Alpen Steel | Renewable Energy

~ Pembangunan PLTN di Indonesia

PLTN, Harus Utamakan Kepentingan Rakyat

Dalam kurun waktu 20 tahun belakangan ini, wacana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir terus-menerus mengalami perdebatan yang tidak ada habis-habisnya. Ibarat dua sisi mata uang, di satu sisi terdapat pihak yang menolak; sementara di lain sisi terdapat pihak yang menerima pembangunan PLTN di Indonesia.

Pihak yang menolak pada dasarnya beranggapan karena kekhawatiran atas ancaman kebocoran dan radiasi nuklir. Alasan yang dikemukakan, kondisi wilayah Indonesia yang secara geologis berbahaya bagi pembangunan PLTN (karena termasuk negara kepulauan yang rentan terhadap gempa dan gelombang laut atau tsunami), adanya dampak negatif PLTN terhadap lingkungan fisik dan sosial; keraguan terhadap kompetensi tenaga ahli Indonesia atas pengoperasian reaktor nuklir; hingga belum adanya transparansi pembiayaan pembangunan PLTN.

Sementara itu, pihak-pihak yang menerima rencana pembangunan PLTN menganggap bahwa pembangunan ini merupakan salah satu opsi untuk mengatasi krisis energi (yang diprediksi) tahun 2025 akan terjadi Indonesia. Dengan alasan semakin berkurangnya bahan bakar fosil (minyak dan batu bara) serta tingkat pencemaran PLT batu bara, PLTN merupakan pilihan tepat untuk memenuhi kebutuhan listrik di Indonesia.

Saat ini, pemerintah melalui Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) bersama Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkoninfo) gencar melakukan sosialisasi di Jateng mengenai rencana pembangunan proyek PLTN di Muria, Jepara. Rencananya, PLTN yang dipersiapan beroperasi pada 2015 akan menambah catu daya sekitar 5.000 hingga 7.500 megawatt (MW) untuk mengatasi krisisi listrik jaringan Jawa-Bali pada 2020. Proyek PLTN terpadu dengan perkirakan lima hingga enam reaktor, satu rekator berkapasitas 600-1.000 MW.

Rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir atau PLTN di Dukuh Lemahabang, Desa Balong, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, harus mendapat persetujuan publik. Langkah jajak pendapat atau referendum, dinilai pakar komunikasi politik dari Universitas Indonesia, Effendi Ghazali, merupakan langkah terbaik yang harus ditempuh pemerintah saat ini.

"Referendum harus diawali dari masyarakat Kabupaten Jepara terlebih dahulu. Kalau hasilnya ditolak, tidak perlu dilanjutkan untuk referendum secara menyeluruh di Indonesia," kata Effendi, Kompas, Rabu (11/7).

Nampaknya rencana pemerintah sudah bulat. Hal ini ditenggarai dengan adanya dana sosialisasi bagi pembangunan PLTN di Muria yakni sebesar Rp 5 Miliar. Kementerian Negara Riset dan Teknologi mengusulkan sejumlah kegiatan melalui APBN yang diajukan melalui Departemen Keuangan, Bappenas, dan disetujui oleh DPR.

Dana sosialisasi untuk tahun 2007 yang disetujui adalah Rp 5 milyar. Selain itu sosialisasi PLTN tersebut memperoleh dukungan internasional seperti KOICA (Korea) dan JETRO (Jepang) yang jumlahnya sekitar Rp 2,5 Milyar.

Sementara kegiatan-kegiatan yang dibiayai dengan dana tersebut antara lain studi banding, penulisan buku suplemen untuk sekolah dari tingkat SD sampai SMU, pembuatan modul TOT, sosialisasi untuk masyarakat di Jepara, Pati, Kudus, Malang, Madura dan Bali.

Di beberapa kali rapat dengar pendapat dengan DPR disarankan agar KNRT segera melakukan sosialisai PLTN ke masyarakat, dan disarankan agar program sosialisasi PLTN tahun 2007 dan tahun 2008 dilakukan secara pararlel mengingat masalah tersebut sudah menjadi masalah nasional.

Hal penting lainnya, adalah program sosialisasi PLTN harus transparan, jujur dan seimbang dalam menjelaskan manfaat dan risiko dari pembangunan PLTN.


Nuklir Layak Dikembangkan

Peningkatan populasi penduduk yang berbanding lurus dengan kebutuhan energi, apalagi tren penduduk, menunjukkan perkembangan penduduk agrikultural menuju industrial, menipisnya cadangan sumber energi konvensional (minyak bumi dan gas), serta keterbatasan daya dukung lingkungan terhadap efek penggunaan sumber energi konvensional adalah sebagian alasan pemilihan energi nuklir sebagai alternatif dan cadangan kebutuhan energi dalam negeri.

Tampilnya kesan buruk energi nuklir terhadap lingkungan hidup menyebabkan sisi-sisi potensi positif energi listrik tertutupi. Energi nuklir memiliki kelemahan yang sama dengan energi konvensional lainnya, seperti potensi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Masalah keamanan konstruksi PLTN yang menjadi penolakan karena kekhawatiran akan kebocoran radioaktif tentunya telah dipikirkan sehingga pemilihan wilayah konstruksi PLTN di Semenanjung Muria dinilai tepat karena kondisi tanah yang stabil.

Rusia, Perancis, dan beberapa negara Eropa barat lainnya merupakan contoh negara-negara yang telah memanfaatkan energi nuklir dalam menghidupi kebutuhan listrik, baik permukiman maupun industri. Tragedi Chernobyl maupun kasus tumpahan limbah radioaktif seharusnya tidak menjadi alasan meniadakan pengembangan energi nuklir di Indonesia. Daya dukung konstruksi, teknologi pengolahan uranium sebagai bahan baku energi nuklir, serta pengolahan limbah radioaktif yang harus dioptimalkan.

Kebutuhan akan listrik adalah primer, apalagi berkaitan dengan pembangunan yang sedang berjalan. Berapa banyak investor yang ke luar Indonesia karena macetnya suplai listrik industri. Berapa kerugian yang diderita perusahaan dan industri kecil menengah selama krisis listrik melanda Indonesia, khususnya daerah Jawa, Madura, dan Bali, sementara di sisi lain ternyata masih ada wilayah Indonesia yang belum terjangkau listrik.

Beberapa pihak yang menolak energi nuklir mengajukan energi alternatif lainnya, seperti biofuel, fuel cell, micro hydro. Kenyataannya, energi alternatif ini belum siap untuk segera berproduksi, masih diperlukan penelitian, pengembangan, dan perencanaan yang lebih luas. Tentunya ketidaksiapan ini berpengaruh pada cadangan dan pemanfaatan energi secepat mungkin. Para pihak, baik yang pro maupun kontra, sepantasnya untuk berpikir lebih luas dan mencari jalan yang riil, solutif, dan aplikatif karena kebutuhan listrik nasional sudah mendesak.

Harapannya, tentu saja terhadap pemerintah agar tidak sekadar berwacana dalam pengembangan berbagai alternatif energi nasional. Realisasikan pengembangan energi nonkonvensional, baik energi nuklir maupun energi terbarukan, sehingga dapat menunjang kebutuhan listrik nasional.


Sisi Bahayanya

Kasus kebocoran pembangkit listrik tenaga nuklir Kashiwazaki-Kariwa, Jepang, menghidupkan lagi wacana tentang sisi bahaya energi nuklir. PLTN Kashiwazaki-Kariwa, yang dioperasikan perusahaan listrik Tokyo Electric Power (Tepco) sejak tahun 1985, terpaksa ditutup sekurang-kurangnya untuk satu tahun sejak hari Rabu 19 Juli karena mengalami kebocoran radioaktif akibat gempa berkekuatan 6,8 skala Richter awal pekan ini.

Bocoran 1.200 liter air yang mengandung radioaktif telah mencemari laut, dan sejauh ini belum sampai mengancam kehidupan manusia. Meski demikian, kecemasan lama terhadap risiko PLTN kembali menguat.

Persoalan gempa menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pembangunan PLTN di Jepang. Namun, sehebat-hebatnya sistem pengamanan, kebocoran radioaktif tetap saja terjadi. Tidaklah mengherankan, persoalan keamanan merupakan isu paling sensitif dalam setiap perencanaan pembangunan PLTN, termasuk wacana sekitar rencana membangun PLTN di Indonesia.

Perlu menjadi pertimbangan serius posisi Indonesia yang berada di atas lintasan cincin api, ring of fire, dan memiliki banyak gunung api. Belum lagi mental dan budaya teknologi bangsa Indonesia yang dinilai masih tergolong rendah.

"Pemerintah tidak dapat mengabaikan potensi gempa dan menggunakan asumsi ketiadaan gempa yang ditetapkan sebelum gempa 27 Mei 2006," kata Widjanarko, peneliti pada Pusat Kajian Lingkungan Hidup Muria Research Center, Universitas Muria Kudus. Gempa yang berpusat di koordinat 8,26 Lintang Selatan dan 110,33 Bujur Timur, atau pada jarak 38 kilometer selatan Yogyakarta dengan kedalaman 33 kilometer tahun lalu, mengguncang Pulau Jawa bagian tengah. Pergeseran lempengan tanah pada Patahan Opak jika terus menjalar, dapat sampai ke kawasan Muria.

Belum lagi masalah sampahnya. Reaksi pembelahan atom di reaktor nuklir PLTN memang menghasilkan sampah radioaktif yang membahayakan kehidupan jika terpapar ke lingkungan. Sementara sifat radioaktif yang merusak bisa bertahan hingga ribuan tahun. Teknologi yang ada sekarang baru mengisolasi sampah tersebut agar tidak terpapar ke lingkungan meski tengah dikembangkan teknologi untuk memperpendek waktu paruh isotop radioaktif agar segera stabil dan aman dibuang ke alam.

Jika PLTN di Semenanjung Muria, Jepara, Jawa Tengah jadi dibangun, masyarakat di sejumlah kabupaten dan kotamadya sekitarnya tentu harus meningkatkan kewaspadaan. Meski kecil kemungkinannya, apabila terjadi kebocoran, menurut Dr. Ferhat Aziz, kepala biro kerja sama, hukum, dan humas Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), efek radioaktifnya bisa menyebar hingga radius 50 kilometer.

Sayangnya, pemerintah sealma ini dinilai hanya menampilkan manfaat PLTN untuk memenuhi kebutuhan energi yang semakin meningkat. Tapi, kurang mengkomunikasikan risikonya kepada masyarakat. Terutama yang tinggal dekat dengan lokasi pembangkit. Sebelum mengambil keputusan membangun, pemerintah sepertinya harus duduk bersama seluruh stakeholder, terutama masyarakat yang berisiko langsung, agar manfaat maupun dampak negatif dipertimbangkan sebaik mungkin. Dengan demikian masyarakat tidak perlu cemas dan ketakutan kalau mengambil keputusan jadi dibangun. Kalaupun PLTN tidak jadi dibangun, bisa dipikirkan bersama solusi pembangkit enegi dari sumber alternatif lainnya. Antara lain air, pembakaran gas, uap air, panas bumi vulkanik, tenaga arus laut, maupun gelombang pasang surut, angin, biofuel, dan panas matahari. Apapun itu, semua harus atas nama kepentingan rakyat Indonesia.

Sumber: CBN

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook