Alpen Steel | Renewable Energy

~ Tahun 2015 PLTN Sebagai Pembangkit Listrik Alternatif

PLTN Bahayakah?   

PRESIDEN Soeharto pernah mengungkapkan bahwa kekurangan listrik 7.000
   MW di Jawa pada tahun 2015 diharapkan dapat diatasi melalui PLTN
   sebagai pembangkit listrik alternatif. Kekurangan tersebut diketahui
   melalui studi MARKAL yang menyebutkan pada tahun 2015 Jawa memerlukan
   energi listrik sebesar 32.710 MW. Sementara itu yang dapat dipenuhi
   dari sumber-sumber pembangkit listrik konvensional (hidro, panas bumi,
   gas, uap, minyak dan batu bara) sebanyak 25.085 MW. Kekurangan sebesar
   7.625 MW harus dipenuhi oleh sumber energi lain. Kecil kemungkinan
   rencana itu akan banyak berubah, apalagi mengingat dana yang sudah
   dikeluarkan dari APBN cukup besar.
   
   Krisis energi listrik nasional tahun 1990-1991 membuktikan bahwa
   pertumbuhan ekonomi nasional harus didukung dengan ketersediaan
   listrik. Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang
   meningkat 6-7% dan kebutuhan listrik yang meningkat 18%. Dirjen
   Listrik dan Energi Baru Dr. Ir. Zuhal, M.Sc. pernah mengungkapkan
   bahwa pada akhir Pelita VI perlu penambahan daya listrik sebesar 112
   TWH (Tera Watt Hours) dengan beban puncak 19.019 MW. Akhir Pelita VII
   diproyeksikan 197,6 TWH beban puncaknya 32.313 MW, dan akhir Pelita
   VIII diproyeksikan 288,2 TWH dengan beban puncak 46.716 MW. Untuk itu
   dibutuhkan dana paling tidak 37,1 milyar dolar AS atau Rp 78 trilyun.
   
   Untuk menutupi kekurangan tersebut, energi nuklir dipertimbangkan
   sebagai salah satu sumber pasokan dalam rangka diversifikasi energy
   mix yang optimal. Peranan batubara, air, dan nuklir digunakan untuk
   pasokan beban dasar. Alasan lain adalah daya terpasang PLTA, PLTP,
   PLTU minyak dan PLTGU tidak dapat ditambah lagi karena keterbatasan
   sumber daya, keekonomian pembangkit, kelestarian lingkungan dan skala
   waktu.
   
   Setidaknya diperlukan 7 sampai 12 unit PLTN, masing-masing unit
   berkapasitas antara 600-1.000 MW. Pembangunan secara bertahap sehingga
   pada tahun 2015 seluruh unit telah terpasang. Dengan perhitungan
   menjelang tahun 2015 tiap tahun harus selesai dibangun reaktor kecil,
   berkapasitas 600 MW.
   
   Pada September 1989 telah dibentuk Badan Koordinasi Energi Nasional
   (Bakoren) untuk memulai studi kelayakan pengenalan Pusat Listrik
   Tenaga Nuklir yang meliputi ekonomi energi dan pendanaan, teknologi
   dan keselamatan reaktor, daur bahan bakar dan limbah radio aktif,
   lokasi dan lingkungan serta dampak sosial ekonomi dan budaya.
   
   Reaktor nuklir merupakan satu-satunya pembangkit listrik yang tidak
   mengeluarkan polusi seperti Sox, Nox, dan CO2 walau kenyataannya
   ditentang banyak pihak. Alasan penolakan itu adalah limbah reaktor
   nuklir dapat membahayakan manusia dan lingkungan. Jika campuran
   uranium (U-235 dan U-238) dipakai sebagai bahan bakar akan dihasilkan
   limbah nuklir. Kemudian karena limbah nuklir tersebut tidak dapat
   dihancurkan, penyelesaiannya adalah dengan menyimpannya di dalam
   kontainer yang rapat. Selama kurun waktu 7.100 juta tahun limbah dalam
   kontainer tersebut masih berbahaya. Selanjutnya jika limbah nuklir
   diproses kembali untuk dijadikan plutonium maka selama 24.000 tahun
   bahaya limbah plutonium baru dapat hilang.
   
   Ketakutan masyarakat akan pembangunan PLTN disebabkan oleh trauma yang
   terjadi pada kecelakaan di Chernobyl (26-4-1986) yang merenggut dua
   ribu nyawa dan awan radioaktif yang menyebar sejauh empat ribu km
   dalam enam hari serta 29 orang yang langsung terkena paparan radiasi.
   Juga kasus Three Mile Islan (1979), tetapi kecelakaan kali ini sama
   sekali tak menimbulkan korban manusia di sekitar ataupun personel
   PLTN-nya. Satu-satunya kerugian adalah sektor ekonominya, yaitu
   putusnya penyediaan tenaga listrik, kegiatan decomisioning dan
   perbaikan struktur sipil.
   
   Untuk mencari standar reaktor yang memuaskan dan juga pelatihan bagi
   pengelolaan reaktor di Indonesia, sampai saat ini telah dicoba
   dibangun beberapa unit reaktor kecil yaitu reaktor riset Kartini 100
   KW di Yogyakarta, reaktor 1 MW di Bandung dan reaktor serbaguna nuklir
   30 MW G A Siwabessy di Serpong, Tangerang. Dengan dibangunnya
   reaktor-reaktor tersebut Indonesia sebenarnya telah memasuki era
   nuklir.
   
   Guna menjamin keselamatan reaktor digunakan dengan sistem pertahanan
   berlapis, antara lain: lapis pertama adalah kualitas (penentuan
   lokasi, desain, komponen, konstruksi/instalasi, perawatan dan
   operasi). Lapis kedua adalah sistem proteksi reaktor serbaguna untuk
   menghentikan secara otomatis bila ambang keselamatan menurun. Lapis
   ketiga adalah sistem keselamatan, untuk mempertahankan pendinginan
   teras reaktor secara otomatis dan berkesinambungan agar suhu bahan
   bakar tetap rendah. Lapis keempat adalah sistem isolasi, gunanya untuk
   mendukung zat radioaktif yang mungkin keluar dari bejana tekan. Lapis
   kelima adalah sistem manusia yang andal dengan bantuan komputer. Lapis
   keenam adalah pelatihan dan latihan ulang bagi operator. Sementara
   reaktor sendiri menggunakan sistem penghalang ganda.
   
   Kelemahan pada reaktor Chernobyl IV (1986) yang menggunakan reaktor
   tipe RBMK, pada lapis pertama (kualitas), lapis kedua (sistem proteksi
   reaktor) sangat lemah dan sangat lemah sekali pada lapis keempat
   (sistem isolasi).
   
   Hingga akhir Januari 1994 di dunia beroperasi 430 PLTN dan yang sedang
   dibangun 66 PLTN. Jenis PLTN yang banyak dipakai adalah jenis PWR
   (Pressurized Water Reactor = Reaktor Air Tekan), BWR (Boiling Water
   Reactor = Reaktor Air Didih), GMBWR (Graphite Moderated Boiling Water
   Reactor = Reaktor Air Dingin Moderasi Graft), MR (Magnox Reactor =
   Reaktor Magnox), PHWR (Pressurized Heavy Water Reactor = Reaktor Air
   Berat Tekan - CANDU) dan AGR (Advanced Gas-Cooled Reactor = Reaktor
   Maju Berpendingin Gas). Tersebar di 34 negara, yaitu Eropa Barat
   sembilan negara (154 yang beroperasi dan 5 sedang dibangun), Amerika
   Utara dua negara (131-3), Asia tujuh negara (74-17), Amerika Tengah
   dan Selatan empat negara (4-5), Eropa Timur sebelas negara (65-36) dan
   Afrika satu negara (2-0). Kesemua PLTN itu bekerja aman-aman saja.
   
   Di sisi lain kebutuhan tenaga kerja untuk sebuah PLTN cukup besar.
   Tiap unit reaktor berkapasitas 600 sampai 900 MW diperlukan tenaga
   manajemen dan rekayasa proyek sekitar 250 sampai 350 orang. Di sisi
   lain tenaga pengoperasian dan pemeliharaan pada kapasitas reaktor yang
   sama memerlukan tenaga 170 sampai 270 orang.
   
   Kesiapan sumber daya manusia, masalah lingkungan, ekonomis tidaknya
   reaktor dan keinginan masyarakat yang beragam menjadi tantangan besar
   dalam pembangunan ketenaganukliran di Indonesia. Lepas dari jadi atau
   tidaknya dibangun PLTN perlu terus dikembangkan energi alternatif yang
   baik.

 

  
                                      
   PRESIDEN Soeharto pernah mengungkapkan bahwa kekurangan listrik 7.000
   MW di Jawa pada tahun 2015 diharapkan dapat diatasi melalui PLTN
   sebagai pembangkit listrik alternatif. Kekurangan tersebut diketahui
   melalui studi MARKAL yang menyebutkan pada tahun 2015 Jawa memerlukan
   energi listrik sebesar 32.710 MW. Sementara itu yang dapat dipenuhi
   dari sumber-sumber pembangkit listrik konvensional (hidro, panas bumi,
   gas, uap, minyak dan batu bara) sebanyak 25.085 MW. Kekurangan sebesar
   7.625 MW harus dipenuhi oleh sumber energi lain. Kecil kemungkinan
   rencana itu akan banyak berubah, apalagi mengingat dana yang sudah
   dikeluarkan dari APBN cukup besar.
   
   Krisis energi listrik nasional tahun 1990-1991 membuktikan bahwa
   pertumbuhan ekonomi nasional harus didukung dengan ketersediaan
   listrik. Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang
   meningkat 6-7% dan kebutuhan listrik yang meningkat 18%. Dirjen
   Listrik dan Energi Baru Dr. Ir. Zuhal, M.Sc. pernah mengungkapkan
   bahwa pada akhir Pelita VI perlu penambahan daya listrik sebesar 112
   TWH (Tera Watt Hours) dengan beban puncak 19.019 MW. Akhir Pelita VII
   diproyeksikan 197,6 TWH beban puncaknya 32.313 MW, dan akhir Pelita
   VIII diproyeksikan 288,2 TWH dengan beban puncak 46.716 MW. Untuk itu
   dibutuhkan dana paling tidak 37,1 milyar dolar AS atau Rp 78 trilyun.
   
   Untuk menutupi kekurangan tersebut, energi nuklir dipertimbangkan
   sebagai salah satu sumber pasokan dalam rangka diversifikasi energy
   mix yang optimal. Peranan batubara, air, dan nuklir digunakan untuk
   pasokan beban dasar. Alasan lain adalah daya terpasang PLTA, PLTP,
   PLTU minyak dan PLTGU tidak dapat ditambah lagi karena keterbatasan
   sumber daya, keekonomian pembangkit, kelestarian lingkungan dan skala
   waktu.
   
   Setidaknya diperlukan 7 sampai 12 unit PLTN, masing-masing unit
   berkapasitas antara 600-1.000 MW. Pembangunan secara bertahap sehingga
   pada tahun 2015 seluruh unit telah terpasang. Dengan perhitungan
   menjelang tahun 2015 tiap tahun harus selesai dibangun reaktor kecil,
   berkapasitas 600 MW.
   
   Pada September 1989 telah dibentuk Badan Koordinasi Energi Nasional
   (Bakoren) untuk memulai studi kelayakan pengenalan Pusat Listrik
   Tenaga Nuklir yang meliputi ekonomi energi dan pendanaan, teknologi
   dan keselamatan reaktor, daur bahan bakar dan limbah radio aktif,
   lokasi dan lingkungan serta dampak sosial ekonomi dan budaya.
   
   Reaktor nuklir merupakan satu-satunya pembangkit listrik yang tidak
   mengeluarkan polusi seperti Sox, Nox, dan CO2 walau kenyataannya
   ditentang banyak pihak. Alasan penolakan itu adalah limbah reaktor
   nuklir dapat membahayakan manusia dan lingkungan. Jika campuran
   uranium (U-235 dan U-238) dipakai sebagai bahan bakar akan dihasilkan
   limbah nuklir. Kemudian karena limbah nuklir tersebut tidak dapat
   dihancurkan, penyelesaiannya adalah dengan menyimpannya di dalam
   kontainer yang rapat. Selama kurun waktu 7.100 juta tahun limbah dalam
   kontainer tersebut masih berbahaya. Selanjutnya jika limbah nuklir
   diproses kembali untuk dijadikan plutonium maka selama 24.000 tahun
   bahaya limbah plutonium baru dapat hilang.
   
   Ketakutan masyarakat akan pembangunan PLTN disebabkan oleh trauma yang
   terjadi pada kecelakaan di Chernobyl (26-4-1986) yang merenggut dua
   ribu nyawa dan awan radioaktif yang menyebar sejauh empat ribu km
   dalam enam hari serta 29 orang yang langsung terkena paparan radiasi.
   Juga kasus Three Mile Islan (1979), tetapi kecelakaan kali ini sama
   sekali tak menimbulkan korban manusia di sekitar ataupun personel
   PLTN-nya. Satu-satunya kerugian adalah sektor ekonominya, yaitu
   putusnya penyediaan tenaga listrik, kegiatan decomisioning dan
   perbaikan struktur sipil.
   
   Untuk mencari standar reaktor yang memuaskan dan juga pelatihan bagi
   pengelolaan reaktor di Indonesia, sampai saat ini telah dicoba
   dibangun beberapa unit reaktor kecil yaitu reaktor riset Kartini 100
   KW di Yogyakarta, reaktor 1 MW di Bandung dan reaktor serbaguna nuklir
   30 MW G A Siwabessy di Serpong, Tangerang. Dengan dibangunnya
   reaktor-reaktor tersebut Indonesia sebenarnya telah memasuki era
   nuklir.
   
   Guna menjamin keselamatan reaktor digunakan dengan sistem pertahanan
   berlapis, antara lain: lapis pertama adalah kualitas (penentuan
   lokasi, desain, komponen, konstruksi/instalasi, perawatan dan
   operasi). Lapis kedua adalah sistem proteksi reaktor serbaguna untuk
   menghentikan secara otomatis bila ambang keselamatan menurun. Lapis
   ketiga adalah sistem keselamatan, untuk mempertahankan pendinginan
   teras reaktor secara otomatis dan berkesinambungan agar suhu bahan
   bakar tetap rendah. Lapis keempat adalah sistem isolasi, gunanya untuk
   mendukung zat radioaktif yang mungkin keluar dari bejana tekan. Lapis
   kelima adalah sistem manusia yang andal dengan bantuan komputer. Lapis
   keenam adalah pelatihan dan latihan ulang bagi operator. Sementara
   reaktor sendiri menggunakan sistem penghalang ganda.
   
   Kelemahan pada reaktor Chernobyl IV (1986) yang menggunakan reaktor
   tipe RBMK, pada lapis pertama (kualitas), lapis kedua (sistem proteksi
   reaktor) sangat lemah dan sangat lemah sekali pada lapis keempat
   (sistem isolasi).
   
   Hingga akhir Januari 1994 di dunia beroperasi 430 PLTN dan yang sedang
   dibangun 66 PLTN. Jenis PLTN yang banyak dipakai adalah jenis PWR
   (Pressurized Water Reactor = Reaktor Air Tekan), BWR (Boiling Water
   Reactor = Reaktor Air Didih), GMBWR (Graphite Moderated Boiling Water
   Reactor = Reaktor Air Dingin Moderasi Graft), MR (Magnox Reactor =
   Reaktor Magnox), PHWR (Pressurized Heavy Water Reactor = Reaktor Air
   Berat Tekan - CANDU) dan AGR (Advanced Gas-Cooled Reactor = Reaktor
   Maju Berpendingin Gas). Tersebar di 34 negara, yaitu Eropa Barat
   sembilan negara (154 yang beroperasi dan 5 sedang dibangun), Amerika
   Utara dua negara (131-3), Asia tujuh negara (74-17), Amerika Tengah
   dan Selatan empat negara (4-5), Eropa Timur sebelas negara (65-36) dan
   Afrika satu negara (2-0). Kesemua PLTN itu bekerja aman-aman saja.
   
   Di sisi lain kebutuhan tenaga kerja untuk sebuah PLTN cukup besar.
   Tiap unit reaktor berkapasitas 600 sampai 900 MW diperlukan tenaga
   manajemen dan rekayasa proyek sekitar 250 sampai 350 orang. Di sisi
   lain tenaga pengoperasian dan pemeliharaan pada kapasitas reaktor yang
   sama memerlukan tenaga 170 sampai 270 orang.
   
   Kesiapan sumber daya manusia, masalah lingkungan, ekonomis tidaknya
   reaktor dan keinginan masyarakat yang beragam menjadi tantangan besar
   dalam pembangunan ketenaganukliran di Indonesia. Lepas dari jadi atau
   tidaknya dibangun PLTN perlu terus dikembangkan energi alternatif yang
   baik.
   
 

    Oleh Totok Nugroho,                                   

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook