Alpen Steel | Renewable Energy

~ Sosialisasi Nuklir Di Jepang Memakan 800 Juta Yen


Jepang Sediakan 800 Juta Yen Setahun Untuk Sosialisasi Nuklir

Badan Keselamatan Industri Nuklir Jepang (Nuclear and Industrial Safety Agency-NISA) mengalokasikan dana sebesar 800 juta yen setahun atau setara enam miliar rupiah (1 yen sama dengan Rp75) hanya untuk sosialisasi mengenai keberadaan nuklir.

Hal itu terungkap saat pertemuan rombongan Indonesia yang dipimpin Deputi Menristek bidang Dinamika Masyarakat, Prof. Dr. Carunia Mulya Firdausly dengan NISA di gedung Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri (METI) di Tokyo, Kamis.
Menurut Direktur Pelatihan dan Humas mengenai Keselamatan Nuklir, Uichiro Yoshimura, dana tersebut digunakan untuk melakukan sosialisasi dan dengar pendapat publik seputar energi nuklir.
NISA sendiri dibentuk sebagai bagian dari memperkenalkan pengembangan teknologi nuklir dalam pembangunan PLTN terbaru baik mengenai kegiatan-kegiatan dari proses operasional ataupun dalam upaya memperoleh masukan publik dari kebijakan baru mengenai energi nuklir.
Selain itu, di setiap PLTN yang ada di Jepang terdapat petugas Humas yang siap memberikan penjelasan dan juga membangun kesadaran publik terhadap persoalan nuklir.
Strategi lainnya yang dilakukan NISA, menurut Yoshimura, adalah melakukan kunjungan ke pemerintah daerah yang memiliki fasilitas nuklir, dan menggelar dengar pendapat umum dengan masyarakat.
Selain itu, menerbitkan brosur dan penyediaan informasi di website ataupun pengiriman berita melalui email. Juga membanjiri informasi ke public melalui CATV, program televisi kabel dari NISA TV.
"Bahkan kita juga mengadakan debat terbuka melalui simposium yang dihadiri para pakar, baik yang mendukung ataupun menentang pembangunan PLTN," ujarnya.
Saat ini Jepang memiliki 55 PLTN, dan merencanakan untuk menambah 13 unit lagi. Dua diantaranya dalam tahap pengerjaan, sedangkan sisanya dalan tahap persiapan pembangunan.
Pasokan nuklir
Saat ini kebutuhan listrik Jepang sebanyak 30 persen hingga 40 persen dipasok dari PLTN. Jepang juga terus mengadakan riset bagi pengembangan enegi terbarukan.
Selain NISA, rombongan juga bertemu dengan Badan Energi dan Sumber Daya Alam Jepang (ANRE). Disitu, rombongan Indonesia memperoleh sejarah pengembangan nuklir di Negeri Sakura serta kebijakan nuklirnya.
Menurut Kenji Kimura, Direktur Hubungan Energi Nuklir Internasional, Jepang justru mendapatkan respon positif saat memulai pembangunan PLTN, mengingat kebutuhan energi yang besar, sementara Jepang tidak memilki sumber energi yang cukup.
Ketimpangan itu memaksa Jepang meninggalkan kebijakan energi yang bergantung pada minyak dan mulai beralih ke nuklir.
Namun sejak adanya kasus kebocoran nuklir di AS dan Russia (Chernobyl), perhatian publik terhadap faktor keselamatan nuklir semakin meningkat. Publik pun menjadi semakin kritis.
Sementara itu, kebijakan energi yang diterapkan adalah "Energi nuklir dan Energi terbarukan", demikian Masaomi Kayama, wakil Direktur Perencanan Energi Nuklir Jepang.
"Jepang juga akan bekerjasama dengan negara manapun dalam riset dan kegiatan pengembangan nuklir," ujarnya. (Antara)

TOKYO (Suara Karya)

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook