Alpen Steel | Renewable Energy

~ Pedagang Asing Memburu Molase

Kalangan pedagang asing mulai memburu molase atau produk samping industri gula dari Indonesia seiring dengan meningkatnya produksi alkohol di sejumlah negara. Bila pemerintah tidak segera membuat aturan soal perdagangan produk itu, hal tersebut bisa mengancam produsen bahan bakar gasohol. Sekretaris Asosiasi Spiritus dan Etanol Indonesia (Asendo) Untung Murdiatmo di Jakarta mengatakan, informasi dari anggota Asendo menyebutkan pedagang asing mulai melirik molase Indonesia. Harga yang ditawarkan sangat menarik, yaitu 100 dollar AS per ton freight on board (pembelian barang terima di tempat/FOB). "Harga itu di atas harga molase di dalam negeri yang berkisar 70-80 dollar AS per ton," kata Untung Murdiatmo.

Ia menambahkan, bila tawaran pedagang asing ini mendorong kenaikan harga, investor yang akan masuk ke bisnis gasohol kemungkinan akan mengundurkan diri. Industri gasohol di dalam negeri memperkirakan harga molase yang menarik adalah di bawah 90 dollar AS per ton. Dalam komponen produksi gasohol, ongkos bahan baku mencapai 70 persen dari biaya keseluruhan. "Kalau molase sampai diekspor ke luar bagaimana nasib industri alkohol dan juga investor yang akan masuk ke bisnis gasohol?" kata Untung. Direktur Utama PT Pabrik Gula Radjawali II Bambang Prijono mengakui, sejak beberapa waktu lalu memang ada permintaan molase dari China dan India. Bahkan, ada permintaan dari luar negeri hingga 12.000 ton seminggu.

Akan tetapi, PT PG Radjawali II menggunakan molase untuk produksi alkohol. "Produksi alkohol memang mengarah untuk gasohol. Kita juga mengarah ke sana," kata Bambang. Saat ini perusahaan di bawah PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) memiliki dua pabrik alkohol, yakni di Yogyakarta dan Cirebon. Pada tahun 2007, perusahaan itu berencana membangun pabrik alkohol di Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Sementara Direktur Pemasaran PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI Poerwanto mengatakan, hingga sekarang molase dari lingkungan PTPN XI terserap oleh pasar domestik.

Poerwanto menduga kebutuhan molase di dalam negeri masih besar. Dampak penyerapan molase oleh sejumlah industri baru mengakibatkan harga lelang molase mengalami kenaikan. Insentif pemerintah Untung Murdiatmo berharap pemerintah membuat regulasi terkait dengan perdagangan molase agar tidak diekspor. Di banyak negara, ekspor molase mulai dilarang. Thailand akan melarang ekspor molase pada tahun 2007 untuk memenuhi bahan baku alkohol di negeri itu. Saat ini Indonesia memproduksi sekitar 1,3 juta ton molase. Dari jumlah itu, hampir setengahnya untuk produksi protein sel tunggal, seperti asam glutamat, dan setengahnya lagi untuk industri alkohol.

Sementara itu, kalangan internasional juga melihat perlunya kebijakan insentif untuk mendorong produksi gasohol. Beberapa negara telah melakukan ini hingga sukses karena mereka meluncurkan sejumlah kebijakan yang mendorong investasi di gasohol. "Kesuksesan Brasil dalam mendorong penggunaan gasohol karena sejumlah kebijakan ditempuh dengan cara memberikan insentif bagi industri alkohol," kata ekonom senior pada International Sugar Organization, Lindsay Jolly. Insentif yang diberikan Pemerintah Brasil antara lain keringanan pajak, program yang ekstensif untuk penggunaan gasohol, kemudahan kredit, dan promosi gasohol ke konsumen.

 

Jakarta, Kompas (MAR

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook