Alpen Steel | Renewable Energy

~ Pedalaman Mahakam Sungguh Memprihatinkan

Tribun Etam Sembilan Tahun Tanpa Listrik

Tinggal di daerah pedalaman Mahakam, Kutai barat (Kubar), yang jauh dari sumber penerangan listrik, dalam hal ini Perusahaan Listrik Negara (PLN), memang sungguh memprihatinkan.

Jika warga ingin menikmati penerangan listrik, setiap keluarga harus merogoh kocek Rp 40.000 setiap malam, untuk membeli bahan bakar solar. Satu liter mereka beli Rp 8.000. Seandainya mereka tidak memiliki uang, malam hari hanya diterangi lentera minyak tanah.

Kondisi itu dirasakan sebagian besar warga Kutai Barat yang tinggal di Hulu Mahakam, mulai dari Kecamatan Tering, Long Iram, Long Hubung, Laham, Long Bagun, Long Pahangai dan Long Apari. Telah 9 tahun Kabupaten Kutai Barat berdiri namun hingga sekarang warga yang hidup jauh dari ibukota kabupaten belum bisa menikmati fasilitas listrik dari PLN.

Jului, salah seorang warga Kecamatan Long Iram sudah lama menginginkan daerahnya ada penerangan listrik yang permanen, tidak seperti yang terjadi sekarang ini. Di ibukota Kecamatan Long Iram memang ada PLN, berpusat di Sukomulyo. PLN menerangi ibukota Kecamatan Long Iram dan Tering. Namun listrik itu hanya menyala dari pukul 18.00 - 06.00 setiap hari, sedangkan listrik di siang hari tidak menyala sehingga masyarakat tidak dapat memanfaatkan peralatan elektronik.

"Tapi kampung yang ada di sekitar Long Iram, seperti Kampung Bayan, Long Daliq, Keliwai, Muara Leban tidak dapat menikmati penerangan listrik apapun, seperti yang dirasakan warga Long Iram dan Tering," ujar Jului.

Lebih jauh diceritakan pria Kampung Keliwai itu, untuk menerangi rumah setiap malam harus siap merogoh kantong pribadi sebesar Rp 40.000 untuk membeli solar sebanyak 5 liter untuk menghidupkan mesin dompeng yang berkekuatan 3 kilowatt.

Lampu yang hidup di rumah mulai dari pukul 18.00 - 22.00 wita, ini dilakukan apabila sudah tidak punya uang untuk membeli solar di hari esok, sehingga sedikit dapat berhemat agar sisa solar yang ada dapat digunakan. Pernah beberapa kali harus rela bergelap-gelapan dalam rumah karena tidak punya uang yang cukup untuk membeli solar, cukup dengan penerangan lentera minyak tanah.

"Maklum kita ini hanya nelayan yang menggandalkan hasil tangkapan ikan di Sungai Mahakam, coba pikirkan satu bulan harus menyiapkan berapa banyak uang," ujar pria beranak satu.
Hal senada diungkapkan oleh Dalung warga Laham. Ia sangat berharap sekali ada penerangan listrik di kampungnya, agar dapat melaksanakan aktivitas di malam hari.

Kadang-kadang kalau ada uang sekitar Rp 8.000 cukup untuk membeli satu liter premium untuk menerangi rumah sekitar 3 jam, karena mesin genset yang dimiliki sudah tua dan sering rusak sehingga agak boros kalau dihidupkan.

Itupun, lanjutnya, mesin genset dihidupkan kalau dirumah ada tamu ataupun ada acara, kalau sendirian saja di rumah tidak pernah dinyalakan. "Mudah-mudahan Pemkab Kubar dapat membuat PLN untuk Kecamatan Laham seperti di Kecamatan Long Iram dan Long Bagun," ujarnya.

Dijelaskan Lakim mantan Sekdes Keliwai tahun 1990-an, dulu kampungnya pernah mendapatkan bantuan mesin pembangkit listrik namun kapasitas kecil sehingga hanya dapat dinikmati beberapa warga kampung saja. Karena terlalu banyak yang memerlukan penerangan sedangkan kemampuan mesin terbatas, sehingga over hall, akibatnya mesin rusak dan tidak dapat digunakan lagi.

Kini, lanjutnya, tidak ada lagi bantuan mesin pembangkit listrik yang berkekuatan kecil seperti dahulu, namun akhir-akhir ini ada orang menawarkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), akan tetapi hal itu tidak dapat dilakukan karena besar dan mahalnya biaya yang diperlukan  untuk pengadaan PLTS tersebut.

"Mudah-mudahan ke depan Pemkab Kubar dapat menyediakan PLTS untuk kampung-kampung yang berada di hulu Mahakam, karena hanya PLTS yang paling efektif," ujarnya.

(lex)

SENDAWAR, JUMAT
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook