Alpen Steel | Renewable Energy

~ ADB Mengklaim Telah Beri Bantuan Di Asia

Menggugat Jepang, Pemilik Saham & Pengambil Keuntungan Terbesar ADB

ADB mengklaim selama ini telah memberikan bantuan untuk menyelamatkan orang yang paling
miskin di Asia. Klaim tersebut sesungguhnya bertolak belakang dengan kenyataan bahwa
operasi proyek dan kebijakan utang ADB telah menyebabkan multi krisis dan meningkatkan
jumlah orang miskin di Asia. Jepang, negara terbesar kedua pemilik saham ADB memiliki kuota
suara sebesar 12,75% dari total anggota ADB, dan 19,6% total anggota di regional Asia Pasifik.
Keputusan ADB sangat dipengaruhi suara Jepang, termasuk keputusan-keputusan yang
menguntungkan negaranya, korporasi dan konsultan mereka. Lebih 40 tahun mereka mendapat
keuntungan dari proyek-proyek yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan melanggar
HAM. Khususnya di sektor infrastruktur, energi dan sumber daya alam.

Jepang akan paling diuntungkan dari pertemuan Gubernur ADB ke-42 di Bali saat ini. ADB
tengah mengajukan proposal mitigasi perubahan iklim dengan mengajukan penawaran
membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Padahal, PLTN sangat berbahaya bagi
lingkungan, sosial, ekonomi dan akan membuat Indonesia kembali bergantung pada korporasi
dan negara-negara pemilik teknologi PLTN, terutama dari Jepang. Sejak lama, PLTN ditentang
masyarakat Indonesia, juga dunia internasional karena resiko lingkungan dan kemanusiaan
yang ditimbulkan. PLTN juga mahal, karena biaya keseluruhan bahan uranium, pembangunan
pembangkit dan penutupan (decommisoning). Apalagi, terbukti PLTN tak lepas dari berbagai
kecelakaan fatal, sebagaimana yang pernah terjadi di Jepang.

ADB juga menawarkan teknologi carbon capture and storage (CCS), yang direncanakan
diterapkan di Indonesia pada 2020. Teknologi ini menangkap emisi gas rumah kaca dari
pembangkit listrik seperti batu bara dan mengirimnya ke tempat penyimpanan limbah karbon.
CCS akan berdampak buruk bagi lingkungan karena membutuhkan air 90% lebih banyak
dibanding pembangkit tradisionil. Artinya, ADB tak bisa diharapkan menjawab dampak
perubahan iklim. CCS hanya alasan ADB meningkatkan permintaan batubara dan abaikan
dampak negatif pengerukannya terhadap lingkungan dan lahirnya pelanggaran HAM di sekitar
daerah tambang. CCS tak bisa menyimpan sampah karbon selamanya, sehingga beresiko bagi
generasi selanjutnya.

Padahal, dampak perubahan iklim nyata serius, dan telah memakan korban. Pertemuan 2500
ahli dari 80 negara dalam dalam forum Interrnational Scientific Congress on Climate Change di
Conpenhagen, bulan lalu, menyatakan dunia berada pada jalur skenario terburuk, bahkan lebih
parah dari skenario laporan Intergovernmental Panel on Climate Change Fourth Assessment
Report, tahun 2007. ADB dan usulan CCS nya, malah beresiko menambah emis gas rumah
kaca dan memperburuk perubahan iklim.
Wakil-wakil masyarakat dari tujuh negara di Asia yang berdiskusi dalam Asian People’s
Movement Against ADB Summit, mengecam solusi-solusi yang ditawarkan ADB AGM, 2 – 5
Mei 2009 di Bali. Mereka dengan keras menyatakan bahwa pertemuan ADB tak akan
menjawab krisis yang terjadi saat ini. Mereka justru menunjukkan fakta-fakta ADB lah lembaga
keuangan tingkat regional penyebab krisis pangan, krisis iklim, krisis energi, dan krisis
keuangan.
Operasi proyek-proyek dan kebijakan utang ADB di Srilanka, India, Pakistan, Philipina,
1 / 2
Menggugat Jepang, Pemilik Saham & Pengambil Keuntungan Terbesar ADB

Written by Administrator
Sunday, 05 July 2009 18:28 - Last Updated Sunday, 05 July 2009 18:29
Thailand, Kamboja, Timor Leste dan Indonesia, menunjukkan terjadinya kerusakan sosial dan
ekonomi yang serius bagi rakyat, khususnya kaum perempuan. Dan telah melanggar
prinsip-prinsip kedaulatan ekonomi dan politik di Negara-negara Asia.
Krisis keuangan global tidak dapat menjadi alasan memperkuat peran-peran ADB di tingkat
regional, salah satunya dengan memberi tambahan modal bagi ADB, dari USD 55 miliar
menjadi USD165 miliar. Harusnya, krisis kapitalisme global menjadi momentum melakukan
koreksi total terhadap peran-peran lembaga keuangan seperti ADB.
Kami menuntut Jepang, sebagai negara pemilik saham terbesar kedua dalam ADB, agar
segera menarik diri dari pembiayaan ADB. Saat ini yang dibutuhkan adalah skema alternatif
pembiayaan pembangunan di Asia yang dapat membantu rakyat lepas dari kemiskinan, dan
bencana ekologis berkepanjangan. Kami juga menuntut Jepang untuk bertanggung jawab atas
proyek-proyek utang yang disalurkan, yang telah menyebabkan kurban sosial dan ekonomi
serta menimbulkan kerusakan ekologi yang sangat parah di berbagai negara di Asia.

Written by Administrator

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook