Alpen Steel | Renewable Energy

~ Lima Faktor Hambatan Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

Pembangkit Nuklir Terkendala Lima Faktor: Benahi Manajemen Sumber-sumber Energi


 

Pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir masih sulit diwujudkan karena masih terkendala oleh sedikitnya lima faktor. Selain itu, tingginya risiko pembangkit listrik tenaga nuklir yang menghasilkan limbah radioaktif hingga sekarang masih mendapatkan penolakan sebagian lapisan masyarakat.

"PLTN (pembangkit listrik tenaga nuklir) hingga sekarang belum memiliki peluang," kata anggota Dewan Energi Nasional, Rinaldy Dalimi, Kamis (5/11) di Jakarta. Menurut Rinaldy, sedikitnya lima faktor yang menjadi kendala pembangunan PLTN meliputi Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) belum siap menyediakan sumber daya manusia, belum siap menyediakan bahan bakar nuklir (yaitu uranium), dan belum siap dalam menangani teknologi pengayaan uranium. Selain itu, faktor kendala lain adalah pemerintah belum menentukan teknologi PLTN yang akan dipakai. Dana besar untuk pelaksanaan pembangunan PLTN juga belum tersedia.

"Mengenai teknologi pengayaan uranium, Indonesia sebagai negara berkembang juga akan sulit mendapat dukungan dari negara-negara maju yang menguasai teknologi tersebut. Masih ada kekhawatiran terhadap penyalahgunaan untuk kepentingan persenjataan," kata Rinaldy.

Mantan Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia ini juga mempertanyakan munculnya gagasan untuk mendirikan PLTN itu. Gagasan pemerintah untuk mendirikan PLTN sebenarnya sudah dihentikan atau ditunda. Pemerintah, dalam hal ini Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, menggantinya dengan program pembangunan pembangkit listrik dengan batu bara sebesar 10.000 megawatt (MW) tahap I dan II. Ditambah target produksi 26.000 MW yang diserahkan kepada produsen listrik swasta (independent power producer).

Total produksi listrik yang ingin dicapai sebesar 46.000 MW diharapkan terealisasi semuanya pada 2025 nanti. Target produksi ini diperhitungkan mampu memenuhi kebutuhan listrik yang meningkat setiap tahun, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar listrik untuk industri.

Menurut Rinaldy, persepsi terhadap pembangunan PLTN sebagai teknologi yang bersih dan murah kini sulit lagi diberlakukan. Pengamanan limbah radioaktif dan risiko kecelakaan dari operasionalisasi PLTN sudah harus dinominalkan menjadi nilai investasi yang tidak murah lagi.

Penanganan energi

Secara terpisah, Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Arya Rezavidi mengatakan, penanganan energi sebaiknya dipisahkan dengan penanganan masalah pertambangan. Gagasan mendirikan PLTN sebetulnya didorong atas kekhawatiran akan terjadinya krisis energi pada masa-masa mendatang.

Kekhawatiran seperti itu hendaknya tidak perlu terjadi mengingat ketersediaan sumber energi Indonesia masih tergolong aman. Namun, persoalan yang muncul saat ini adalah kekeliruan manajemen atau penanganan sumber-sumber energi primer yang disamakan dengan hasil pertambangan lainnya. "Ekspor energi primer berupa batu bara, minyak, atau gas alam masih dipacu untuk perolehan devisa, seperti dari hasil pertambangan lainnya. Semestinya, ekspor energi primer itu dilakukan setelah keamanan energi dalam negeri dalam jangka waktu tertentu terpenuhi," kata Arya.

Arya mencontohkan, pemerintah daerah di Kalimantan Timur pernah mengeluhkan produksi listrik melalui pembangkit listrik tenaga uap terhenti karena kesulitan mendapatkan pasokan gas alam. Padahal, Kalimantan Timur termasuk wilayah eksploitasi gas alam yang paling tinggi di Indonesia. Namun, hasil eksploitasi sumber energi itu lebih banyak diekspor.

Menurut Rinaldy, krisis energi terjadi kala kebutuhan konsumen terhadap listrik tidak dapat dipenuhi sesuai dengan kebutuhan dan tepat waktu. Kondisi krisis energi listrik masih terjadi di berbagai wilayah, termasuk wilayah yang justru memiliki potensi sumber energi melimpah. "Itu menjadi bukti belum dibutuhkannya PLTN. Namun, potensi energi yang dimiliki, terlebih energi terbarukan, perlu dioptimalkan," ujar dia.

Sumber : Harian Kompas

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook