Alpen Steel | Renewable Energy

~ Penggunaan Energi Nuklir untuk Listrik 2010-2015

Jakarta, Kompas - Pemerintah memproyeksikan penggunaan energi nuklir sebagai alternatif memenuhi kebutuhan listrik bisa dimulai antara 2010 hingga 2015. Untuk itu, ada tiga pertimbangan yang harus disosialisasikan, yaitu aspek perekonomian, keamanan, dan penerimaan masyarakat.

Demikian disampaikan Menteri Negara Riset dan Teknologi Hatta Radjasa seusai mendampingi Wakil Presiden Hamzah Haz menerima Ketua Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nasional (Bapeten) Azhar Djaloeis di Istana Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (21/7).

"Walaupun dalam kebijakan tersebut nuklir merupakan pilihan terakhir, studi yang kita lakukan bersama International Atomic Energy Agency (IAEA) menunjukkan adanya keterbatasan energi primer di Indonesia, seperti gas, minyak, dan air," ungkap Hatta.

Menurut dia, tingkat kebutuhan energi listrik setiap tahun naik antara delapan sampai 12 persen. "Maka energi nuklir layak dipertimbangkan menjadi energi listrik pada tahun 2010 sampai 2015," ujarnya.

Hatta menegaskan, dilihat dari sisi ekonomi, tenaga nuklir sangat kompetitif dibandingkan sumber energi lain. "Sekitar 30 ton uranium bisa menghasilkan 1.200 megawatt. Padahal, di Kalimantan saja kita mempunyai cadangan sekitar 10.000 ton uranium. Belum lagi di Sumatera dan Indonesia Timur," tambah As Natio Lasman, Deputi Kepala Bidang Pengkajian Keselamatan Nuklir Bapeten.

Dilihat dari aspek keamanan, perkembangan teknologi mutakhir justru menunjukkan kecilnya risiko penggunaan nuklir. "Bahkan, kita lihat angka kecelakaan paling rendah di bidang nuklir dibandingkan energi-energi listrik yang lain," tuturnya.

Menneg Ristek menegaskan, pemerintah tetap melanjutkan proyek listrik tenaga nuklir di Muria, Kudus (Jateng), di samping beberapa pembangkit untuk penelitian yang berskala kecil seperti dibangun Korea Selatan. "Paling kecil pembangkit listrik tenaga nuklir itu akan menghasilkan 7.000 megawatt. Pembangkit sebesar itu akan memudahkan interkoneksi Jawa-Bali-Sumatera," katanya.

Hatta menambahkan, 7 Agustus 2003 Deputi Direktur Jenderal IAEA akan menyerahkan hasil studi dan penelitiannya kepada Presiden Megawati Soekarnoputri. Di dalam penelitian itu disebutkan Indonesia layak masuk dalam pengembangan energi nuklir untuk tujuan damai.

(mba/ely) http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0307/23/iptek/450394.htm

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook