Alpen Steel | Renewable Energy

~ Penelitian Ulang PLTN di Muria

MENGGUGAT NUKLIR GUNUNG MURIA

Batan tengah mengurus izin tapak pembangkit nuklir di Muria. Ahli LIPI meminta penelitian ulang tentang keamanan kawasan itu.

Waktu terasa berlari bagi Soedyartomo Soentono. Kepalanya diselimuti rambut putih. Tapi di lembaganya ia merasa waktu justru berdetak pelan.

”Sudah lebih dari 30 tahun saya di lembaga ini, Indonesia belum juga memiliki PLTN (pembangkit listrik tenaga nuklir),” kata Soedyartomo, Kepala Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), Selasa pekan lalu. Bandingkan dengan Korea Selatan, misalnya.

Pada 1987, Korea Selatan meminta bantuan Batan untuk membuat reaktor. Badan itu diajak bergabung karena sudah sejak 1979 mengoperasikan reaktor nuklir Kartini di Yogyakarta. Dua windu kemudian, negeri itu sudah memiliki lima pembangkit listrik nuklir. Awal Desember lalu, bersamaan dengan kunjungan presiden Korea Selatan Roh Moo-Hyun ke Jakarta, Korean Hydro Nuclear Power Co. Ltd. menawarkan bantuan untuk membangun pembangkit di Muria.

Sejauh ini, menurut Soedyartomo, lembaganya baru pada tahap mengurus izin tapak lokasi di Semenanjung Muria, Jepara, Jawa Tengah, kepada Badan Pengawas Tenaga Atom Nasional. Jika urusan perizinan ini kelar pada Desember mendatang, ujar Soedyartomo, ”Tahun depan tender pembangunannya bisa dibuka.”

Jika semua lancar, pada 2010 pembangunan fisik pembangkit bisa dimulai. Enam tahun kemudian, pembangkit ini sudah akan menghasilkan listrik 4.000 megawatt untuk memasok kebutuhan Jawa dan Bali. Meski baru berproduksi pada 2016, menurut Tomi—panggilan Soedyartomo—proyeksi PLTN-nya masih klop dengan kebutuhan listrik pemerintah. Seperti disebutkan dalam Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, baru pada 2025 energi nuklir ditargetkan menyumbang 2 persen kebutuhan energi primer yang mencapai sekitar 100 ribu megawatt.

Demikianlah rencananya, dan inilah batu sandungannya. Sejumlah ahli geologi belakangan menggugat klaim Batan soal keamanan Semenanjung Muria sebagai tempat pembangkit nuklir. ”Saya curiga sekali. Apakah studi kelayakan Semenanjung Muria sudah dilakukan dengan benar,” kata Danny Hilman Natawidjaya, ahli di Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Rabu pekan lalu.

Danny curiga karena beberapa ahli geologi dari Jepang dan negara lain yang menjadi konsultan Batan menolak menjawab pertanyaannya soal keamanan situs Muria. Padahal mereka menjadi koleganya dalam sejumlah penelitian tentang kebumian. ”Mereka takut dan meminta saya menanyakan kepada pemerintah,” ujar doktor geologi kelautan lulusan Universitas Tokyo ini.

Namun Tomi memastikan, keamanan Muria tak perlu diragukan. Survei untuk menentukan lokasi calon tapak PLTN dilakukan dalam beberapa tahap dan sudah dimulai pada 1970-an. Awalnya ada 14 daerah di pantai utara dan selatan Jawa yang diusulkan. Pilihan kemudian mengerucut menjadi lima lokasi, lalu tersisalah Semenanjung Muria. ”Wilayah ini memenuhi kriteria geologi, tektonik, dan vulkanologi,” kata lulusan Universitas Stanford, Inggris ini.

Sepanjang tahun 1991 sampai 1996, konsultan NewJack dari Jepang melakukan studi di Semenanjung Muria untuk menentukan tapak terbaik bagi PLTN. Ada tiga tapak lokasi yang diteliti, yakni Ujung Lemah Abang, Ujung Grenggengan dan Ujung Watu. Ketiganya terletak di tepi pantai. Pilihan akhirnya jatuh di Ujung Lemah Abang, di Desa Balong, Kecamatan Kembang.

Menurut Tomi, penelitian menunjukkan bahwa secara geologis Desa Balong didominasi batuan hasil kegiatan Gunung Muria. Litologi batuannya mempunyai daya dukung yang mampu menahan beban konstruksi PLTN. Secara seismik, Ujung Lemah Abang terletak di dalam wilayah gempa Indonesia dengan nilai percepatan tanah maksimum atau peak ground acceleration (PGA) 0,29 g.

PGA terkait dengan sejarah terjangan gempa di suatu tempat. Makin besar nilai PGA sebuah wilayah, kian besar risiko terjangan gempa bumi. Dengan skor 0,29 g, kata Tomi, Semenanjung Muria merupakan wilayah dengan risiko goyangan gempa sangat rendah. Nilai itu bahkan masih di bawah nilai PGA rata-rata yang digunakan untuk merancang dan membangun pembangkit nuklir, yakni 0,3 g.

Tomi mengatakan, nilai PGA delapan PLTN di Jepang di atas 0,3 g. Bahkan PLTN Tsuruga memiliki PGA 0,532 g dan Ikata 0,473 g. Sedangkan di Amerika Serikat, pembangkit tenaga nuklir dibangun rata-rata pada nilai PGA 0,3 g.

Ancaman letusan Gunung Muria juga relatif kecil. ”Karena letusan terakhir terjadi 320 ribu tahun yang lalu dan kini gunung itu tidak aktif,” kata Tomi.

Dosen Jurusan Geologi UPN Yogyakarta, Sutanto, menjelaskan bahwa sum-ber magma Muria berada pada kedalaman 300 kilometer. ”Hasil penelitian saya menyimpulkan gunung ini memang sudah tidak aktif lagi,” ujar doktor lulusan Universitas Brest, Prancis, dengan disertasi tentang daerah Muria ini.

Namun Danny sangsi jika gunung Muria sudah mati. Dia memperlihatkan foto satelit di sekitar puncak Muria yang lebih mulus ketimbang bagian kaki gunung. Dari gambar itu, ia curiga gunung tersebut hanya sedang tidur. Dia mengusulkan perlu penelitian detail tentang endapan gunung ini untuk mengetahui secara pasti kapan letusan terakhir. ”Tidak cukup hanya mengandalkan sejarah,” katanya.

Kekhawatiran lain adalah soal ancaman gempa besar yang berasal dari sesar atau patahan di sekitar Muria. Lagi-lagi, Tomi menepis ancaman ini.

Sesar terdekat, yakni Lasem, jaraknya 60 kilometer dari tapak Ujung Lemah Abang. Sesar lain yang lebih besar dan tua, yakni Meratus-Muria-Kebumen, yang memanjang dari Pegunungan Meratus di Kalimantan hingga Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, jaraknya lebih jauh. ”Dari tapak Ujung Lemah Abang, lokasi sesar Meratus sangat jauh, yakni 300 kilometer,” kata Tomi.

Namun, menurut Danny, itu bukan berarti Muria aman dari amukan sesar yang sedang ”menggeliat”. Badan geologi Amerika Serikat (USGS) dan South East Asia Seismology and Engineering Earthquake, ujarnya, mencatat dua gempa besar pernah terjadi di dekat situs itu. Pertama pada 1865, berupa gempa berkekuatan 7 magnitudo yang merusak Semarang. Rekaman gempa kedua pada 12 Desember 1890, dengan sumber gempa di sekitar Pati, yang radius guncangannya mencapai 500 kilometer.

Danny memperkirakan kekuatan gempa di Pati waktu itu mendekati 8 magnitudo. Walhasil, Danny menarik hipotesis, ”Semenanjung Muria sepintas menyimpan banyak potensi bencana. Cukup multihazard kalau dilihat dari posisinya,” ujar pakar yang pada 2002 pernah memprediksi bakal terjadi gempa dan tsunami besar di Aceh ini.

Danny mengusulkan dilakukan penggalian untuk memastikan adanya jalur patahan aktif. Ia juga meminta dilakukan kajian kestabilan lereng, potensi tsunami, hingga kekuatan struktur tanah. Dia mengaku menyangsikan hasil penelitian tentang keamanan situs ini, karena dibuat pada masa pemerintahan Orde Baru. ”Saya berharap reevaluasi sehingga ada second opinion,” ujarnya. Usul yang sama diajukan Sutanto.

Penulis : Untung Widyanto, Ahmad Fikri, Syaiful Amin
Sumber : Tempo 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook