Alpen Steel | Renewable Energy

~ Jarak Pagar Sebagai Tanaman Energi Terbarukan

JARAK PAGAR DAN KONSEP ENERGI TERBARUKAN

Dalam sebuah obrolan pagi di salahsatu stasiun televisi swasta  pada hari Rabu 27 Februari 2008, seorang ahli perminyakan mengatakan bahwa ”harga minyak dunia tidak mungkin turun, jadi sangat tidak rasional jika pemerintah pada awal tahun 2008 menetapkan standar APBN terhadap harga minyak dunia sebesar $ 60/barel”. ”Paling tidak, asumsi APBN harusnya sebesar $ 80/barel,” ahli itu meneruskan. Faktanya, saat ini semua asumsi baik dari pemerintah maupun dari ahli perminyakan tersebut jauh panggang daripada api. Harga minyak dunia mencapai $101,43/barel (Republika, Kamis 28 Februari 2008).

                    Memang tidak dapat dipungkiri harga minyak dunia akan terus melonjak, karena suply dan demand akan terus tidak seimbang akibat dari tingkat konsumsi energi yang tinggi, sementara persediaan terus berkurang, karena energi ini memang terbatas. Iran yang merupakan negara kaya minyak pun menyadari kondisi ini. Untuk itulah mereka mengembangkan energi nuklir.

Nuklir memang efisien, tidak menimbulkan gas rumah kaca (CO2) yang menyebabkan pemanasan global, problemnya adalah untuk mengelola energi nuklir perlu skala yang besar, teknologi yang tinggi dan memerlukan peran  negara yang kuat untuk sanggup menahan tekanan negara asing yang fobi terhadap nuklir, manakala nuklir itu akan dikembangkan menjadi senjata. Disamping itu resiko dari pengembangan nuklir juga cukup fatal, kasus Chernobyl 1986 membuktikan hal ini. Hal yang cukup krusial adalah cadangan bahan bakar nuklir (Uranium) di Indonesia juga terbatas, ditakutkan malah impor dari negara lain. Sedangkan Ketergantungan pada asing tentu saja sangat tidak kita inginkan. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut maka yang paling layak dikembangkan di negeri ini adalah energi terbarukan.

 

a.     Jarak Pagar dan upaya pemerintah mengatasi problem energi

Pemerintah dalam upaya mengatasi krisis energi juga tidak tinggal diam, dimulai pada tahun 2006, pemerintah mengeluarkan Kebijakan Energi Nasional melalui Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006, yang berisi penyediaan biofuel sebesar 5 % pada tahun 2025 dengan cara memanfaatkan komoditi pertanian sebagai sumber energi alternatif, diantaranya adalah Jarak Pagar dan Kelapa Sawit sebagai penghasil bio diesel untuk substitusi solar. Tanaman tebu, ubi kayu dan sorghum sebagai penghasil bio ethanol untuk substitusi premium. Selain itu pemerintah juga mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2006, sebagai upaya agar penyelenggara negara baik pusat maupun daerah mendukung program pengembangan energi nabati (bio energy) sebagai bahan bakar lain (bio fuel).

Namun yang menarik, entah siapa yang memulai, sejak dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 dan Inpres Nomor 1 Tahun 2006, terjadi demam Jarak Pagar yang begitu fenomenal di masyarakat dan hingga saat ini menjadi sebuah euforia, karena pengembangan komoditi ini belum didukung oleh  adanya infrastruktur dan insentif pasar yang memadai.

Sebagai sumber energi, Jarak Pagar termasuk kedalam jenis energi nabati (bio-energy) yaitu energi nabati yang dihasilkan dari proses fotosintesis, kemudian melalui rantai makanan dibawa ke energi akhir. Energi nabati ini adalah energi kimia yang dapat disimpan dan praktis untuk keperluan transportasi, energi lain seperti nuklir tidak mempunyai sifat seperti ini. Secara filosofis, energi hewan atau manusia adalah nabati. Bahan bakar fossil (batu bara dan minyak) juga merupakan energi nabati yang terpendam jutaan tahun(blog. fahmi@multiply). Namun saat ini jika kita bicara mengenai energi nabati (bioenergy), umumnya yang dimaksud adalah kayu bakar, biofuel (bio solar, bio etanol) atau gas metan hasil pembusukan limbah organik (biogas). Bio solar adalah bio fuel yang di desain untuk mesin diesel, bio etanol adalah bio fuel yang didesai untuk mesin berbahan bakar bensin, sedangkan bio solar adalah bio diesel  yang dicampur solar olahan minyak bumi. 

 Jarak Pagar (Jatropha Curcas. L) sebagai sumber energi alternatif (bio energy) memang memiliki potensi, karena tanaman ini bukan merupakan bahan konsumsi sehingga tidak bersaing dalam pemanfaatannya, tanaman ini dapat tumbuh dimana saja termasuk di lahan kritis dan tahan dalam kondisi ekstrem sekalipun. Namun kandungan minyak dalam Jarak Pagar hanya sekitar 1400 ltr/ha/thn atau seperempat kandungan minyak dalam Kelapa Sawit yang mencapai 6000 ltr/ha/thn. Maka tidak heran kalau ada dugaan kenaikan dan kelangkaan minyak goreng akhir-akhir ini karena sebagian dijual untuk bahan bio diesel.

Di sisi lain jika energi nabati dari Jarak Pagar ini diharapkan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari menggantikan minyak bumi (sekitar 1,2 juta ton/barel/hari atau 69 milyar liter/tahun) maka diperlukan lahan  sebanyak 49 Juta hektar. Jika tanaman ini akan ditanam pada lahan kritis, maka dari 107 juta hektar lahan di Indonesia, lahan kritisnya hanya 21,9 juta hektar (BPS 2003). Kalaupun lahan kritis dianggap berpeluang, masih ada masalah teknis di lapangan seperti akses lahan yang sulit dan permasalahan hukum tentang kepemilikian tanah. hal ini sering terjadi di Indonesia,  tidak terkecuali di Banten. Seandainya tanaman Jarak Pagar ini jadi ditanam, proses pasca panen dan pemasarannya bagi kebanyakan masyarakat masih tanda tanya. Sehingga tidak heran jika sebagian petani masih enggan menanam tanaman ini.

 

b.     Konsep energi terbarukan

Berbicara mengenai energi terbarukan sebenarnya tidak terbatas pada energi nabati (bio energy) saja, namun masih ada sumber energi terbarukan lainnya, seperti energi matahari (surya), energi panas bumi (magma) dan efek pasang surut. Karena energi terbarukan adalah energi yang praktis ada di alam dan tidak akan pernah habis. Energi surya adalah energi yang terluas aplikasinya, baik langsung maupun tidak langsung. Energi surya yang langsung adalah energi yang berupa panas (misalnya untuk menjemur pakaian atau hasil-hasil pertanian), atau di konversi ke listrik melalui sel surya (solar-cell). Sel surya menggunakan silikon yang langsung digunakan mengubah cahaya menjadi listrik. Energi surya yang tidak langsung adalah energi yang dimanfaatkan melalui derivat-derivatnya, antara lain: energi air, angin, gelombang laut, perbedaan panas laut dan bahan nabati (bio energi).

Energi air dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA), atau dalam ukuran kecil di sebut pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTM). Ibu Tri Mumpuni berhasil menerangi 60 desa dengan PLTM yang dibuat bersama masyarakat (Kompas 15/7/2007).  Energi angin (energi bayu) diambil secara langsung misalnya untuk menjalankan kapal layar dan untuk menggiling gandum seperti di Belanda atau dalam skala lebih besar bisa digunakan sebagai pembangkit listrik. Demikian juga perbedaan laut di permukaan dan kedalaman juga dapat untuk membangkitkan listrik dengan apa yang disebut Ocean Thermal Energi Conversion (OTEC).

Kemudian untuk sumber energi nabati di Indonesia sebenarnya masih ada sumber energi yang lebih efisien yaitu Mikroalga, tanaman mikroorganik sangat efisien hidup di daerah tropis baik pada air tawar maupun air laut, dari satu hektar tanaman mikroalga melalui teknik raceway ponds atau photo bio reactor dapat dihasilkan 58,000 liter minyak dengan asumsi hanay 30% dari biomassanya yang mengandung minyak (chisti,2007). Bandingkan dengan Jarak yang hanya 1400 lt/ha/thn, namun sayangnya hanya LIPI di Cibinong yang mengembangkan.

 

c.      Tugas Umat Islam

Umat islam yang notabene penduduk terbesar di negeri ini, seharusnya berfikir keras untuk mengembangkan sumber energi baru yang efektif dan efisien namun disisi lain juga harus berusaha menghemat energi yang ada, bukankah konsep islam mengajarkan untuk tidak terlena dalam hedonisme?.  Namun harus disadari kesadaran umat tidak akan berarti tanpa dukungan optimal dari pemerintah, oleh karenanya sistem islam yang diterapkan dalam kehidupan patut dicoba, karena islam tidak hanya menjadi solusi bagi permasalahan individu saja (shalat, zakat, puasa dll) tetapi juga menyelesaikan permasalahan umat termasuk permasalahan energi. Jadi sampai kapan kita terdiam?  

Ajat Juhaedi. (Jatropha Specialist)

 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook