Alpen Steel | Renewable Energy

~ PLTN Rencana Beroperasi 2016

Apa Indonesia perlu PLTN?

GUNA memenuhi kebutuhan energi listrik di masa mendatang, opsi pemanfaatan energi nuklir segera ditindaklanjuti. Tim nasional yang bekerja sejak tahun 2001 menyimpulkan, pembangkit tenaga nuklir harus mulai dibangun tahun 2010 dan diharapkan beroperasi tahun 2016

B>small 2small 0< ini mendapat banyak tanggapan. Ada kelakar, apakah proyek pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) hidup kembali karena BJ Habibie (dulu promotor proyek PLTN) balik dari Jerman dan ada di Indonesia? Kawan lain menjelaskan, tim nasional yang beranggotakan berbagai lembaga pemerintahan mulai lagi melakukan kajian kelayakan pembangunan PLTN justru atas inisiatif Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (dulu menentang proyek PLTN). Sebagai Presiden Indonesia, Gus Dur meminta Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Dr Mohamed El-Baradei untuk memberi bantuan penelitian PLTN di Indonesia. Bahkan, pembicaraan antarkeduanya dilakukan dalam bahasa Arab (Gus Dur pernah bersekolah di Kairo, Mesir) dan El-Baradei adalah orang kelahiran Mesir.

MENURUT Bennet (mantan pejabat IAEA)-dalam Nuclear Power Programmes in Developing Countries: Promotion & Financing, Bulletin IAEA, Vol 29, No 4, 1987, Vienna-di negara maju, proses pengambilan keputusan yang lazim ditempuh dalam pembangunan proyek PLTN melalui tahapan: (1) penyusunan perencanaan, (2) pembuatan studi kelayakan, dan jika layak (feasible) dan diputuskan akan dibangun, dilanjutkan dengan tahapan (3) jajak pendapat penerimaan masyarakat, (4) pembahasan pembiayaan proyek, (5) penyiapan sarana dan tenaga kerja, dan (6) penyusunan kontrak sebelum pembangunan proyek dimulai.

Bila dalam tahapan perencanaan PLTN merupakan pilihan optimal guna memenuhi kebutuhan energi listrik di masa depan, pantas dilanjutkan dengan penyusunan studi kelayakan. Aspek kelayakan pembangunan PLTN mencakup berbagai aspek antara lain aspek ekonomi, kelayakan teknis pilihan lokasi (apa lokasi tahan terhadap gempa skala tertentu, bahaya gelombang laut atau tsunami), aspek lingkungan (pencemaran, cara pemindahan atau pengamanan penduduk pada kemungkinan kecelakaan nuklir), dan keuangan (pembiayaan proyek) yang perlu dikaji.

Langkah berikutnya adalah melakukan jajak pendapat penerimaan masyarakat. Tentunya penerimaan masyarakat didasarkan pada metode yang jelas dimengerti dan diterima masyarakat. Pelaksanaan jajak dilakukan dan diawasi agar berjalan secara bebas dan jujur. Dilanjutkan dengan pembiayaan proyek (sumber dana investasi dari mana, berapa besar keperluan devisa, tingkat bunga?) dan persiapan sarana serta tenaga kerja.

Setelah semua tahapan tersebut dilalui dan pembangunan proyek masih dinilai layak, dilakukan penyusunan kontrak pembangunan proyek.

Pembangunan PLTN perlu dana besar. Dipersiapkan secara cermat melalui beberapa tahapan, bukan saja untuk menjamin keselamatan masyarakat, tetapi juga guna menjamin keberhasilan investasi. Patut dipertanyakan apakah rencana pembangunan PLTN di Indonesia mengikuti tahapan uraian Bennet di atas? Rencana pembangunan PLTN berada pada tahapan mana kini? Kalau benar proses ini pada tahap perencanaan (belum ada studi kelayakannya?), berita PLTN Harus Mulai Dibangun baru kesimpulan, wacana terbuka dari tim nasional. Di masa lalu juga ada pernyataan serupa, seperti PLTN harus mulai dibangun tahun 1998 selesai tahun 2005. Jadi, tenang sajalah, tak ada dananya!

Mengacu tata pengaturan baik (good corporate governance), kepada tim nasional disampaikan masukan berikut. Guna menghindari risiko ancaman kesehatan dan keselamatan yang tak perlu terjadi pada jutaan orang, menurut Alternative to Economic Globalization-A Better World is Possible-A Report of the International Forum on Globalization (halaman 157), sejumlah negara industri maju yang menguasai teknologi nuklir dan bertahun-tahun mengoperasikan PLTN memutuskan:

• Belgia tahun 1999 menyatakan antara 2005 dan 2015 akan menutup tujuh PLTN yang menghasilkan hampir 60 persen listrik yang dibangkitkan.

• Belanda tahun 2003 menutup kedua PLTN yang dimiliki.

• Jerman tahun 2000 menyatakan akan menutup semua PLTN pada tahun 2021, sebanyak sembilan belas, yang menghasilkan 30 persen listrik yang dibangkitkan. Tenaga angin akan menggantikannya.

APA yang mendorong negara industri maju mengambil keputusan “mundur” dari PLTN? Apakah pilihan yang dilakukan didasarkan pengetahuan dan pengalaman operasi PLTN? Apakah mereka berkesimpulan, “nuclear power plants are not part of the solution, but part of the problem (PLTN bukan merupakan solusi, tetapi permasalahan?)”. Apakah tim nasional mempertimbangkan perkembangan di negara maju di atas dan kita sebagai anak bangsa pantas memperoleh penjelasan?

Pembangunan PLTN merupakan langkah strategis karena itu perlu dilakukan secara jelas, transparan, dan disertai tanggung jawab publik secara lengkap ditinjau dari kepentingan nasional.

Karena itu, rencana pembangunan PLTN harus dilakukan secara terbuka, dengan tata pengaturan yang baik. Dengan demikian, checks and balances mechanism dapat diterapkan agar kita dapat belajar bersama mengamankan tujuan bersama bangsa di bidang energi.

Sumber Kompas
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook