Alpen Steel | Renewable Energy

~ PLTN Sebagai Alternatif Pembangkit Listrik

PLTN Kenapa Tidak?

Dalam tulisan di kolom ini beberapa waktu lalu, saya sempat meragukan kemungkinan pemanfaatan tenaga nuklir sebagai alternatif pembangkit listrik. Alasannya simpel saja. Etos dan disiplin kerja masyarakat kita masih sangat rendah. Mereka masih banyak yang kurang memperhatikan dan bahkan mengabaikan sistem keamanan dan keselamatan kerja. Contoh yang paling mutakhir seperti yang saya kemukakan adalah jebolnya tanggul Situ Gintung di kawasan Ciputat, Tangerang yang menelan lebih dari sertus korban jiwa.

Padahal, tragedi seperti itu tidak perlu terjadi jika penanganan dan perawatan situ tersebut, dilakukan sesuai dengan ketentuan keselamatan yang berlaku. Tanda-tanda jebolnya tanggul sebenarnya sudah terdeteksi sedikitnya empat bulan sebelumnya. Namun demikian, tidak ada tindakan apa pun yang dilakukan untuk mencegah terjadinya bencana. Itu hanya satu contoh betapa kita tidak begitu peduli dengan ketentuan keselamatan dan keamanan kerja. Masih banyak lagi contoh yang mencerminkan betapa masalah keselamatan tidak menjadi prioritas utama bagi masyarakat kita.

Kekhawatiran seperti itulah, agaknya yang menjadi alasan para penentang pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia. Alasan seperti itu memang cukup masuk akal. Apa lagi bencana yang diakibatkan oleh kecelakaan reaktor nuklir sangat dahsyat. Di samping akibat langsung dari ledakan atau kobaran api yang ditimbulkan, kecelakaan nuklir juga menyertakan bahaya lain yang tak kurang mengerikan. Kontaminasi nuklir yang menyebar seiring dengan kebocoran reaktor nuklir akan mengakibatkan timbulnya berbagai penyakit aneh dan juga kelainan genetika.

Namun, pandangan saya tentang teknologi nuklir pelan-pelan mulai berubah ketika mendapat kesempatan melihat langsung salah satu reaktor di Badan Tenaga Nuklir Nasional di kawasan Serpong, Tangerang baru-baru ini. Hal itu bukan karena saya tidak melihat bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh reaktor nuklir. Tetapi lebih karena sistem keamanan dan keselamatan kerja yang diterapkan.

Pengamanan PLTN dilakukan dengan sistem berlapis-lapis (defence in depth).  PLTN dirancang, dibangun dan dioperasikan sesuai dengan ketentuan yang sangat ketat, mutu yang tinggi dan teknologi mutakhir. PLTN juga dilengkapi dengan sistem pengaman / keselamatan yang digunakan untuk mencegah dan mengatasi akibat-akibat dari kecelakaan yang mungkin terjadi selama umur PLTN. Lapis keselamatan berikutnya adalah, PLTN dilengkapi dengan sistem tambahan yang dapat diandalkan untuk mengatasi kecelakaan terparah yang diperkirakan dapat terjadi pada suatu PLTN. Walau begitu kecelakaan tersebut kemungkinannya amat sangat kecil terjadi selama umur PLTN.

Selain itu, pengalaman operasi nuklir sudah sangat panjang melebihi 5 dekade. Dengan demikian, kekhawatiran terjadinya kecelakaan reaktor seperti yang terjadi pada PLTN Chernobil di Rusia pada PLTN masa kini sudah tidak relevan. Soalnya, tipe dan sistem yang digunakan sangat berbeda. PLTN masa kini mampu mendeteksi setiap gejala kecelakaan, jauh sebelum kecelakaan tsb terjadi. PLTN didesain saat suhu naik tidak terkendali, reaksi dalam materi bahan bakar direkayasa sedemikian hingga supaya peningkatan suhu membuat penyerap neutron lebih agresif.

Soal limbah nuklir pun, saat ini sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah. Level radiasi hasil rekayasa engineering sangat rendah. Radiasi yang berumur panjang bahkan bisa mencapai ribuan tahun, saat ini sudah bisa diperpendek umurnya menjadi sekitar 500 tahun menggunakan teknik transmutasi.

Dan secara engineering, kekuatan media penampung limbah sudah teruji kekuatannya untuk media penyimpan selama 500-800 tahun. Selain itu, emisi ke lingkungan terjamin dengan baik karena pembuangan limbah selalu menggunakan prosedur yang baku dan ketat, serta dipantau oleh lembaga kredibel. Bahan bakar setelah proses transmutasi disementasi dan disimpan 300-1.000 meter di bawah tanah. Jumlah bahan bakar bekas tersebut untuk 4 PLTN yg telah beroperasi 60 tahun masih bisa disimpan dalam media sementara karena jumlahnya hanya ratusan ton. Sebagai pembanding yang setara, 8 PLTU yg beroperasi 30 tahun, melepas emisi CO2 jutaan ton ke udara.

Selain cukup aman, dari sisi operasional listrik dari PLTN juga sangat efisien. PLTN misalnya, mampu beroperasi hingga mencapai 60 tahun. Badingkan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang hanya mampu bertahan selama 25-30 tahun. Sedangkan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) hanya bisa beroperasi selama 20 tahun. Dengan demikian, total biaya dibagi dengan energi listrik yang dihasilkan, diperoleh 3-5 sen/KWH. Sedangkan PLTU membutuhkan biaya 7-10 sen/KWH, sementara biaya operasi PLTG adalah 4-6 sen/KWH.

Karena itu, tak mengherankan jika hampir semua negara di dunia mulai melirik teknologi dan tenaga nuklir untuk menghasilkan listrik. Data per 31 Mei 2007 dari WNA (World Nuclear Ass.) menyebutkan bahwa PLTN yg beroperasi di dunia sebanyak 437 PLTN atau 19%) dari total pembangkit. Selain itu, masih ada 30 PLTN yang sedang dibangun  yaitu 1 PLTN masing-masing di USA, Korsel, Argentina, Finlandia, Romania, Iran, dan Pakistan, 2 PLTN di Kanada, Jepang, dan Slovakia, 4 PLTN di China, 5 PLTN di Rusia, 6 PLTN di India. Kemudian 74 PLTN sedang direncanakan akan dibangun dan 182 PLTN diajukan akan dibangun. Jadi tinggal bagaimana kita menyikapi perkembangan tersebut. Kalau negara-negara lain bisa mengambil manfaat dari teknologi nuklir, kenapa kita tidak? (*)

Rubrik yang Sama,

 

Wahid Rahmanto (wartawan senior)
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook