pelaksanaannya

            Kendala yang dihadapi dalam kebijakan diversifikasi sumber energi pembangkitan tenaga listrik di Indonesia antara lain: Satu; Adanya inkonsistensi antara rencana energy mix PLN dengan kenyataannya. Diharapkan penggunaan BBM menurun dan penggunaan gas meningkat, tetapi dalam kenyataannya penggunaan gas tetap dan BBM bertambah. Salah satu alasan yang sering dikemukakan antara lain susahnya mencari pasokan gas, karena sumur gas tidak mudah untuk diketahui cadangannya, sehingga berdampak tidak terjaminnya pasokan gas. Dua; Besarnya biaya reinvestasi untuk penggantian pembangkit yang telah ada dengan menggunakan sumber energi yang lain. Hal ini dapat diatasi dengan penggantian energi untuk pembangkit secara bertahap.

            Tiga; Untuk pengembangan energi alternatif yang terbarukan dibutuhkan regulasi oleh pemerintah. Regulasi yang dibutuhkan berhubungan dengan tata niaga sumber energi dan perangkat hukum sehingga energi alternatif dapat diperdagangkan. Ketiadaan subsidi dana untuk riset dan produksi energi alternatif merupakan kendala serius, Padahal subsidi untuk BBM amat sangat besar, jika diambilkan 2-3 persen saja, sudah cukup banyak yang bisa dilakukan. Hal ini berdampak terhadap peningkatan kualitas dan pemanfaatan sumber energi alternatif belum bisa memberikan nilai tambah yang besar. Empat; Hambatan penguasaan teknologi terutama untuk sumber energi yang berteknologi tinggi (baca: teknologi nuklir). Hal ini dapat diatasi dengan melakukan pelatihan sumber daya manusia atau transfer teknologi dengan memanfaatkan kontraktor asing yang bersedia membagi ilmunya dengan tenaga ahli dalam negeri.  

            Lima; Hambatan sosial budaya masyarakat. Hambatan ini muncul karena kurangnya pemahaman mayarakat terhadap pentingnya sikap hemat energi dan kebiasaan menggunakan energi. Perilaku masyarakat Indonesia yang relatif boros dalam menggunakan listrik, misalnya membiarkan lampu ruangan tetap menyala padahal tidak digunakan, menyalakan AC pada suhu minimal. Masyarakat Indonesia kurang memahami akan kemungkinan terjadinya krisis energi di masa depan. Hal ini dibuktikan dengan resistensi berlebihan masyarakat terhadap rencana pembangunan rekator nuklir untuk kepentingan penyediaan energi. Salah satu solusi yang dapat dilakukan yaitu dengan menguasai media untuk sosialisasi ancaman krisis energi nasional dengan meteri yang lebih menitikberatkan pada aspek teknis dari energi nuklir. Pemahaman akan teknologi nuklir diharapkan mampu merubah persepsi masyarakat tentang bahaya nuklir.

 

Penutup

            Kecukupan penyediaan tenaga listrik nasional dalam jangka pendek dapat dilakukan dengan menjalankan gerakan hemat listrik. Gerakan hemat listrik berdampak langsung terhadap penghematan energi listrik dan belum tentu sebagai solusi menyeluruh bagi ketersediaan energi pembangkitan listrik. Kebijakan diversifikasi energi dalam jangka panjang dengan tujuan untuk menghemat BBM, menjamin terpenuhinya kebutuhan energi bagi pembangkit dan berdampak minimal bagi lingkungan. Alternatif diversifikasi energi fosil masih dimungkinkan dalam jangka pendek, tetapi tidak dalam jangka panjang. Hal ini karena energi fosil bersifat non renewable resources dan berdampak buruk terhadap lingkungan. Kebijakan diversifikasi dalam jangka panjang perlu memperhitungkan sumber energi alternatif, seiring dengan peningkatan kemampuan penguasaan teknologi dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan mahalnya energi

                                                                                                         Oleh


Joko Waluyo, SE, MSE

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook