Alpen Steel | Renewable Energy

~ PLTN Bisa Menjadi Berkah Atau Malapetaka

PLTN; Berkah atau Malapetaka?

Kehadiran tenaga nuklir selalu menjadi kontroversi bukan hanya di Indonesia tetapi juga di berbagai Negara. Banyak yang setuju dan mendukung program tersebut, tetapi tidak sedikit juga menolaknya. Kasus PLTN Muria yang rencananya ingin di bangun pemerintah menjadi kasus mutahir betapa PLTN melahirkan kontroversi berkepanjangan. Meski dianggap ideal oleh pemerintah sebagai alternatif untuk menutupi kekurangan listrik. Tetapi tetap saja masyarakat merasa khawatir dan tidak setuju pada rencana pembangunan PLTN. Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 4000 massa secara ikhlas berkumpul bersama dengan tokoh masyarakat, tokoh agama dan budayawan untuk memberikan support pada acara doa bersama menolak PLTN pada tanggal 5 Juni, yang melahirkan istilah “salawat anti nuklir”.

Secara teoritis tenaga nuklir memang mengandung energi yang sangat dahsyat, jika dibanding dengan energi lainnya. Perbandingan memang sangat jauh, untuk instalasi pembangkit berdaya 1000 MW (e) beroperasi dengan faktor beban 75% akan memperoduksi 6,6 TW (e) h pertahun, PLTU batubara harus membutuhkan 2,6 juta ton batu bara pertahun, PT minyak membutuhkan 2 juta ton minyak pertahun sedangkan PLTN hanya membuthkan 27 ton uranium pertahun.

Tidak heran berbagai Negara-negara maju menjadikan energi nuklir sebagai solusi alternatif di tengah kebuntuan problem energi listrik yang dihadapi berbagai Negara. Beberapa Negara yang paling banyak menggunakan reactor nuklir adalah, Prancis, Lithuania, Slovakia, Belgia dan Ukraina. Amerika Serikat tidak termasuk dalam hal ini, tetapi Amerika Serikat merajai bisnis nuklir ini, terlihat dari banyaknya reaktor nuklir milik Amerika yang tersebar di seluruh dunia dengan jumlah 103 reaktor nuklir. Menyusul kemudian Prancis sebanyak 59 reaktor nuklir, Jepang sebanyak 55 reaktor nuklir dan Rusia sebanyak 31 reaktor nuklir.

Intinya, nuklir merupakan energi alternatif yang bisa menuutupi kekurangan listrik di berbagai daerah, apalagi diprediksi hampir 30 persen atau sekitar 70 juta penduduk Indonesia belum menikmati listrik. Memang suatu yang ironi di tengah kondisi globalisasi dalam berbagai aspek kehidupan. Sementara sebagian masyarakat selama ini telah menggunakan listrik secara berlebihan tampa mengenal kata hemat.

Sementara di lain pihak, banyak yang menolak PLTN. PLTN dianggap bukanlah solusi alternatif di tengah kondisi masyarakat Indonesia dan berbagai pengalaman kelompok masyarakat dalam menangani tekhnologi tinggi. Masih banyak sumber energi yang harus dimaksimalkan pengelolaannya, seperti, tenaga panas bumi (geothermal), gas, batu bara, tenaga air yang bisa dilakaukan diberbagai tempat dan yang sekarang digalakkan adalah energi alternatif biofiul. Kenapa harus nuklir?, banyak yang mensinyalir akan sikap “ngotot” pemerintah untuk membangun PLTN di berbagai tempat, karena banyaknya investor yang ingin mendanai proyek tersebut. Jauh sebelumnya, pemerintah Indonesia sudah mendapat tawaran pinjaman dari Jepang, Korea Selatan dan Prancis, serta berbagai Negara maju lainnya yang sangat tertarik dengan bisnis ini termasuk Amerika Serika dan Inggris.

Kalau tidak ingin disebut kehebatan, mungkin lebih cocok jika kita katakan sebagai kekeliruan kita karena selalu mencontoh negara-negara maju yang menggunakan energi nuklir. Bukan hanya mereka tidak punya alternatif lain, karena kurangnya sumber daya alam dan energi alternatif sebagaimana yang dimiliki oleh Indonesia. Belum lagi dihadapkan pada pengalaman dalam mengelola teknologi tinggi. Sampah yang kasat mata sampai kini masih menjadi problem di hampir semua daerah di Indonesia. Lumpur lapindo yang menenggelamkan sebagian bumi pertiwi ini belum juga bisa di atasi. Tidak ketinggalan pesawat kita yang masih sering jatuh, tabrakan kereta dan tenggelamnya kapal-kapal laut yang setiap saat menjadi berita utama. Apalagi kita diperhadapkan pada energi nuklir yang bahayanya jauh lebih dahsyat. Memang secara teoritis, kebocoran reaktor nuklir perbandingannya 1:1.000.000, tetapi dalam prakteknya seringkali jauh dari konsep teoritisnya. Siapa yang bisa menjamin bencana nuklir yang telah terjadi di Ukraina (pecahan Uni Soviet) dan Three Mile island Amerika Serikat yang telah menyengsarakan jutaan masyarakat, tidak akan terulang lagi di negeri ini.

Berbagai pengalaman beberapa negara lain yang menolak keras keberadaan PLTN. Dalam catatan Kompas, 31 januari 2001, perdana menteri Taiwan, Chang Chung Siung membatalkan proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir yang sudah sepertiga jadi dengan nilai proyek senilai 5,4 milyar dollar AS. Karena tiga pembangkit listrik tenaga nuklir saja yang sudah mengalami kesulitan mengolah limbah, karena telah menghasilkan limbah nuklir radiasi rendah sebanyak 180.000 drum sejak dioperasikan secara komersial tahun 1987. Di Jepang, masyarakat yang didukung sebanyak 850 keluarga mengajukan tuntutan penutupan PLTN Hamaoka unit 1-4 ke pengadilan negeri Shizuka sejak Juli 2002 dan vonisnya masih menunggu sidang terakhir 22 Oktober 2007. Realitas ini juga terjadi di berbagai negara dengan tuntutan yang tidak jauh berbeda menyangkut keamanan tenaga nuklir.

Oleh karena itu, harus lebih hati-hati dalam membuat dan menetapkan kebijakan yang berhubungan dengan masalah ini. Pemerintah harus juga mendengarkan suara rakyatnya. Harus ada media dialog antara pemerintah dan rakyat secara serius dan lebih komitmen untuk kepentingan publik. Sebab bagaimanapun juga mereka yang mendapat menfaat dan sekaligus penderitaan jika mengalami kebocoran dan penyimpangan lainnya. Pemerintah jangan terlalu larut dengan janji-janji manis para investor yang merupakan bagian dari kapitalisme global yang bertujuan untuk menguasai bisnis dan ekonomi global. Karena bukan hanya menyengsarakan masyarakat, tetapi juga memiskinkan bangsa ini. Harus lebih serius belajar dari pengalaman yang selama ini terjadi. Mereka yang mendapat banyak manfaat dari sumber daya alam kita, tetapi kerusakan tidak seditkit juga yang ditinggalkan. Semoga. (IC)

 

 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook