Alpen Steel | Renewable Energy

~ Emisi Karbon Gasohol Lebih Rendah Dibanding Pertamax

Dalam pengujian pada kendaraan roda empat di laboratorium Balai Termodinamika, Motor, dan Propulsi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menunjukkan, tingkat emisi karbon dan hidrokarbon gasohol E10-campuran bensin dan etanol 10 persen-lebih rendah dibandingkan dengan premium dan pertamax. Saat ini penggunaan gasohol E10 memasuki tahap uji lapangan pada berbagai jenis kendaraan bensin menyusul peluncurannya oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman di Jakarta, akhir Januari lalu. "Pada uji lapangan penggunaan bahan bakar itu, dipilih 14 kendaraan bermotor roda empat dari berbagai merek dari Jepang, Amerika Serikat, Jerman, dan Inggris," kata Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Wahono Sumaryono di Jakarta.

Sebelum itu telah dilakukan uji coba penggunaan statis dan dinamis di laboratorium Balai Termodinamika, Motor, dan Propulsi (TMP) BPPT. Pengujian karakteristik unjuk kerja, yaitu daya dan torsi, ujar Prawoto-peneliti dari Balai TMP BPPT, menunjukkan, etanol 10 persen identik atau cenderung lebih baik ketimbang pertamax. Etanol mengandung 35 persen oksigen sehingga meningkatkan efisiensi pembakaran. "Emisi CO (karbon monoksida) dan HC (hidrokarbon) dari mobil yang menggunakan E10 secara umum lebih rendah dibandingkan dengan premium maupun pertamax," urainya. Pada emisi CO, misalnya, E10 hanya 0,31 gram per kilometer, sedangkan premium dan pertamax masing-masing 0,5 gram dan 0,58 gram per kilometer.

Menurutnya, penelitian perlu dilanjutkan dengan studi pengaruh E10 terhadap komponen mesin serta penggunaan kendaraan yang secara teknologi memenuhi standar emisi kendaraan Euro II. "Pengembangan teknologi pembuatan etanol menggunakan uji kayu sebenarnya telah dilakukan sejak 1984," kata Kepala Balai Teknologi Pati BPPT Agus Eko Cahyono. Produk yang dihasilkan dari instalasi yang dibangun balai tersebut di Lampung berupa etanol berkadar 95 persen. Etanol yang dihasilkan itu telah diuji lapangan selama enam bulan, melibatkan peneliti dari Universitas Indonesia dan Universitas Brawijaya.

Hasil uji coba menunjukkan kinerja yang baik pada mesin kendaraan ketika dioperasikan meski untuk itu perlu dilakukan penyetelan pada karburator. Efek negatif yang mungkin timbul adalah karat pada tangki karena pada etanol itu mengandung air lima persen. "Pada proyek pembuatan etanol saat ini dihasilkan etanol berkadar lebih tinggi mencapai 99 persen. Hal ini akan mengurangi kemungkinan terjadinya korosi," ujarnya. Selama ini, yang dilakukan BPPT hanya sebatas pengkajian teknologi dan pengembangan skala laboratorium.

Tahap selanjutnya, yaitu untuk menerapkan dan mengembangkan pada skala pabrik, diharapkan keterlibatan swasta. Saat ini sebenarnya ada enam produsen besar etanol di Indonesia dengan total produksi 174.000 kiloliter (kl) pada tahun 2002. Namun, sebagian besar masih terfokus untuk memenuhi kebutuhan industri dan ekspor. Di antara industri bioetanol yang ada di Indonesia itu, sebuah industri di Jawa Timur telah menyatakan kesediaan untuk mengembangkan produksi gasohol berkadar etanol 99 persen untuk kendaraan bermotor. Namun, realisasi dan pengembangan selanjutnya memerlukan dukungan kebijakan pemerintah. Prospek bioetanol Menurut La Ode Muh Abdul Wahid dari Pusat Pengkajian Konversi dan Konservasi Energi BPPT, manfaat pengembangan gasohol dan biodiesel antara lain dapat mendorong pengembangan agroindustri dan meningkatkan pendayagunaan lahan, ekonomi pedesaan, serta membuka lapangan kerja baru.

Bila skenario tahun 2010 bahwa 15 juta kl bensin akan digantikan sebesar 20 persen oleh gasohol BE-10, diperlukan lahan 100.000 hektar untuk menghasilkan ubi kayu 30 ton per hektar. Budidaya produk pertanian ini melibatkan 50.000 petani. Keuntungan yang diperoleh petani dari budidaya ubi kayu untuk memasok industri gasohol sebesar Rp 290 miliar per tahun. Di kawasan Asia, untuk investasi bioetanol diperlukan Rp 1 miliar per kl. Investasi pabrik bioetanol berkapasitas 60 kl per hari diperlukan biaya 7,38 juta dollar AS atau Rp 66,42 miliar. Untuk menyubstitusi 20 persen bensin dengan gasohol BE-10, diperlukan 20 pabrik dengan total investasi Rp 1,33 triliun. Prakiraan kebutuhan gasohol untuk kendaraan bermotor pada tahun 2010 akan mencapai 200.000 kl, sedangkan pada tahun 2015 dan 2020 masing-masing 600.000 kl dan 1,1 juta kl.

Untuk mencapai target tersebut, diperlukan pembangunan industri gasohol berkapasitas 200.000 kl pada tahun 2010. Perlu insentif bagi calon investor dan pemakai gasohol. Perlu sosialisasi manfaat penggunaan bahan bakar itu dan sinergis pihak stakeholder dalam mendukung pengembangan gasohol. Pertumbuhan etanol sebagai bahan bakar terpicu oleh isu global, yaitu tingginya kebutuhan energi dunia, termasuk bahan bakar minyak (BBM). Saat ini, permintaan BBM beroktan tinggi juga terus meningkat. Sementara itu, terjadi penurunan deposit minyak bumi sehingga menaikkan harga minyak mentah dunia.

Faktor lain yang memicu peningkatan bahan bakar etanol adalah berlakunya peraturan reduksi emisi gas rumah kaca, yaitu Clean Air Act 1990 (di Amerika Serikat) dan Protokol Kyoto, serta penghapusan MTBE untuk mereformulasi bensin di AS dan beberapa negara. Sementara itu, di dunia juga terjadi kecenderungan beralihnya konsumsi pada sumber energi ramah lingkungan dan terbarukan, seperti teknologi fuel-cell dan biomassa. Adapun bagi Indonesia, pertumbuhan bahan bakar etanol dapat terpicu antara lain untuk mengurangi subsidi BBM dan net impor BBM.

 

Jakarta, Kompas (YUN)

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook