Alpen Steel | Renewable Energy

~ Bahan Bakar Air Bisa Mengurangi Penggunaan BBM

Bahan Bakar Air, Kenapa Tidak?

Keputusan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sampai 28,7 persen membuat resah masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah. Sebab, efek domino dari kenaikan harga BBM tersebut, sangat luar biasa.

Walau ada bantuan langsung tunai (BLT) Rp 300.000 untuk tiga bulan ke depan, tetap saja tak menyelesaikan masalah. BLT malah dipelesetkan menjadi beban langsung terasa, dan itulah kenyataan hidup yang dirasakan rakyat kecil.

Kenaikan harga BBM, mungkin tidak menjadi beban berat bagi kalangan atas yang memiliki kendaraan banyak. Sebaliknya, bagi masyarakat kecil dampaknya sangat buruk, termasuk naiknya biaya transportasi kendaraan angkutan umum.

Masyarakat kecil yang memiliki motor pun merasakan beban berat dengan kenaikan harga BBM tersebut. Namun, di tengah keresahan itu, muncul sebuah harapan yang diharapkan bisa menjadi solusi baru bagaimana menghemat BBM yang mahal, yakni dengan menggunakan air. Mungkinkah BBM digantikan bahan bakar air (BBA)?

Joko Sutrisno warga Jl HOS Cokroaminoto No 76 Yogyakarta, telah menemukan solusi mahalnya BBM itu dengan hydrogen generator. Sebuah tabung elektrolizer plastik berisi air murni atau aquades, dilengkapi dengan elektrodae (berbahan stainless stell) dan diode atau reley (pada mobil), difungsikan sebagai pengubah molekul hidrogen menjadi energi. Melalui proses elektrolisa pengatur tekanan menuju manifold (kran plastik), sistem pembakaran mesin akan mendekati sempurna.

Alat itu bukan bertujuan membuat irit bahan bakar, namun justru dijadikan bahan mengganti premium maupun solar. Untuk ke depannya, Joko akan memaksimalkan penggunaan air atau sehingga motor akan 100 persen melaju dengan tenaga hydro.

Bukan Mimpi

Temuan Joko Sutrisno itu bukan mimpi. Faktanya, setiap hari puluhan mobil dan motor antre di rumahnya, yang minta agar alat sederhana ciptaannya dipasang pada kendaraan mereka. Harganya pun tidak mahal, yakni Rp 75.000 untuk motor dan Rp 150.000 untuk mobil, dan proses pemasangannya pun tak berbelit-belit, paling lama setengah jam.

Bahkan, Sutrisno sendiri mengaku telah menggunakan alat itu pada mobil pribadinya selama dua tahun. "Saya uji coba dengan mobil saya sendiri dan sudah berlangsung 2 tahun tanpa masalah, meski dulu saya sering dikatai orang gila," katanya.

Aktivis Gerakan Masyarakat Cinta Air (GMCA) V Kirjito Pr yang juga Romo Gereja Paroki Santa Maria Lourdes, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Yogyakarta, juga mengakui karya Joko Sutrisno yang juga umatnya itu. Kiranya perlu makin kita kenali bahwa pada dasarnya Air itu amat "baik" pada kita. Lebih-lebih jika dalam hati dan pikiran kita tidak ada sikap negatif terhadap Air. Karena Air itulah unsur pokok kehidupan,'' kata Kirjito seperti dimuat situs GMCA ini.

Menurut Kirjito, pemanfaatan molekul hidrogen melalui proses elektrolisa untuk meningkatkan pembakaran sangatlah mudah. Dan hasilnya, pembakaran mendekati sempurna. Maka jika diaplikasikan pada mobil atau motor tenaga meningkat drastis, suara mesin sangat halus, sisa gas buangnya bersih dan irit bahan bakar.

Joko sendiri yang berjanji pada bulan Desember 2008, penelitian lanjutannya akan selesai, yakni motor dapat beroperasi 100 persen dengan air. Bagaimana dengan Anda?

Harapan LIPI

Persoalan air menjadi bahan bakar memang bukan hal yang baru. Menurut Kepala Pusat Penelitian Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Dr Achiar Oemry, informasi tentang air menjadi bahan bakar sudah lama ada di luar negeri seperti di Jepang dan India.

"Secara teori air menjadi bahan bakar memang bisa diwujudkan dan dipertangungjawabkan. Yakni dengan mengurai air menjadi hidrogen," ujar Achyar kepada SP di Jakarta Selasa (27/5).

Achiar Oemry mengatakan, air bisa menggantikan fungsi BBM untuk menggerakkan kendaraan. Oemry menjelaskan, air yang memiliki rumus kimia H2O mengandung dua unsur molekul, yakni hidrogen (H) dan oksigen (O). Dengan menggunakan mekanisme pemisahan yang sangat sederhana, molekul hydrogen dapat dipisahkan dari air yang kemudian digunakan sebagai bahan bakar utama untuk menggerakkan kendaraan.

"Penggunaan bahan bakar hidrogen bukanlah hal yang baru ditemukan. Penemuan itu sudah lama. Pesawat ulang alik saja menggunakan bahan bakar ini," katanya.

Oemry yang juga Ketua Konsorsium Fuel Cell Indonesia mengemukakan, sudah ada beberapa negara yang mengembangkan teknologi yang ramah lingkungan ini, seperti Tiongkok dan Jepang. Bahkan kedua negara tersebut, sudah melakukan ekspor kendaraan yang didesain menggunakan bahan bakar hidrogen.

Mengomentari adanya temuan-temuan masyarakat mengenai bahan bakar air akhir-akhir ini, Oemry mengaku, secara pribadi mendukung hal tersebut meskipun LIPI belum melakukan pengujian terhadap teknologi tersebut. Dia mengatakan, sebenarnya Indonesia sudah bisa mengubah kebiasaan menggunakan BBM menjadi bahan bakar hydrogen.

"Teknologinya sudah ada. Sekarang yang menjadi masalah adalah kebijakan politik pemerintah, mau tidak mengembangkan teknologi pemanfaatan air menjadi bahan bakar kendaraan bermotor ini," ujarnya.

Menurut Achyar, penelitian ke arah bahan bakar air untuk menggantikan BBM ini masih kurang. Namun dia menilai, penggunaan bahan bakar ramah lingkungan seperti air ini sangat tergantung dari kehendak politik pemerintah.

Tetapi, tanpa dorongan pemerintah pun, kini masyarakat tinggal memilih. Mau tetap menggunakan BBM yang mahal atau memanfaatkan air tersebut yang irit, murah, dan ramah lingkungan. [SP/Erwin Lobo]

Sumber: Suara Pembaruan, www.suarapembaruan.com

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook