Alpen Steel | Renewable Energy

~ PLTN Muria Bisa Menjadi Ancaman

Ancaman Di Balik Pembangunan PLTN Muria

Rencana pemerintah untuk membuka kembali pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang sempat terbengkalai beberapa tahun yang lalu di semenanjung Muria Kabupaten Jepara, Jawa Tengah mendapat perhatian (protes dan kritik) public yang sangat luas. Setidaknya kemarin 05 Juni 2007 ribuan warga Jepara bersama beberapa tokoh masyarakat seperti Emha Ainun Najib (Budayawan), Franky Sihalatua (Seniman), Emi Khafid (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), Sobitumiwa (Greenpeace), dan Mufid A. Busyairi (Partai Kebangkitan Bangsa) turun ke jalan untuk melakukan doa bersama serta orasi menolak rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di wilayah tersebut.

    Aksi penolakan masyarakat setempat terhadap rencana pembangunan PLTN ini menurut salah seorang warga Jepara sebenarnya sudah berlangsung sejak dua bulan yang lalu, seperti yang pernah dilakukan oleh sebagian besar warga Kudus, Jepara dan Semarang. Namun jika dicermati indikasinya hingga saat ini pemerintah sebagaimana yang diungkapkan oleh Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional Soedyartomo Soentomo tetap akan melanjutkan rencana pembangunan tersebut hingga dapat dioperasiolisasikan pada tahun 2015/2016 nanti dengan kapasitas 1000 megawatt. Berbagai alasan maupun wacana sudah mulai dilendingkan oleh banyak stakeholder terutama pemerintah yang mendukung proses pembangunan PLTN tersebut. Salah satu wacana yang cukup kuat adalah menyangkut isu pemanasan global yang tidak hanya menjadi wacana dalam negeri kita sendiri. Sebab dengan menggunakan energi nuklir, menurut Soedyartomo bisa mengurangi pemanasan global, karena PLTN mampu mengurangi CO2. (Koran Tempo/06/06)

    Wacana kedua yang mengemuka adalah menyangkut faktor kelangkaan sumber energi di tanah air kita khususnya untuk pulau Jawa yang diestimasi terjadi pada tahun 2020 nanti. Penurunan sumber energi ini adalah akibat pertumbuhan penduduk dan meningkatnya industrialisasi. Oleh karenanya pemerintah bertanggung jawab mencari sumber energi alternatif berupa energi nuklir. Pilihan terhadap energi nuklir sendiri atas pertimbangan efisiensi, sebab nuklir dapat menggantikan sumber energi tak terbarukan dan memakan biaya yang relatif murah, sehingga 1 Kg uranium setara dengan 1000 - 3000 ton batu bara atau setara dengan 160 truk tangki minyak diesel yang berkapasitas 6.500 liter.

Kepentingan Di Balik Energi Nuklir

    Jika disimak beberapa wacana maupun argmen yang dikedepankan pemerintah untuk melanjutkan proyek pembangunan PLTN tersebut, terkesan bahwa pembangunan PLTN ini merupakan suatu kebutuhan masyarakat yang paling urgen. Kita bisa bayangkan alasan pemerintah menyangkut kelangkaan energi di Jawa maupun alasan pemanasan global yang kini mem-firusi pikiran banyak manusia. Tentu saja bagi banyak orang (masyarakat awam) dengan wacana yang dikemukakan di atas akan cepat mengambil keputusan untuk mendukung pembangunan PLTN tersebut.

    Akan tetapi jika mencermati perkembangan dunia industri saat ini, seperti MNCs (Multinasional Corporations) atau TNCs (Trannasional Corporations) yang digerakkan oleh para kapitalis negara-negara maju, bisa disimpulkan bahwa proyek pembangunan PLTN bukanlah semata-mata untuk kepentingan rakyat, melainkan sebuah kebutuhan industri kapitalis dengan mengkonstruks realitas masyarakat untuk menjadikan energi nuklir sebagai sebuah kebutuhan yang sebenarnya (Pseudo Need). Konstruksi suatu hal  yang sebenarnya tidak menjadi kebutuhan namun diciptakan seakan-akan menjadi kebutuhan penting bagi manusia inilah yang oleh Baudrilard disebut sebagai simulacrum atau sebuah realitas yang palsukan.

    Dalam teori industrial complex (kompleksitas industri), komoditas yang diproduk haruslah laris dan terjual oleh sebuah industri, sehingga bisa memperoleh keuntungan atau laba. Sebab jika komoditas yang diproduk tidak terjual, maka akan mengakibatkan kerugian bagi pihak industri. Untuk melariskan barang dagangannya, maka dikonstruklah sebuah realitas dengan berbagai bentuk wacana hegemonik yang membuat orang menjadi butuh terhadap komoditas tersebut. Misalnya dalam dunia kesahatan muncul istilah medical industrial complex, artinya bahwa pihak industri mengkonstruk makna sehat dan sakit itu sesuai dengan komoditas yang akan dipasarkannya. Sehingga bisa jadi seseorang dalam keadaan sehat, namun dengan konstruksi sehat dan sakit yang diwacanakan oleh pihak industri akan membuat seseorang yang sehat tadi menjadi sakit, ketika sudah ”sakit” masyarakat harus mengkonsumsi produk yang diciptakan oleh pihak industri sebelumnya.

    Tidak berbeda jauh dengan isu kesehatan (medis) di atas, perkembangan industri nuklir juga membutuhkan pasaran di banyak wilayah dan negara. Jikalau bisa semua negara-negara menggunakan energi nuklir, sehingga pihak industri bisa meraih keuntungan yang sebanyak-banyaknya dari pembangunan tenaga energi nuklir. Namun untuk memudahkan misi penjualan tersebut, diwacanakan oleh stakeholder energi nuklir tersebut hal-hal seperti di atas, pemanasan global, kelangkaan energi, biaya murah dan sebagainya, sehingga orang menjadi butuh terhadap energi nuklir, dan inilah yang untuk selanjutnya disebut dengan nucliear indutrial complexs (kompleksitas industri nuklir). Kalau demikian halnya, maka energi nuklir bukanlah kebutuhan bagi masyarakat kita, namun sudah menjadi kebutuhan bagi para kapitalis yang memiliki puluhan bahkan ratusan industri.

Risk Society       

    Pembangunan energi nuklir bukan semata-mata problematik, karena dia menjadi kebutuhan pihak industri, melainkan juga yang lebih penting adalah resiko dari ”kebocoran” proyek energi nuklir tersebut terhadap kehidupan lingkungan dan manusia. Sebab di era modern, semakin maju pembangunan teknologi, maka semakin tinggi tingkat resiko yang akan dihadapi oleh masyarakat. Maka jika masyarakat tidak memiliki - meminjam istilah Ulrich Beck (1992) - ideologi masyarakat beresiko, maka ini jelas akan memiliki ancaman dan dampak yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat jika terjadi kebocoran atau kesalahan dalam mengoperasional proyek nuklir ini terhadap kehidupan  manusia.

    Sebagai sebuah contoh nyata adalah kecelakaan Chernobyl yang terjadi pada 26 April 1986 akibat kesalahan manusia dalam mengoperasionalisasikan pembangkit listrik tenaga nuklir tersebut. Dampak yang ditimbulkan dari peristiwa itu adalah ledakan hebat yang menghasilkan kontaminasi radioaktif di wilayah sekitarnya seperti Rusia, Eropa Barat, Eropa Timur, Eropa Utara and Timur Laut Amerika, sebagian besar Ukraina dan Belarusia. Setidaknya menurut data EAIA dan WHO (2005) menyebutkan mereka yang korban meninggal sebanyak 56 orang secara langsung (47 pekerja dan 9 anak yang terkena kanker tiroid), dan diperkirakan 9000 orang terkena kanker tiroid. Sementara warga yang dievakuasi berjumlah 336,000 orang. Sehingga setelah peristiwa itu terjadi, kota Prypiat menjadi kota hantu yang mati bertahun-tahun (Film Dokumenter).

    Kejadian tersebut jika dilihat dari konteks risk society tadi, tidak lepas dari lemahnya kemampuan untuk memenej resiko yang dimunculkan dari kemajuan teknologi tersebut. Jikalau demikian persoalannya, lantas bagaimana dengan Indonesia? Sudahkah memiliki kesiapan untuk mememej atau mengurangi resiko yang terjadi dengan proyek PLTN tersebut? Jika melihat pengalaman untuk satu tahun belakangan ini, terutama manyangkut banyaknya sarana transportasi yang mengalami kecelakaan hingga menghilangkan banyak nyawa manusia. Kiranya bangsa kita belum pantas untuk menggunakan energi nuklir sebagai energi alternatif tersebut? Sebab bagaimana mungkin kita bisa mengurangi resiko yang bakal terjadi dari energi nuklir yang super canggih itu, sementara untuk memenej resiko kecelakaan transportasi saja kita masih lemah.

    Oleh sebab itu, kalau memang kita belum memiliki kemampuan untuk memenej resiko tersebut, menurut penulis rencana pembangunan energi nuklir ini perlu dan lebih baik dihentikan, karena hanya akan menambah banyak persoalan ketimbang solusi yang diberikan. Barangkali kita bisa melihat beberapa negara di Eropa, seperti Jerman, negara ini sudah mulai merencanakan untuk mengurangi radiaktor nuklirnya yang berjumlah 17 unit dengan menggantikannya melalui energi anggin (Nugroho;2007). Maka rasanya terlalu ”bodoh” bagi bangsa Indonesia yang masih lemah dibandingkan negara Jerman dalam kemampuan teknologi dan memenej resiko, namun bersikeras untuk membangun PLTN tersebut. Untuk itu, gerakan-gerakan anti nuklir perlu kita dorong untuk menghentikan rencana pembangunan PLTN tersebut agar hidup ini bisa terhindar dari ancaman dan berbagai resiko yang mematikan. 

*) Adalah Aktivis Mahasiswa Muhammadiyah

Oleh: Deni al Asy'ari*

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook