Alpen Steel | Renewable Energy

~ Pembagunan PLTN Muria Ditunda

Optimalkan Mikrohidro dan Panas Bumi

Pemerintah menunda rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir di Muria, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, hingga tahun 2018. Masyarakat luas dinilai belum mampu menerima aplikasi teknologi nuklir dalam kehidupan sehari-hari.

Staf Ahli Kementerian Riset dan Teknologi Bidang Energi Alternatif Terbarukan Martin Jamin, Senin (15/6) di Bandung, mengatakan, sebenarnya pengembangan PLTN Muria telah siap sepenuhnya "Namun, pemerintah memiliki pertimbangan lain, seperti ekonomis, politis, dan sosial. Hingga kini, masyarakat masih banyak yang belum menerima keberadaan PLTN," kata Martin, seusai menghadiri ASEAN Residential School bertema "Climate Change and Power Plant Technology" di Bandung.

Sebelumnya, pembangunan PLTN Muria direncanakan mulai dibangun pada 2016. Ini tertuang dalam Rencana Umum Ketena-galistrikan Nasional (RUKN) 2017. Direktur Perencanaan dan Teknologi PT PLN Bambang Praptono mengatakan, dalam RUKN 2018 yang terbit 2008, rencana pengembangan teknologi nuklir untuk listrik tidak lagi dicantumkan. PLTN akan kembali muncul bila ada revisi RUKN.

Menurut Martin, investasi di tenaga nuklir memang lebih mahal, tetapi harga listriknya lebih murah dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga uap atau gas. Tingkat pengamanan dalam pengembangan nuklir semakin bagus dan dari segi lingkungan nuklir lebih ramah karena tak menghasilkan polusi.

Satu unit PLTN, kata Martin, bisa menghasilkan energi mulai dari 5.000 megawatt (MW) hingga di atas 10.000 MW. Selain di Muria, energi tenaga nuklir sebenarnya dapat dikembangkan di Kalimantan.
Menurut Bambang, investasi PLTN memang relatif mahal. Se-tiap pembangkit berkekuatan 1.000 MW membutuhkan dana 1,7 miliar dollar AS. Namun, investasi sebesar itu mampu menghasilkan energi listrik yang murah, yakni 3,5 sen dollar AS sampai 4,2 sen dollar AS per kilowatt

Kini, pemerintah terus menggenjot pengadaan listrik dalam megaproyek 10.000 MW tahap kedua yang rencananya 60 persen di antaranya akan bersumber dari energi terbarukan, seperti mikrohidro dan panas bumi. Salah satu pembangkit hidro untuk 10.000 MW tahap II yang tengah dibangun adalah PLTA Ciater-Cisokan di Jabar, di sekitar Waduk Saguling-Cirata berkapasitas 1.000 MW.

Untuk panas bumi, akan dibangun di PLTGU Kamojang, Tangkuban Parahu, dan Cisolok-Sukarame. "Dari proyek 10.000 MW itu akan diupayakan pengadaan daya 4.700 MW dari lima wilayah kerja pertambangan (WKP) di daerah-daerah itu." kata Bambang. (GRE)

  Ditulis oleh Luthfi Hani
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook