Alpen Steel | Renewable Energy

~ Pembangkit Listrik Bertenaga Biogas Di Beijing China

KOMPAS/HERMAS E PRABOWO
Industri telur ayam Degingyuan Agricultural Technology Co Ltd di Beijing, China, tidak saja memproduksi telur berkualitas dalam skala besar, tetapi juga membangun pembangkit listrik bertenaga biogas untuk memenuhi kebutuhan listrik industrinya.
 
ENERGI TERBARUKAN CHINA
Biogas Menopang Industri Unggas

 

 

Hermas E Prabowo

Babak baru industri perunggasan China dimulai. Industri telur ayam Beijing Degingyuan Agricultural Technology Co Ltd atau DQY tidak saja memproduksi telur berkualitas dalam skala besar, tetapi juga membangun pembangkit listrik bertenaga biogas untuk memenuhi kebutuhan listrik industrinya.

DQY yang sejak berdiri tahun 2000 mengandalkan batu bara sebagai sumber panas dan listrik bagi peternakannya, mulai tahun 2007 mengadopsi prinsip pembangunan ramah lingkungan dan mengalihkan sumber energi ke biogas.

Biogas dihasilkan dengan memanfaatkan 80.000 ton kotoran ayam dan 120.000 ton limbah cair tiap tahun. Dengan memanfaatkan biogas, industri telur itu mampu memproduksi listrik 14.600 megawatt per tahun.

Deputi Direktur Pabrik DQY Tang Xiao saat ditemui peserta pelatihan sesi Internasional Leadership for Environment and Development, Kamis (12/11) di Beijing, mengatakan, dengan memanfaatkan biogas sebagai sumber energi, perusahaan mampu menekan emisi karbon di China hingga 95.000 ton per tahun.

Ternak modern

Menurut Tang Xiao, kebutuhan energi adalah mutlak. Apalagi peternakan berada di distrik Yanging, Provinsi Beijing, yang pada musim dingin suhunya di bawah 0 derajat celsius.

Agar industri bisa beroperasi, jutaan ton batu bara dipasok setiap tahun sebagai sumber pembangkit listrik. Masuk akal mengingat luas area peternakan mencapai 50 hektar (ha). Lahan itu dimanfaatkan untuk dua kelompok usaha, yakni pertanian dan pabrik yang ekologis.

Saat ini ada 3 juta ayam petelor yang dipelihara DQY. Jutaan ayam itu ditempatkan di 19 kandang dengan dilengkapi 8 kandang bertingkat.

Sistem pengontrol suhu yang bekerja otomatis ditempatkan di semua kandang. Pasokan air untuk kebutuhan minum ayam, pakan, ventilasi udara, pengumpulan telur, penerangan, suhu kandang, kelembaban udara, dan pengumpulan kotoran ayam diatur dengan komputer.

Dengan peternakan ayam sistem modern tersebut, kualitas produksi telur DQY bisa terjaga. Survei AC Nielsen tahun 2007 menunjukkan, DQY menguasai 71 persen pangsa pasar telur ayam bermerek di Beijing.

Telor cair juga diproduksi di DQY rata-rata 10.000 ton per tahun. Pertanian organik juga dikembangkan. Begitu pula pupuk organik. Saat ini total lahan pertanian organik mencapai 31 hektar. Lahan itu dikerjasamakan dengan petani setempat dalam rangka pemberdayaan.

Di luar itu, DQY juga menjalin kontrak pembelian jagung jangka panjang dengan 60.000 petani di lahan 7.500 ha guna memberikan jaminan pasar dan harga jagung bagi petani.

Adapun untuk ayam usia sehari (DOC), DQY menjaga kualitasnya agar bibit ayam jangan sampai terinfeksi virus.

Di luar segala pencapaian besar itu, DQY menghadapi masalah serius terkait kelestarian lingkungan. Maklum, semua energi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri sebelum tahun 2007 bersumber dari batu bara yang sangat mencemari lingkungan.

Menguasai dunia

DQY didirikan Zhong Kaimin. Pada 5 Juli 2000 Zhong bersama lima rekan bisnisnya membangun Beijing Degingyuan Science and Technology Co Ltd sebagai cikal bakal DQY. Nilai investasinya 500.000 yuan setara Rp 750 juta.

Lima bulan kemudian, modal bertambah menjadi Rp 2,25 miliar. Seiring perkembangan usahanya, tahun 2002 Degingyuan menjalin kerja sama dengan Tianjin Baodi Agricultural Technology Co Ltd mendirikan Beijing Baodi Qingyuan Agricultural Technology Co Ltd.

Setahun kemudian, kedua perusahaan itu menambah kepemilikan sahamnya di Beijing Baodi menjadi Rp 22,5 miliar. Bila pada tahun pertama produksi telur ayam baru 1,5 juta butir dengan nilai penjualan Rp 1,05 miliar, tahun 2003 total produksi telur naik menjadi 17,04 juta butir. Nilai penjualan melonjak menjadi Rp 14,81 miliar.

Melihat pertumbuhan usahanya yang bagus, tahun 2004 Beijing Baodi berubah nama menjadi Beijing Degingyuan Agricultural Technology. Pemilik modalnya pun bertambah, dari yang semula Beijing Degingyuan dan Tianjin Baodi masuk perusahaan baru, Shanghai Yibei Management Consultancy Co Ltd. Modal pun ditambah setara Rp 45 miliar.

Tahun 2005, DQY mendapat suntikan dana lagi Rp 9 miliar. Tahun 2006, Grup Bank Dunia dan InnoBiz Agriculture (Hongkong) melalui International Finance Corporation menambah modal baru. Dengan demikian total modal tambahan dan nilai kekayaan DQY menjadi setara Rp 90 miliar.

Global Environment Fund and Capital Today setahun berikutnya juga menambah dana sehingga total modal usahanya setara Rp 420 miliar. Mulai tahun ini pula, komitmen pembangunan lestari DQY mulai tampak.

Setelah sembilan tahun berproduksi, DQY tahun 2008 memproduksi 372 juta butir telur dengan total penjualan mencapai 255 juta yuan atau Rp 382,5 miliar.

Zhong mengungkapkan keinginannya menjadikan DQY sebagai perusahaan telur besar dan menguasai pasar dunia.

Upaya yang dilakukan dengan membuat citra baru industrialisasi unggas yang mengadopsi teknologi modern, terstandardisasi, memperkenalkan pertumbuhan sektor pertanian yang baik, memerhatikan komunitas lokal, dan peternakan yang ramah lingkungan.

 

Sumber : Kompas

 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook