~ Produksi Jagung Untuk Kebutuhan Pangan

Ketua Dewan Jagung Nasional Fadel Muhammad mengatakan produksi jagung di Indonesia masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pangan. Sementara, pemakaian jagung untuk kebutuhan biofuel belum terealisasikan. "Saya pikir kita konsentrasi dulu pada produksi jagung untuk kebutuhan pangan. Jalan untuk menggunakan jagung untuk biofuel masih panjang," kata Fadel, Senin (3/3) di Padang.

Fadel, yang juga Gubernur Gorontalo, mencontohkan Provinsi Gorontalo yang belum mulai merealisasikan pemakaian jagung untuk kebutuhan biofuel. Padahal, provinsi itu termasuk dalam tujuh provinsi yang dijadikan percontohan pemakaian jagung untuk biofuel. Di sisi lain, produksi nasional jagung untuk kebutuhan pangan di dalam negeri masih kurang. Keran impor jagung seharusnya bisa ditutup dengan menggenjot produksi dalam negeri sekaligus merangsang petani menanam jagung. Tahun 2007, Indonesia masih mengimpor 600.000 ton jagung.

Fadel menambahkan, salah satu cara merangsang produksi jagung dalam negeri dengan peran serta dan perencanaan pemerintah daerah setempat. Pemda perlu ikut memberi subsidi produksi jagung. "Misalnya, dengan memberikan benih jagung gratis untuk petani yang baru menanam jagung," kata Fadel. Subsidi benih itu, menurut Fadel, hanya perlu dilakukan selama dua tahun saja. Pada tahun ketiga, petani sudah bisa mandiri dan subsidi benih bisa dialihkan ke daerah lain yang baru memulai produksi jagung. Di Gorontalo, subsidi benih sudah mencapai miliaran rupiah per tahun. Proteksi harga Langkah lain yang juga bisa dilakukan pemerintah daerah adalah proteksi harga jagung.

Proteksi bisa langsung dilakukan pemerintah tanpa harus membuat sebuah badan seperti Bulog. "Pemerintah daerah harus berani juga membeli jagung dengan harga tinggi agar petani jagung tidak dipermainkan pedagang," kata Fadel. Saat ini, harga rata-rata jagung di Indonesia mencapai Rp 2.200 per kilogram. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Barat, Djoni mengatakan harga jagung di Sumatera Barat tergolong tinggi di nasional, sehingga pemerintah daerah tidak perlu mengintervensi pasar. "Harga jagung di Sumatera Barat saat ini mencapai Rp 2.300 per kilogram. Harga jagung sempat menyentuh angka Rp 2.800 per kilogram, tetapi kini sudah turun lagi.

Karena harga jagung yang baik di Sumatera Barat, maka pemerintah tidak perlu intervensi langsung," tutur Djoni. Dari perhitungan pemerintah, pertanian jagung bisa mengantongi keuntungan sampai Rp 3,8 juta per hektar tiap panen, bila harga jagung Rp 2.000 per kilogram. Produksi jagung di Sumatera Barat mencapai sekitar 223.000 ton pada tahun 2007, dan 85 persen dari produksi itu terserap pada industri pakan ternak ayam.

 

Padang, ART


Baca Juga:
Artikel sebelumnya:

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum