Alpen Steel | Renewable Energy

~ Banyumas Akan Produksi Bio-Ethanol Dari Singkong

Sejumlah pengusaha dari Banyumas dan Jakarta siap membiayai penanaman singkong di Banyumas sebagai bahan baku utama produksi bio-ethanol. Oleh karena itu dibutuhkan 360 hektar lahan pertanian agar setiap hari bisa dihasilkan 60 ton singkong. Demikian kesepakatan yang tercapai antar-pengusaha tersebut dalam pembukaan lahan singkong untuk produksi bio-ethanol di Desa Banteran, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Hadir pula dalam acara itu Bupati Banyumas Mardjoko.

Produksi bio-ethanol itu antara lain ikut didukung oleh CV Albina selaku produsen bahan baku singkong. Sementara pengolahan bio-ethanol akan ditangani oleh dua pengusaha dari Banyumas dan Jakarta, dan kini sudah menyiapkan pabrik bio-ethanol di Kecamatan Ajibarang, Banyumas. Salah seorang perwakilan CV Albina, Sigit APE mengatakan, untuk memproduksi singkong pihaknya bekerjasama dengan petani setempat. Sejauh ini sudah disiapkan dana Rp 2 miliar sebagai dana stimulan bagi setiap petani yang bersedia menanam singkong klanting yang dinilai memiliki kadar kalori lebih tinggi dibandingkan singkong konsumsi. Setiap satu hektar lahan yang disediakan petani, akan diberikan bantuan senilai Rp 8,4 juta.

Bantuan itu berupa bibit dan pupuk. "Kami menanggung sepenuhnya untuk bibit dan pupuk," katanya. Menurut salah seorang petani yang ikut mendukung investasi tersebut, Mastur Muhofir, sekarang ini setidaknya sudah ada lebih dari 10 hektar milik beberapa petani, yang siap ditanami singkong klanting. Rencananya, beberapa petani di Kecamatan Cilongok, Purwojati, dan Wangon, juga sudah menyiapkan lahan lebih dari 20 hektar untuk ikut program penanaman singkong itu. Terkait singkong klanting tak enak untuk dikonsumsi karena berasa pahit, Mastur mengatakan, sejauh ini petani tak mempermasalahkannya. Hal itu karena penanaman singkong itu didanai, dan hasil panennya juga akan dibeli oleh CV Albina seharga Rp 450 per kilogram. "Prinsipnya tak ada masalah. Apalagi kebutuhan 360 hektar lahan singkong itu bisa diterapkan secara berotasi. Yang terpenting , dalam satu hari dapat diperoleh 60 ton singkong," katanya.

Bambang Setiyono, salah seorang pengusaha yang siap memproduksi bio-ethanol mengatakan, dia dan rekannya dari Jakarta sudah menyiapkan pabrik bio-ethanol dengan kapasitas produksi sampai 8.000 liter bio-ethanol per hari di Kecamatan Ajibarang. Namun karena ketersediaan pasokan singkong klanting baru bisa dipastikan enam bulan mendatang, pihaknya pun baru akan memproduksi bio-ethanol pada pertengahan tahun 2009. Terkait pangsa pasar bio-ethanol tersebut, Bambang mengaku, belum memilikinya. Namun dia yakin bio-ethanol bisa dijadikan pengganti minyak tanah yang pada pertengahan tahun 2009 bisa mencapai Rp 8.000 per liter menyusul pelaksanaan konversi gas. Apalagi, satu liter bio-ethanol ini sama dengan tiga liter minyak tanah. Karena itu, meski bio-ethanol ini dijual Rp 6.000 per liter, tetap akan meringankan masyarakat, katanya menjelaskan.

 

Kompas (MDN)

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook