Alpen Steel | Renewable Energy

~ Kompor Rakyat Tanpa Minyak

Briket sampah ala Nepal berhasil mengatasi masalah sampah, keiangkaan minyak, dan polusi udara. Bakal diproduksi dalam skala besar. Indonesia bisa mencontohnya. Kelokan kota tua Kadunandu, yang dibangun 14 abad silam, terusik oleh tumpukan sampah di pinggir jalan, gorong-gorong, dan tebing sungai. Bau menyengat merebak ke mana- mana, Belum lagi kondisi sosialnya yang mudah bergolak. Situasi ini membuat Sanu Kaji Shrestha jengkel. "Hampir setiap hari warga Kathmandu harus antre untuk mendapatkan minyak tanah," kata Sanu, aktivis lingkungan hidup itu, kepada Gatra.

Sebagai negara yang tergolong miskin, dengan pendapatan per kapita per ta-hun US$ 1.400, Nepal tergencet oleh kenaikan harga minyak mentah pada tahun-tahun belakangan ini. Maklum, BBM harus diimpor. Tak pelak, harga minyak tanah yangbbanyak digunakan untuk rumah tangga dan industri kecil di Nepal ikut membubung. Tapi, setiap kali pemerintah menaikkan harga BBM, masyarakat bereaksi keras. Unjak rasa menentang kenaikan harga BBM kerap berakhi rrusuh. "Para demonstran membakari ban-ban bukas dan asapnya raengotori kota," nitur Sann.

Problem laten ini terjadi pula di kota-kota lain, sepcrti Bharatpur, Biratnagar, dan Nepalgunj. Kondisi ini membuat Sanu yang pensiunan pegawai lembaga keuangan internasional itu putar otak guna mengatasi masalah tadi. Tahun 2003, bersama beberapa kawannya, ia mendirikan Foundation for Sustainable Technologie (FoST). Lembaga ini berupaya secara mandiri untuk mengatasi masalah sosial dan lingkungan hidup di Nepal. Uluran bancuan dari lembaga-lembaga asing bukannya tak ada, terutama untuk program perbaikan lingkungan liidup. Tapi Sanu menolak. "Kami tak man negara terperosok dalam utang. Kami ingin menunjukkan kemampuan sendiri," cumrnya. FoST akhirnya melirik potensi yang terkandung dalam sampah yang menumpuk dan mengotori jalan dan sungai di Kathmandu dan kota-kota lain di Nepal. "Sebagian besar sampah itu adalah bahan organik, limbah nimah tangga, dan perta- niansehingga masih bisa diolah," kata Sanu.

Sekitar 76% penduduk Nepal memang masih menggantungkan hidup dari usaha pertanian, terutama tebu, tembakau, dan gandum, Sektor ini menyumbang 39% pendapatan kotor domestik Nepal yang mencapai US$ 39 milyar setahun. Sektor itu pula yang menyumbang sampah- sampah organik yang mengotori Nepal. Dengan memanfaatkan sampah untuk bahan bakar, FoST berniat ikut menyelesaikan masalah sampah dan kelangkaan minyak sekaligus. Lantas muncullah ide pembuatan briket sampah, meniru briket Batu bara yang lebih dulu dikenal masyarakat Nepal. "Hanya saja, residu dan asap briket batu bara sangat mengotori udara," kata Sana. Lagi pula, cara memproduksi briket sampah itu terhitung mudah.

Briket ini pun ketika digunakan, relatif ramah lingkungan. Tak berasap dan tak beresidu. Lalu mulailah para aktivis FoST memilah-milah berbagai jenis sampah yang mungkin untuk dibuat briket. Sampah-sampah itu antara lain kertas, bambu, serbuk gergaji, ampas tebu, daun, dan sampah organik lainnya. Sampah-sampah jenis inilah yang dijadikan bahan mentah briket sampah. Caranya, kata Sanu, sederhana. Setelah dipilah, material tersebut dimasukkan ke sebuah tong berisi air yang dipanaskan. Lalu sampah-sampah itu dihancurkan dan diaduk layaknya membuat bubur kertas. Tak ada bahan kimia yang digunakan. Kemudian bubur sampah tadi dicetak.

Bentuknya macam-macam, ada yang seperti cakram dengan lubang di tengahnya, ada juga yang berbentuk tablet. Ukuran garis tengahnya 5 cm dengan tebal 5 cm pula. Ada juga yang dicetak dengan genggaman tangan. Saat ini, FoST mengembangkan 10 jenis briket sampah. Untuk- pembakaran, FoST juga memperkenalkan kompor khusus yang disebut rocket stove (kompor roket) berbentuk tabung dengan garis tengah sekitar 10 cm. Pada bagian bawahnya dipasang kipas angin bertenaga baterai untuk membantu pembakaran. Dua buah baterai 1,5 volt itu, menurut Sanu, tahan untuk sebulan penuh. Tahun 2003 itu juga, FoST mengampanyekan penggunaan briket sampah sebagai alternatif pengganti minyak tanah.

Para tenaga penyuluh FoST tekun mendatangi rumah-mmah penduduk. Mereka mendidik warga dalam memanfaatkan limbah rumah tangga untuk dijadikan briket sampah untuk memasak. Hanya dalam tempo tiga tahun, hasilnya segera terlihat. Kata Sanu, kini hampir 80% penduduk Nepal sudah beralih menggunakan briket sampah. Antrean pembeli minyak tanah pun makin jarang ditemukan. Dan yang membuat dia senang, temuan sederhana ini ternyata bisa mengurangi volume sampah di Nepal. "Sungai Bagmati, yang tadinya paling tercemar, kini sudah terlihat bersih," katanya. Tahun 2007 ini tutur Sanu, FoST mulai berpiIdruntuk membangun pahrik briket sampah untuk kebutuhan industri. "Di sini ada 100 lebih pabrik pcmbakaran bata. Kami akan memasok untuk kebutuhan itu," katanya. Briket ini akan dijual seharga US$ 15 per 30 potong seberat 1,5 kilo­ gram.

Dengan begitu, ia berharap, pencemaran udara dari pabrik batu bata bisa ditekan. Selain briket sampah, FoST juga membuat beberapa terapan teknologi sederhana lainnya, semacam kompor, oven, dan alat pasteurisasi bertenaga matahari. "Pokoknya, kita harus bisa mengubah sampah dan barang lain di sekitar kita menjadi energi untuk kebutuhan hidup kita," kata Sanu mengenai prinsip organisasinya. Beberapa pekan lalu, Sanu dan FoST berkesempatan memperkenalkan teknologi sederhana itu dalam seminar Better Air Quality (BAQ) di Yogyakarta. Ia sempat mendemonstiasikan penggunaan briket sampah itu. Ternyata bara api yang dihasilkan briket sampah ini memang tak mengeluarkan asap dan residu berbahaya.

Beberapa aktivis lingkungan hidup Indonesia yang menyambangi gerai FoST menyatakan apresiasinya atas usaha mereka. "Mereka bisa membuktikan, tanpa harus berutang bisa menyelesaikan persoalan-persoalan lingkungan hidup," kata Tuhagus Haryo Karbyanto dari Kaukus Lingkungan Flidup Indonesia. Menurut Bagus, Indonesia seharusnya meniru semangat Nepal dalam menyelesaikan persoalan lingkungan tanpa berutang. Ia sempat menyampaikan rasa kecewanya karena untuk program BAQ di lima kota, termasuk Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya, pemerincah mesti berutang ke Bank Pembangunan Asia sebesar USS 219 juta. "Utang itu akan membebani rakyat, sementara hasilnya belum tentu maksimal," tuturnya.

 

Gatra

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook