Alpen Steel | Renewable Energy

~ Potensi Energi Dari Laut Di Indonesia

Menuai Energi Dari Laut

Laut tidak hanya menyimpan beragam ikan dan sumber daya hayati lainnya. Lebih dari itu, perairan Indonesia sebenarnya menyimpan energi terbarukan yang antipolusi, ramah lingkungan, dan awet sepanjang masa. Sayangnya, potensi itu belum digarap serius. Mendayagunakan energi dari laut Indonesia memang sebenarnya sudah lama tercetus.

Dari beberapa seminar ilmiah pun kerap dibahas para pakar. Tetapi entah kenapa, ide itu timbul dan tenggelam. Hingga kini, kita belum melihat satu pun dari ide itu yang terwujud. Lihat saja upaya Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Sejak pertengahan 1990-an, BPPT bekerja sama dengan Norwegia mengkaji teknologi energi gelombang sistem Tappered Channel (Tapchan) untuk pembangkit listrik. Karena krisis ekonomi yang berkepanjangan ditambah dengan berbagai alasan teknis lainnya, proyek yang menurut rencana berada di Pantai Baron, Yogyakarta, itu tidak kunjung terwujud.

Padahal, pantai Baron berpotensi menghasilkan listrik hingga 1,1 megawatt. Di Norwegia, sistem Tapchan telah terbukti mampu menuai energi listrik. Sebenarnya mekanisme kerjanya sederhana. Teknologi ini dirancang untuk menampung empasan air laut yang menerjang pantai ke dalam suatu kolam reservoir. Kolam itu berada sekitar dua meter di atas permukaan laut. Air di dalam reservoir kemudian dialirkan ke sebuah dam dan dipakai untuk memutar turbin pembangkit listrik.

Dengan demikian, selama masih ada air laut di dalam kolam reservoir, listrik akan terus mengalir. Jadi, kuncinya terletak pada kondisi geografi berupa pantai terjal plus ombak yang memiliki ketinggian rata-rata minimal dua meter. "Tampaknya, wilayah pantai Indonesia yang menghadap Samudera Hindia cocok untuk sistem Tapchan," kata Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi BPPT Dr Subagjo Imam Bakri. Ia mengatakan, pembangkit listrik Tapchan yang pertama diharapkan segera dibangun di pantai Baron dengan kapasitas terpasang 1,1 MW.

Mampukah Menneg Ristek Hatta Rajasa mewujudkan harapan itu? "Mighty Whale" Terlepas dari itu, potensi energi gelombang laut juga sedang dikaji Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) dengan Japan Marine Science & Technology Center (Jamstec). Mereka mengkaji pembangkit listrik tenaga gelombang jenis Mighty Whale alias si ikan paus. Sistem konstruksinya menyerupai ikan paus, berbentuk bangunan terapung dengan panjang 50 meter, lebar 30 meter, dan tinggi 12 meter. Di dalam bangunan terapung itu, dijumpai dinamo pembangkit listrik yang mampu menghasilkan listrik sampai 60 kW. Bangunan si ikan paus itu diapungkan pada jarak sekitar 1 kilometer dari pantai dengan kedalaman 30 meter.

Dengan begitu, 8 meter bangunan itu masuk ke air, sedangkan sisanya (4 meter) muncul di permukaan air laut. Pergerakan gelombang laut yang masuk masuk ke "mulut" ikan paus tadi lalu menekan dan memutar baling-baling dinamo listrik. Dari sanalah listrik diproduksi. "Si ikan paus ini cocok ditempatkan di sebuah teluk, sekaligus berfungsi sebagai penahan ombak.

Dengan demikian, perairan yang berada di belakang konstruksi ini bisa dipakai untuk budi daya keramba jaring apung, diving, atau wisata bahari lainnya," kata Kepala Pusat Riset Teknologi Kelautan BRKP Dr Hartanta Tarigan. BRKP sebenarnya sudah mendapatkan satu unit Mighty Whale secara gratis dari Jamstec untuk dipasang di Indonesia. Persoalannya, mengangkut bangunan berukuran 30 x 50 meter dari Jepang ke Indonesia itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Kincir Air Upaya membangkitkan listrik dari laut bukan hanya berhenti di situ. BRKP juga menjalin kerja sama dengan Marine Current Turbines Inggris untk mengkaji sistem kincir air, suatu pembangkit listrik energi gelombang hasil putaran baling-baling yang dibenamkan di dalam laut. Menurut Hartanta, kincir air itu lebih efisien ketimbang kincir angin yang dipasang di darat. Kincir air hanya membutuhkan seperempat luas wilayah dibandingkan yang diperlukan kincir angin. Kincir air juga tidak membuat telinga menjadi bising sebagaimana halnya kincir angin. Saat ini, satu unit kincir air bisa memproduksi sekitar 300 kW listrik.

Alat itu bisa dipasang di pantai berkedalaman 20-35 meter dengan kecepatan arus rata-rata 4-5 knots. "Dilihat dari kondisi yang ada, sebenarnya banyak wilayah pantai Indonesia yang sesuai untuk penempatan kincir air," ujar Hartanta. Untuk itulah, kata dia, pihaknya sedang mencari mitra (pemda) guna mengembangkan sistem kincir air ini dalam bentuk prototipe. Sesuai dengan otonomi daerah, maka semua itu diserahkan sepenuhnya kepada inisiatif pemda.

Dari uraian tersebut, jelaslah bahwa pilihan teknologi energi gelombang laut yang tersedia cukup beragam. Tenaga ahli domestiknya pun siap. Lalu, kapan lagi kita bisa menuai energi dengan cara-cara yang ramah lingkungan secara serius? Sebagai benua maritim, sudah sangat wajar kalau penguasa negeri ini punya orientasi memprioritaskan keunggulan komparatifnya. Sayangnya, selama ini potensi sumber daya laut khas Indonesia semacam itu sepertinya disia-siakan. (Pembaruan/Budiman)

 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Product



Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook