Alpen Steel | Renewable Energy

~ Pembangunan PLTN Belum Dirasa Perlu

Teknologi Nuklir dan PLTN

Sebelumnya saya ingin mengutarakan bahwa saya kurang sepakat kalau dikatakan kontra Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Tetapi menurut pengamatan saya, Indonesia belum membutuhkan PLTN 20 sampai 30 tahun ke depan.

Saya ingin memberikan beberapa catatan, pandangan saya mengenai energi listrik di Indonesia.

Pertama, saya akan membedakan antara pemanfaatan energi nuklir di Indonesia dengan pembangunan PLTN di Indonesia. Energi nuklir perlu kita kuasai dan untuk keperluan tertentu (pertanian, kesehatan, makanan, dan lain-lain) bisa kita manfaatkan di Indonesia. Tetapi mengenai pembangunan PLTN untuk Indonesia dalam rangka menghadapi “krisis energi”, permasalahannya akan lain. Kalaulah semuanya memungkinkan, termasuk masalah investasi, semua kebutuhan energi listrik Indonesia saat ini bisa dipasok hanya dari energi air (PLTA) dengan potensinya sekitar 75 000 MW, sedangkan yang baru termanfaatkan sekitar baru sebagian kecil Kalaulah semua potensi PLTA, PLTP, PLTU dapat kita gunakan untuk kebutuhan energi listrik Indonesia, betapa besarnya energi listrik yang bisa kita hasilkan. Kita belum memasukan potensi gas, BBM dan energi terbarukan yang ada di Indonesia.

Kedua, permasalahan energi atau kekurangan energi (yang juga sering disebut krisis energi), bukan disebabkan oleh karena kita tidak punya sumber daya energi yang cukup sehingga kita harus membangun PLTN, tetapi disebabkan karena perencanaan dan kebijakan energi kita yang mengatakan bahwa pada tahun 2025 Indonesia (harus) memasok kebutuhan listrik sebesar 2 % dari energi PLTN.

Ketiga, kalau ditanyakan bagaimana mengatasi kebutuhan energi pada tahun 2025 tanpa PLTN? jawabnya adalah ganti kebijakan (Peraturan) yang mengatakan bahwa energi listrik pada tahun 2025 dari PLTN 2 %, menjadi 0 %. Buat perencanaan dengan skenarion tersebut.

Keempat, dari tahun 80 an, dalam Perencanaan Energi Nasional jangka panjang, pembangunan PLTN sudah direncanakan untuk dibangun. Pro dan kontra selalu ada, dan sudah banyak social cost yang sudah dikeluarkan. Argumentasi pro dan kontra sudah tidak sehat (tidak ilmiah lagi), di antaranya ada yang mengatakan PLTU batubara lebih berbahaya dari PLTN, ada juga yang mengatakan bahwa dalam udara bebas sudah ada uranium 238 dan tubuh manusia sudah terbiasa dengan radiasi alamiah.

Kelima, secara teori PLTN sudah bisa dibuktikan “aman” dengan simulasi, dan dengan menggunakan teknologi bisa menahan gempa atau bencana alam lainnya. Tetapi semakin canggih PLTN kita bangun, biaya investasinya akan lebih mahal dari pembangkit lain. Sehingga untuk Indonesia yang mempunyai sumber daya energi yang lain, pembangunan PLTN menjadi tidak tepat untuk Indonesia.

Keenam, Indonesia harus mengimport bahan bakar uranium, dan uranium dunia akan semakin menipis dan semakin mahal, dan diperkirakan akan habis 50 tahun lagi. Ketergantungan dengan Negara lain akan semakin tinggi

Ketujuh, karena Indonesia masih punya sumber daya energi yang cukup, dan investasi PLTN di Indonesia akan mahal karena harus dirancang untuk kemungkinan gempa dan adanya social cost saya menyarankan kepada Pemerintah supaya menunda pembangunan PLTN untuk 20-30 tahun kedepan. Dan saya yakin 20-30 tahun kedepan teknologi energi terbarukan (surya, angin, dan lain-lain) sudah akan lebih murah, sehingga Indonesia tidak perlu membangun PLTN selama-lamanya.

Narasumber : Prof. Rinaldy Dalimi, Pengamat Perlistrikan

 
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook