Alpen Steel | Renewable Energy

~ PLTN Rencana Diputuskan Akhir Tahun 2007

 PLTN Diputuskan Akhir Tahun 2007

Di tengah penolakan masyarakat, pemerintah tetap optimistis bisa melanjutkan rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir atau PLTN di Semenanjung Muria, Jawa Tengah. Kepastian pembangunan PLTN di Indonesia diputuskan maksimal akhir tahun ini.

"Jika PLTN mau kita opera­sikan sesuai rencana pada tahun 2016, keputusan mengenai jadi atau tidaknya pembangunan ha­rus diputuskan maksimal akhir tahun ini. Sejauh ini, saya sudah menangkap sinyal positif dari Presiden," kata Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, seusai mengikuti rapat kerja dengan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Ja­karta, Senin (18/6).

"Presiden berencana mengun­jungi Puspitek Serpong untuk melihat pengembangan peneli­tian nuklir. Ini perkembangan lu­ar biasa karena Presiden belum pernah menyinggung masalah PLTN," ujarnya.

PLTN Muria direncanakan menyuplai energi listrik sebanyak 4.000-6.000 megawatt untuk me­masok energi listrik di Jawa-Bali yang diperkirakan akan mencapai 90.000 megawatt tahun 2020.

"Pro ataupun kontra biasa, apalagi proyek ini memang berskala besar. Tetapi, hal ini bisa diatasi dengan sosialisasi yang ba­ik. Ini proyek lama, dan sosi­alisasinya tersendat karena krisis moneter dan penggantian kepe­mimpinan. Tapi, sekarang kita sudah siap;" kata Kusmayanto.

Pada tahun 2007, Kementerian Negara Ristek menyiapkan ang­garan Rp 5 miliar untuk men­sosialisasikan masalah PLTN ke masyarakat. Dalam raker dengan Komisi VII, Kusmayanto juga mengajukan anggaran Rp 5 miliar untuk menyosialisasikan PLTN pada tahun 2008.

Tergantung negara luar

Secara terpisah, praktisi ke­listrikan yang juga Direktur In­stitut Bisnis dan Ekonomi Ke­rakyatan (Ibeka) Tri Mumpuni mengatakan, pemerintah sebaik­nya membatalkan rencana pem­bangunan PLTN di Pulau Jawa.

"Ketergantungan pada negara lain sangat tinggi. Kenapa kita tidak mengembangkan pembang­kit listrik yang bisa dibangun sen­diri, karena masih banyak potensi yang lain seperti panas bumi dan air. Pemerintah hanya menggu­nakan logika proyek, bukan pem­berdayaan masyarakat," tuding Mumpuni, yang sejauh ini telah membangun 60 pembangkit lis­trik tenaga mikro berapa daerah.

Kusmayanto mengakui, ke­tergantungan Indonesia terhadap negara lain dalam pembangunan PLTN sangat tinggi. Indonesia belum mampu mengolah urani­um sebagai bahan baku PLTN dan mengolah limbah nuklir. Ca­dangan uraniumnya juga hanya cukup untuk 11 tahun.

"Jika cadangan uranium habis, kita beli dari negara lain. Potensi energi terbarukan seperti panas bumi memang sangat besar. Ma­salahnya, belum ada investor yang mau mengembangkan. Se­dangkan untuk PLTN banyak ne­gara yang berminat," ujarnya.

Negara yang berminat mem­bangun PLTN di Indonesia di antaranya Rusia, Jepang, Kanada, Korea Selatan, dan Amerika. "Bahkan, Amerika sudah mena­warkan paket pembangunan PLTN hingga pengolahan lim­bahnya juga mau mereka beli," kata Kusmayanto.

JAKARTA, KOMPAS 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook