Alpen Steel | Renewable Energy

~ Kaji Jaminan Keselamatan Dan keamanan PLTN

ENERGI NUKLIR
Tidak Gampang Mendirikan PLTN

 

Jakarta, Kompas - Keterbukaan prosedur ataupun penggunaan teknologi untuk menjamin keamanan dan keselamatan menjadi prasyarat mutlak mendirikan pembangkit listrik tenaga nuklir atau PLTN. Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional Hudi Hastowo, Rabu (28/4) di Jakarta, mengatakan, tidak gampang untuk mendirikan PLTN, harus mengikuti prasyarat-prasyarat tersebut.

”Indonesia meratifikasi Konvensi Keselamatan Nuklir. Kalau Indonesia membangun PLTN, negara tetangga, seperti Australia dan Singapura, berhak mengkaji untuk mengetahui jaminan keamanan dan keselamatan dari pembangunan PLTN tersebut,” kata Hudi.

Hudi menanggapi penolakan rencana PLTN di Indonesia oleh berbagai lembaga swadaya masyarakat saat ini. Menurut dia, pembangunan PLTN tidak perlu dikhawatirkan lagi karena sistem analisis keamanan dan keselamatannya sudah diatur ketat secara internasional.

Secara terpisah, Ketua Masyarakat Antinuklir Indonesia (Manusia) Dian Abraham mengatakan, poin terpenting pada penolakan PLTN adalah sistem maupun teknologi secanggih apa pun untuk mendirikan PLTN, tetap memiliki risiko kecelakaan yang sangat membahayakan.

”Sekarang ini berkisar 70-80 persen teknologi PLTN di dunia masih menggunakan teknologi yang sama dengan generasi di Chernobyl,” kata Dian.

PLTN di Chernobyl, Rusia, pada 1986 mengalami kecelakaan. Menurut Dian, terdapat hasil penelusuran terbaru terhadap jumlah korban kecelakaan di Chernobyl yang mencapai 1 juta jiwa.

Energi terbarukan

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN), pemerintah menetapkan pada 2016 agar dimulai operasional PLTN. Menurut anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Tumiran, ketika mendukung upaya pembangunan PLTN, bukan berarti tidak berpihak pada penggunaan energi terbarukan.

Menurut Tumiran, satu reaktor PLTN berkapasitas 1.000 megawatt lebih cepat dibangun, ketimbang pembangunan pembangkit listrik lain dengan energi terbarukan. Pembangunan PLTN di Indonesia juga sudah mendesak, dilihat dari aspek ketersediaan energi listrik untuk industri di sejumlah daerah yang mengalami kekurangan.

Dian mengatakan, kapasitas listrik satu reaktor PLTN menghasilkan 1.000 megawatt pada 2016, masih bisa dikejar dengan energi terbarukan. Sumber energi terbarukan di Indonesia sangat berlimpah, hanya saja pemerintah kurang serius memanfaatkannya dengan baik.

”Masih cukup waktu untuk mengembangkan sumber energi terbarukan. Perdebatan mengenai PLTN berisiko tinggi bagi keselamatan manusia hanya membuang waktu,” kata Dian.

Potensi sumber energi terbarukan meliputi air (76 gigawatt), geotermal (27 gigawatt), biomassa (50 gigawatt), dan sebagainya. Pemanfaatannya sekarang masih jauh dari yang diharapkan. (NAW)

 

Sumber : Kompas

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook