Warning: mktime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/hostdata/alpensteel/public_html/alpensteel_com/plugins/system/vvisit_counter.php on line 62

Warning: mktime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/hostdata/alpensteel/public_html/alpensteel_com/plugins/system/vvisit_counter.php on line 95
~ Investor Asing Bangun Dua Pabrik Biofuel Di Sumatera

Alpen Steel | Renewable Energy


Warning: strtotime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/hostdata/alpensteel/public_html/alpensteel_com/libraries/joomla/utilities/date.php on line 56

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/hostdata/alpensteel/public_html/alpensteel_com/libraries/joomla/utilities/date.php on line 198

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/hostdata/alpensteel/public_html/alpensteel_com/libraries/joomla/utilities/date.php on line 198

Warning: strtotime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/hostdata/alpensteel/public_html/alpensteel_com/libraries/joomla/utilities/date.php on line 56

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/hostdata/alpensteel/public_html/alpensteel_com/libraries/joomla/utilities/date.php on line 198

~ Investor Asing Bangun Dua Pabrik Biofuel Di Sumatera

Investor Asing Bangun Dua Pabrik Biofuel di Sumsel & berita

Investor Asing Bangun Dua Pabrik Biofuel di Sumsel Laporan Wartawan Kompas Wisnu Aji Dewabrata PALEMBANG, KOMPAS - Dua perusahaan asing, Inizio Biofuel dari Malaysia dan Platinum Energy dari AS berencana membangun dua pabrik biofuel dari kelapa sawit di Sumsel dengan investasi 80 juta dollar AS. Kedua perusahaan itu menggandeng perusahaan perkebunan lokal Bentayan Copal Makmur (BCM) sebagai pemasok kelapa sawit. Menurut Direktur Promosi Domestik Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Yuliot, Kamis (4/1) dibandingkan daerah lain infrastruktur di Sumsel karena ada rencana pembangunan pelabuhan Tanjung Api-api dan ada jalan lintas Sumatera. Ekspor biofuel dari Sumsel bisa langsung ke laut China. Komisaris BCM Wahyudi mengatakan, kebun kelapa sawit yang dikelola BCM seluas 20.000 hektar di Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin Sumsel. Jumlah tenaga kerja baru yang akan terserap sekitar 200 sampai 300 orang. Ditargetkan pembangunan pabrik dimulai bulan Februari dengan luas lima hektar sampai 32 hektar. Kapasitasnya 75 ton sampai 120 ton kelapa sawit per jam. Hindari Methanol untuk Biofuel Laporan Wartawan Kompas Kris R Mada SURABAYA, KOMPAS - Penggunaan methanol untuk biofuel atau ektravasi bahan baku biofuel harus dihindari. Pasalnya, methanol masih diimpor. Padahal, biofuel diproduksi untuk menghindari ketergantungan terhadap pasokan bahan bakar dari luar negeri. Kepala Laboratorium Bahan Bakar ITS Djoko Sungkono menuturkan, ketergantungan terhadap barang impor terbukti berbahaya bagi proses produksi. Bila harga dipermainkan, produksi bisa terganggu. "Karena itu hindari methanol untuk biofuel selama itu masih diimpor," tuturnya di Surabaya, Kamis (4/1). Apalagi, Indonesia memiliki banyak bahan alternatif untuk produksi bio solar. Minyak kelapa murni, minyak sawit mentah, minyak kacang, dan minyak nipah bisa digunakan untuk bahan baku biosolar. Tumbuh-tumbuhan itu tersedia banyak di Indonesia. Bahkan, harganya amat murah di berbagai daerah di Indonesia. "Untuk prosesnya, bisa menggunakan bakteri. Tidak harus menggunakan methanol," tuturnya. Dumai Dijadikan Pusat Pengembangan "Biofuel" JAKARTA, KOMPAS - Pemerintah akan menjadikan Dumai sebagai pusat pengembangan biofuel. Tahun 2007 kapasitas pabrik biodiesel di daerah itu ditargetkan mencapai 1 juta ton. Demikian disampaikan Ketua Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati Alhilal Hamdi, Rabu (6/12). Menurut Alhilal, Dumai memiliki kelebihan, yaitu dukungan kebun kelapa sawit yang luas di Riau, posisi Dumai yang dekat dengan pelabuhan, dan akan ada pabrik biodiesel yang dibangun swasta dengan kapasitas pabrik 350.000 ton per tahun yang beroperasi pada awal Januari 2007. "Dengan dukungan produksi CPO, Dumai akan diarahkan menjadi pusat industri biodiesel, posisinya yang dekat dengan Malaysia dan Singapura juga strategis. Jangan sampai kita kalah dari Singapura yang juga berkeinginan menjadi pusat pengembangan biodiesel," kata Alhilal. Pemerintah menargetkan produksi biofuel 12 juta per tahun pada 2010, sebagian besar akan dihasilkan oleh industri yang ada di Dumai. Diakui Alhilal, peraturan pemerintah terkait pengembangan bahan bakar nabati masih belum sempurna. Ia mencontohkan, pengusaha yang ingin mengekspor biodiesel harus mendapat rekomendasi dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. "Perpanjangan jalur birokrasi semacam itu justru akan mendorong pengusaha untuk mengekspor bahan mentah biofuel. Kita bisa kalah lagi dengan Singapura," kata Alhilal. Pemerintah sudah menyiapkan insentif fiskal bagi perusahaan yang mengembangkan bioenergi. "Selain itu, sedang disusun juga acuan biofuel sebagai bahan bakar minyak bersubsidi," kata Alhilal. Pemerintah melalui departemen teknis masing-masing mulai tahun 2007 mengalokasikan dana untuk komoditas jarak pagar dan dana untuk mesin-mesin pengolah jarak pagar. Selain itu, pemerintah juga mengalokasikan anggaran untuk infrastruktur pengembangan bahan bakar nabati dan subsidi bunga bagi petani yang mengembangkan bahan bakar nabati. Biopertamax Secara terpisah, Direktur Niaga dan Pemasaran PT Pertamina Achmad Faisal mengatakan, pengembangan bisnis biodiesel dan biopremium Pertamina masih menunggu kepastian subsidi. "Harga bahan baku biofuel itu lebih mahal sekitar Rp 300 per liter, sementara kalau mau bersaing dengan BBM, harus dipasarkan dengan harga subsidi," kata Faisal. Pertamina sudah siap menandatangani kerja sama dengan produsen bahan baku biodiesel. Ada tiga investor yang siap memasok 2,5 juta ton biofuel, yang memiliki pabrik di Dumai dan Medan. Di Jakarta, Pertamina sudah memasok biosolar di 180 stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU). Adapun di Malang, Pertamina sudah memasarkan biopremium. Pertengahan Desember 2006 Pertamina juga segera meluncurkan biopertamax. (DOT) Indonesia-Malaysia Pasok Biofuel untuk Pasar Eropa JAKARTA, KCM--Indonesia dan Malaysia bertekad memasok biofuel untuk pasar Eropa. Eropa menargetkan pada akhir 2009 pemakaian biofuel mencapai 20 persen. Hal itu disampaikan oleh para pengusaha Malaysia yang bergabung dalam Kuala Lumpur Business Club (KLBC) dan Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Muhammad Lutfi, usai bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla, di Kantor Wapres, Jakarta, Selasa (22/8). Salah satu bahan baku pembuatan biofuel adalah kelapa sawit. Indonesia dan Malaysia menguasai lebih dari 85 persen pasar kelapa sawit dunia. Menurut Presiden KLBC, M Munir Abdul Majid, Indonesia-Malaysia sudah sepakat akan menggunakan 40 persen kelapa sawit produksi dua negara untuk dipakai sebagai energi alternatif. Sementara itu Kepala BKPM mengungkapkan di Eropa pada akhir 2009 sudah ditargetkan pemakaian biofuel sebesar 20 persen dari seluruh pemakaian energi di benua tersebut. "Nah inilah yang kita semua perhatikan, bagaiman Indonesia dan Malaysia bisa mengantisipasi peluang tersebut," katanya. Menurut Lutfi, saat ini di Indonesia perkebunan kelapa sawit mencapai 5,5 juta hektar dan dalam 5 tahun ke depan luas perkebunan kelapa sawit akan ditambah 3,5 juta hektar. "Karenanya peluang untuk memasok biofuel di pasar Eropa itu sangat menjanjikan," katanya. Lutfi mengemukakan para pengusaha Malaysia dalam semester I 2006 ini merupakan investor asing terbesar kedua yang telah menanamkan modalnya di Indonesia, yakni sebesar 334 juta dollar AS, yang terdiri dari perkebunan kelapa sawit dan sektor telekomunikasi. "Mereka ingi memberikan suatu terobosan strategis baru, bukan menjadi kartel untuk mengontrol harga, tapi bagaimana Indonesia-Malaysia ini bisa menstok kelapa sawit. Yang kedua bagaimana mengembangkan peluang bisnis usaha biofuel," tambah Lutfi. Penulis: Edj Pengembangan Biofuel Butuh Investasi Rp200 Triliun JAKARTA, KCM - Untuk pengembangan biofuel sebagai energi alternatif pengganti bahan bakar konvensional, diperlukan investasi sekitar Rp200 triliun. Masing-masing Rp100 triliun untuk on farm (budidaya bahan baku pembuatan biofuel) dan sisanya untuk off farm (pengolahan bahan baku, pemasaran dan lain-lain). Demikian disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro dan Al Hilal Hamdi, yang akan ditunjuk sebagai Ketua tim nasional pengkaji biofuel dalam jumpa pers usai rapat mengenai pengembangan energi alternatif yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Gedung Utama Sekretariat Negara (Setneg), Jakarta, Senin (24/7). Dalam rapat turut hadir, antara lain Wapres Jusuf Kalla, Menko Perekonomian Boediono, Menristek Kusmayanto Kadiman, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Menhub Hatta Radjasa, instansi terkait serta perbankan nasional. Menurut Purnomo, dalam rapat yang merupakan kelanjutan retreat di Losari awal Juli lalu ini diputuskan dalam waktu satu atau dua hari ini akan dikeluarkan Keputusan Presiden mengenai pembentukan tim nasional ini. "Tadi diputuskan oleh Bapak Presiden akan menerbitkan keputusan presiden tim nasional, ketuanya Pak Al Hilal Hamdi," kata Purnomo dalam jumpa pers usai rapat. Diharapkan dengan pengembangan biofuel, pada tahun 2010 biofuel bisa menggantikan sekitar 10 persen dari konsumsi bahan bakar konvensional. Al Hilal yang juga merupakan Ketua Tim perumus pengembangan biofuel saat rapat di Losari mengatakan, berdasarkan kajiannya, dibutuhkan dana investasi sekitar Rp200 triliun untuk pengembangan bio fuel tersebut. "Dari pihak perbankan nasional, kami sudah konsultasi, perbankan nasional sediakan Rp100 triliun," tambahnya. Dikatakan mantan Menakertrans pada pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid ini, para investor baik dalam negeri maupun luar negeri sudah menyatakan minatnya untuk menanamkan modal dalam pengembangan biofuel ini. Selain sebagai pengganti bahan bakar konvesional, pengembangan biofuel juga diharapkan bisa memberikan 3 juta lapangan kerja bagi masyarakat sampai 2010, penghematan devisa negara sampai 10 miliar dollar AS serta pemanfaatan 5 juta hektar lahan kritis. Adapun tanaman yang akan dikembangkan sebagai bahan baku biofuel adalah kelapa sawit dan jarak pagar untuk biodiesel, serta singkong dan tebu untuk ethanol. Penulis: Edj

Palembang, KOMPAS

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters

Warning: strftime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/hostdata/alpensteel/public_html/alpensteel_com/libraries/joomla/utilities/date.php on line 250
free counters
Alpen Steel Facebook