Alpen Steel | Renewable Energy

~ Penggunaan Energi Antara Indonesia Dan Jepang

MENGATASI MASALAH ENERGI DI INDONESIA

 

Jika kita membandingkan penggunaan energi antara Indonesia dengan Jepang, sudah barang tentu kita lebih besar, karena perbandingan jumlah penduduk kita dengan Jepang sangat jauh. Memang dapat dijadikan alasan bahwa borosnya energi kita ini bisa disebabkan oleh beberapa, yaitu:

- Perilaku/gaya hidup Masyarakat,

- Kemampuan daya beli Masyarakat,

- Manajemen Energi

 

Perilaku/gaya hidup Masyarakat merupakan salah satu faktor penyebab tingginya konsumtifitas energi di negara kita, khususnya terjadi pada masyarakat menengah ke atas. Kita lihat saja, banyak orang-orang kaya memiliki lebih dari sepuluh rumah tinggal yang tidak dimanfaatkan sama sekali dan kesepuluh rumah itu menyerap energi yang sama.

Jadi bila dilakukan perbandingan jumlah kepala keluarga dengan pemakaian energi maka hal ini sungguh sulit terlihat berapa penyerapan energi perkeluarga. Oleh karenanya, gaya hidup seperti ini juga menyebabkan tingginya penggunaan energi. Solusi: Seharusnya gaya hidup yang lebih baik adalah dengan mengembangkan pemahaman bahwa mereka perlu melakukan efesiensi dalam komsumtif energi yang juga merupakan salah satu dari gaya hidup baru, “hemat energi.”

 

Kemampuan daya beli Masyarakat, pada umumnya pemborosan energi terjadi karena perlengkapan energi yang dimiliki oleh masyarakat yang sudah tua umur pemakaiannya dan belum diganti dengan yang baru, untuk melakukan penghematan listrik itu maka perabotan rumah tangga seharusnya diganti dengan yang baru berlabel “Save Energy” atau “Ecolable”, namun hal ini sulit dilakukan karena daya beli masyarakat yang rendah.

Disamping itu biaya kebutuhan hidup pokok serta pendidikan telah menghabiskan 90 % pendapatan mereka, oleh karenanya mereka menunda mengganti perabot rumah tangga yang sudah uzur. Hal ini tidak saja terjadi pada konsumtif energi rumah tangga, tetapi juga terjadi pada konsumtif energi pada industri.

 

Solusinya: perlu dikampanyekan penggunaan perabotan listrik rumah tangga yang hemat energi dan ramah lingkungan, sehingga ketika kemampuan daya beli mereka meningkat, masyarakat dapat membeli produk-produk yang disarankan. Sedangkan pada industri, sebaiknya dirangsang untuk tidak terlalu bergantung dengan listrik dari PLN, tetapi menggunakan listrik cadangan sendiri seperti penggunaan energi terbarukan (Energi panas matahari, Angin, Gas dan Air).

 

Manajemen Energi, Sumber kelemahan pasokan energi kita salah satunya disebabkan oleh manajemen yang tidak baik. Manajemen yang benar adalah memiliki kemampuan untuk mencari solusi atas masalah yang dihadapi. Para manajer di tingkat puncak maupun di tingkat bawah dan menengah harus menghindari the lack of imagination (keterbatasan imajinasi), para manajer yang terpilih adalah manusia yang cerdas dan dapat melihat atau meramalkan posisi perusahaan/lembaga/organisasi di masa datang, karena salah satu kredibilitas dari seorang manajer adalah kemampuan mengimajinasikan masa depan.

 

Solusi: Pemerintah perlu melakukan audit yang benar terhadap manajemen energi di Indonesia, baik itu sumber energi (minyak bumi, gas, dan batubara) dan Perusahaan Listrik Negara. Audit ini dilakukan harus secara jujur dan tidak ditunggangi oleh kepentingan orang-perorang, dan harus melibatkan masyarakat. Memaksimalkan penggunaan energi terbarukan dan ramah lingkungan serta efesiensi dan mengefektifkan sistem birokratisasi pemerintahan untuk menekan biaya. Semua tergantung kepada pimpinan eksekutif dan para wakil rakyat, kedua lembaga ini harus memiliki kemauan dan kesepahaman yang sama sehingga dapat terjalin kerjasama.

 

Jadi masalah energi jangan lagi mempersalahkan rakyat yang tidak efesien dan efektif dalam penggunaan energi, tetapi ini merupakan kesalahan pemerintah sendiri yang tidak siap menghadapi situasi mendatang. Jadi jangan salahkan RAKYAT!

 

Tulisan ini merupakan refleksi dari berita di bawah ini:

 

Indonesia Negara Paling Boros Energi

- Indonesia negara paling boros ener
gi dibanding banyak negara di dunia seperti Perancis, AS, Kanada, Jepang, Inggris, Jerman, bahkan dibanding Malaysia dan Thailand.

"Jargon kita biar miskin asal sombong harus diubah," kata Dirjen Minyak dan Gas Bumi Departemen ESDM, Evita Legowo, pada Seminar Membangun Strategi Ketahanan Energi yang Berkelanjutan di UI Depok, Rabu.

Ia menerangkan, konsumsi energi per kapita Indonesia memang kecil yakni 0,467 toe per kapita dibanding misalnya Jepang 4,14 toe per kapita, namun demikian, intensitas energi Indonesia sampai 470 toe per juta dolar AS PDB sementara Jepang hanya 92,3 toe per juta dolar AS PDB.

Sehingga perbandingan elastisitas, pemakaian energi Indonesia menjadi sangat tinggi yakni 1,84, sementara Jepang hanya 0,1, sedangkan Malaysia 1,69, Thailand 1,16, Perancis 0,47, AS 0,26, Kanada 0,17, Inggris -0,03 dan Jerman -0,12, ujarnya.

Karena itu, sebagai negara boros dan yang 51,66 persen kebutuhan energinya dipasok oleh minyak, Indonesia sempat mengalami "shock" atas terjadinya kenaikan harga minyak dunia.

Evita menegaskan, hanya negara yang memiliki efisiensi energi yang tinggilah yang tidak terpengaruh oleh harga minyak. Demikian pula, negara yang segera mengembangkan energi alternatif dan negara yang memiliki kebijakan harga energi sesuai mekanisme pasar.

Sementara itu, Dirjen Mineral, Batubara dan Panas Bumi, Bambang Setiawan, dalam kesempatan yang sama mengatakan, pemerintah akan mengusulkan regulasi Domestic Market Obligation (DMO) atau kewajiban pasok dalam negeri batubara untuk PKP2B (perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara) dan KP (kuasa pertambangan) .

Selain itu diusulkan adanya kewajiban terhadap perusahaan pertambangan untuk memenuhi kebutuhan batubara dalam negeri, juga kebijakan penetapan harga jual batubara.

Ia mengatakan, Indonesia seharusnya malu pada China dan India yang daya serap batubara dalam negerinya sangat tinggi.

"Produksi batubara kita 220 juta ton per tahun, tetapi hanya 20-25 persen yang diserap di dalam negeri, sisanya diekspor. Padahal China yang produksi batubaranya 2,2 miliar ton dan India 800 juta ton tidak bisa memenuhi permintaan ekspor karena dibutuhkan untuk pembangunan ekonomi dalam negeri," katanya.(*)

 
Jakarta (ANTARA News)
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook