~ Pemerintah Diminta Segera Bangun PLTN Bangka Belitung

Jakarta (Detik.com - zal/van) - Badan Tenaga Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) yang berada di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyatakan Indonesia sebagai negara paling siap dalam mengembangkan energi nuklir. Oleh karena itu, pemerintah pun diminta segera mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Bangka Belitung, untuk memenuhi kebutuhan energi listrik di Indonesia.

"Indonesia dinilai IAEA sebagai negara yang paling siap untuk mengolah dan membangun pengembangan nuklir, seperti PLTN di Bangka Belitung," kata pengamat intelijen dan pengajar di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Wawan H Purwanto kepada wartawa di RM Sate Pancoran, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (30/12/2010).

Seperti diberitakan, IAEA seperti yang dituturkan oleh Dubes RI untuk Austria, I Gusti Agung Wesak, Rabu (15/12/2010) Indonesia adalah negara yang paling siap mengembangkan energi nuklir, bersama dua negara lainnya Jordania dan Vietnam. 

Tentunya, pernyataan IAEA ini merupakan dorongan politis bagi Indonesia untuk mengembangkan PLTN seperti di Bangka Belitung. Namun, semua itu masih tergantung keputusan politik dari pemerintah Indonesia.

Kesimpulan itu adalah hasil penelitian IAEA yang bermarkas di Wina, berjudul "Integrated Nuclear Infrastructure Review 2009" yang meneliti kesiapan negara berkembang mengembangkan PLTN. Ketua IAEA Yukia Amano sendiri sangat antusias mendukung Indonesia mengembangkan nuklir dan berharap bisa berkunjung ke Jakarta dalam waktu dekat.

Menurut Wawan, sampai saat ini tercatat ada sekitar 441 unit PLTN yang beroperasi di seluruh dunia. Sedangkan yang masih dalam tahap dikontruksi ada sekitar 36 unit PLTN, ini belum termasuk Israel dan Taiwan. Sejumlah negara yang sudah lama dan banyak mengembangkan PLTN di antaranya seperti Amerika Serikat yang memiliki 104 unit PLTN, Perancis ada 58 unit PLTN, Jepang ada 54 unit PLTN
dan Rusia ada 32 unit PLTN.

Bahkan sejumlah negara juga saat ini tengah akan menambah PLTN dari PLTN yang sudah dimilikinya. Di antaranya Cina yang akan menambah 26 unit PLTN dari yang ada dari 13 unit, PLTN. Rusia menambah 11 unit PLTN sehingga menjadi 43 unit PLTN. India dari 19 unit PLTN akan ditambah menjadi 23 unit PLTN. Begitu pula Korea Selatan dari 21 menjadi 26 unit PLTN.

Begitu pula negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, di mana kabinet dan parlemennya sudah mengetok palu untuk pengembangan PLTN ini pada tahun 2020 mendatang. "Nah, Indonesia sudah mendapatkan rekomendasi dari IAEA, sehingga sangat layak untuk mengembangkan nuklir. Apalagi selama ini sumber energi listrik yang berasal dari panas bumi, air, angin dan gas hasilnya masih
sedikit," jelasnya.

Padahal, lanjut Wawan, setidaknya setiap tahun Indonesia membutuhkan penambahan 3.000 megawatt. Oleh karena itu, dengan pengembangan nuklir merupakan gerakan yang masif untuk memenuhi kebutuhan listrik di Indonesia, seperti rencana membangun PLTN di Bangka Belitung yang diperkirkan bisa menghasilkan 8.000-10.000 megawatt dengan takisan nilai pembangunan proyek sekitar Rp 50
triliun. 

"Ini bisa menghasilkan energi listrik yang masif memenuhi kebutuhan Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Nusa Tenggara," ungkapnya.

Wawan juga mengungkapkan sejumlah ahli dari AS, Jepang Perancis, Uni Eropa, Rusia dan Australia sudah melakukan penelitia di Bangka Belitung. Para ahli ini pun membenarkan tentang kemampuan wilayah ini dan para ahli Indonesia untuk membangun dan menghasilkan energi nuklir.

Memang selama ini ada pengembangan reaktor nuklir seperti di Serpong, Bandung dan Yogyakarta. Bahkan pembangunan PLTN Muria, namun semua terhambat ketika gejolak krisis ekonomi melanda Indonesia. PLTN Muria pada tahun 2007-2008 sempat akan dilakukan pengembangan lagi, tapi kondisi politik yang belum berubah.



Artikel yang berhubungan:
Baca Juga:
Artikel sebelumnya:

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum