Alpen Steel | Renewable Energy

~ Pengelolaan Limbah Cair di Sulawesi

Pengelolaan Limbah Cair di Sulawesi Utara

sebuah kota di Rusia, dibuat panik. Kota yang berpenghuni sekitar
600.000 jiwa diancam bahaya tumpahan bahan kimia Benzena akibat meledaknya sebuah pabrik kimia PetroChina di
provinsi Jilin, China. Sekitar 100 ton bahan kimia berbahaya tumpah ke sungai Songhua dengan kecepatan alir sekitar
30 kilometer per hari. Dan hanya dalam hitungan hari sungai Amur di wilayah Rusia langsung terkontaminasi Benzena.
Desa Nizhne-Leninkoye dan Kota Khabarovsk yang berpenghuni sekitar 600 ribu menjadi daerah rawan waktu itu.
Karena dari sungai Amur inilah pasokan air minum untuk ribuan warga nerasal. Ancaman penyakit kanker menyeruak.
Meskipun pada akhirnya kepanikan dan kekuatiran warga hanya dibayar dengan permohonan maaf secara resmi
pemerintah China melalui Wen Jibao yang datang langsung ke Rusia. (Kompas edisi 17 Desember 2005)
“Jika jumlah air limbah (limbah cair) yang dibuang melebihi kemampuan alam untuk menerima atau
menampungnya, maka akan terjadi kerusakan lingkungan.”
Rita Hendriani, Guru SMK 1 Batipuh, Tanah Datar, Sumatera Barat yang juga Mahasiswa MST UGM, Jogjakarta dalam
sebuah tulisannya menyebutkan, media lingkungan seperti tanah (permukaan dan bagian dalam), sungai, danau dan
laut rentan terhadap ancaman limbah cair. Argumentasi ini bukan tanpa bukti riil. Sebut saja pencemaran sungai
Kandilo, Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur. Ribuan warga tak bisa lagi menggunakan air untuk memasak, mandi,
minum dan mencuci karena tercemar limbah batubara. Pencemaran ini sebagaimana dipublikasikan Kompas (7 Oktober
2005) sebagai ulah perusahan batubara yang bercokol di sekitar Daerah Aliran Sungai.
Di Indramayu, Jawa Barat, buntut dari tumpahan minyak mentah ribuan hektar tambak tercemar. Petani udang dan
bandeng mengalami kerugian triliunan rupiah. Pertamina diduga menjadi sumber petaka bagi petani tambak.
Pencemaran yang terjadi di sepanjang Eretan, Cantigi, Balongan dan Karangsong ini menurut Kepala Divisi Advokasi
dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Kompas, 4 Oktober 2005) akibat kebocoran. Meskipun dugaan ini
tak diakui Pertamina.
Bahkan, silang sengketa antara Pertamina Unit Pengolahan IV dengan 33 ribu warga nelayan korban pencemaran di
Cilacap, berujung pada tuntutan ganti rugi wadah Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI). Badan Usaha Milik
Negara (BUMN) ini dituntut mengganti kerugian sekitar 12,3 miliar rupiah (Kompas, 23 Juli 2005)
Fakta serupa juga terjadi di Medan. Akibat tercemarnya air sungai, oleh Badan Pengendali Dampak Lingkungan mewantiwanti
warga untuk tidak mengkonsumsi air sungai Deli. Limbah industri bercokol dengan sampah mencemaris sungai
yang membelah Kota Medan ini. Tercatat sebanyak 84 industri skala kecil hingga besar yang berada di sepanjang
sungai ini. Ironinya, meski telah membuang limbahnya tak satupun yang memenuhi standar Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan. Oleh Kepala Bidang Teknologi Lingkungan Bapedalda Sumatera Utara Rosdiana Simarmata (Kompas 6
Agustus 2005), polutan di sungai ini merupakan limbah domestik termasuk limbah E-coli dan deterjen.
Kasus Pencemaran Laut di Indonesia
Waktu Lokasi Pencemaran Sumber Pencemaran Akibat

Desember 2007, Khabarovsk

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook